Aku mengejar Djima. Dia sudah siap masuk ke dalam mobil dan entah apa yang ada di pikiran dia sekarang.
Aku tidak tau apa yang harus aku lakukan. Tapi yang jelas menghentikan seorang Djima adalah hal yang paling utama.
“Stop!”
Aku tertinggal.
Dia masuk ke mobil dan langsung mengeluarkan mobil dengan cepat. Tanpa pikir panjang aku berdiri menghalangi mobil.
Di bawah guyuran hujan.
Aku bisa melihat matanya dari rambutku yang basah. Dia sudah siap melewati batas kemurkaan dari masa lalunya.
Aku membentangkan tangan. Berharap cara ini bisa berhasil.
“Jangan pergi! kalau kamu memang benci sama mereka, nggak apa-apa. Hapus mereka dari hidup kamu! tapi jangan pergi, jangan biarin mereka lukain kamu lagi!”
Mobil tidak bergerak.
Aku juga tidak pindah dari tempat aku berdiri. Aku tidak akan membiarkan siapapun membuat Djima menyesal di saat dia sedang tidak baik-baik saja.
Lalu, dia keluar.
Matanya seperti kembali seperti semula.
Aku tau aku sedang melihat Djima yang semula.
Aku memeluknya. “Kamu bakal baik-baik aja, Djima.”
Dia lalu memelukku. Kami tidak beranjak selama beberapa menit.
Setelah itu kami kembali ke dalam rumah. Dalam keadaan basah kuyup.
“Kamu mau teh?” tanya Djima setelah kami tidak berbicara cukup lama.
Aku mendengar kehangatan itu lagi. “Boleh.”
Dia tersenyum dari dapur. “Mau pizza?”
Aku tau Djima berusaha kembali ke topik normal. “Boleh juga, jangan bilang kamu mau masak yang lain lagi?”
“Spagetthi carbonara?” tanya dia.
“Kamu punya?”
“Kita punya banyak waktu. Kamu harus balik sebelum jam sembilan kan?”
Aku mengangguk sedih. Entah merasa khawatir dia harus sendirian di sini. Tanpa Djima tau, aku mengirim pesan meminta Arman buat menginap di rumah Djima.
Entah pria tampan satu ini akan menerima atau menolaknya.
Aku membantunya sedikit. Aku tidak pandai memasak sama sekali. Menyedihkan. Aku tidak bisa menjadi istri yang sempurna nanti…
Itupun jika aku menikah…
Kami duduk ditemani lebatnya hujan. Aku terpaksa memakai kaus Djima saat makan.
Djima, pria baik satu ini, membantu aku mengeringkan rambutku dengan handuk. “Kamu makan aja dulu, aku bakal pastiin rambut ini bakal kering dulu.”
Bagaimana aku bisa tidak jatuh cinta?