Embun Sendu dimatamu

Iris-Avery-Marbella
Chapter #48

#48 - Pelipur Lara


Pergi untuk selamanya adalah salah satu kata yang paling tidak bisa aku terima. Kenapa? karena itu adalah hal yang sangat menyakitkan. Seperti sekarang, Raka telah pergi hingga aku merasa hampa.

Kata yang tepat adalah kosong.

Seperti cangkir kosong tanpa isi.

Kami bertiga akhirnya sepakat untuk bertemu dan menghabiskan waktu dengan Papa lagi. Pergi ke safari lagi tapi dengan perasaan yang berbeda.

Misya tidak ingin duduk bersebelahan dengan Papa. Akhirnya aku yang duduk di depan.

Raka mungkin berharap ini akan menjadi awal yang baik buat kami. Tapi entahlah, aku tidak yakin.

Kami menghabiskan waktu berkeliling dalam diam. Meskipun sesekali Papa bertanya pada kami semua tentang kondisi kami sekarang.

Pertanyaan yang harusnya dilakukan sejak dulu.

“Kamu sekarang kerja di gym si petinju itu, Sy?” tanya Papa sambil membawa mobil di belakang antrian.

Aku merasa ingin membela Djima. “Kerjaan di sana aman kok. Sisy juga nggak pernah balik malem.”

Sisy mendesah. “Kalau Papa nggak suka, mendingan kita nggak usah ketemu lagi.”

Dahi Papa mengernyit. Papa diam seribu bahasa.

“Gimana kamu Misya?” tanya Papa beralih ke orang paling diam di mobil.

Aku dan Sisy menunggu Misya ‘meledak’ tapi untungnya adikku satu itu bisa menahan diri.

“Biasa. Nggak bisa ngalahin Bagas pastinya.”

Jawaban ketus sekaligus menyindir. Harusnya Oma ada di sini.

Seperti biasa aku menyapa jerapah kesayanganku dan memberinya makan. Tapi pikiranku sedikit gelisah, sejak pagi aku belum mendengar kabar dari Djima.

Tapi Arman memberitahu semuanya aman-aman saja. Tapi dia menyarankan supaya aku baru bertemu dengan Djima besok.

Entah apa maksudnya…

“Kamu sudah denger soal laki-laki itu? dia sudah keluar dari penjara,” kata Papa di sampingku.

Tanganku berhenti. “Aku tau. Dia harusnya nggak keluar. Bisa-bisanya orang kaya gitu dibiarin keluar.”

“Kamu harus hati-hati, jangan keluar malam-malam,” ujar Papa.

Untuk pertama kalinya ada pernyataan bijak seperti itu keluar dari mulut Papa.

Setelah selesai dan melihat jerapah pergi, kami pergi ke resto dan makan sebentar.

Aku memakai masker selama di kerumunan supaya tidak ada yang mengenali.

Papa memesan semua makanan yang kami suka. Anehnya, dia masih mengingat semuanya dengan jelas.

Kami bertiga harus melewati hari ini tanpa bertengkar. Setidaknya, adik kami bisa mendapatkan impiannya terwujud. Meskipun aku tidak tau di mana arah hubungan kami semua.

Tidak lupa aku membelikan berbagai boneka untuk semua siswa di taman kanak-kanak.

Lalu kami semua pulang di bawah guyuran hujan lagi.

“Papa tau kalian semua benci sama Papa,” ujar Papa saat hampir sampai ke rumah.

Misya mendesah panjang. Dia sangat setuju perkataan itu.

Lihat selengkapnya