Embun Sendu dimatamu

Iris-Avery-Marbella
Chapter #49

#49 - I will always love you


Omar melihat kami berdua. Dia memiringkan kepala seakan menimbang apa yang bakal dia lakukan.

Mengambil kesempatan itu meskipun tenggorokanku terasa tercekik, aku menarik Renata dengan cepat. Mengambil celah yang ada di sekitar kami untuk terlepas dari pandangannya.

Tapi itu hanya beberapa detik saja. Omar menarik rambutku hingga aku tidak bisa bergerak.

“Lari, Ta! Lari!” teriakku pada Renata yang sudah menangis melihatku.

“Lari!” teriakku sekali lagi.

Renata berlari dengan kaki kecilnya. Sementara aku berusaha melepaskan tangan Omar. Aku benci memegang tangan kasarnya, tapi apalagi yang mesti aku perbuat?

“Kamu sudah bahagia sekaran? setelah kamu sama keluarga kamu bohong? setelah kalian sengaja bikin kami semua masuk penjara?”

Dia mencekikku.

Aku benci di lebih kuat dariku!

Mataku sudah terasa panas. Air mata sudah keluar.

Omar tertawa. Dia sangat puas. “Aku pikir kamu sudah lari, tinggal di tempat lain. Kamu bikin kami semua kelaparan di penjara!”

Dia mencekikku lebih kencang.

Aku tau ini kukunya sudah menusuk kulitku sangat dalam. Aku tidak akan bertahan lebih lama lagi…

Tapi dia ternyata melepaskan tangannya. Membuat aku terjatuh ke lantai dengan suara hantaman keras.

Bukan cuman leherku, tapi kakiku sudah jelas jatuh dengan posisi yang salah.

Aku memegang leherku. Darah. Aku melihat di tanganku.

Omar ternyata mencari sesuatu. Dia mencari…

Balok kayu!

Dia menemukannya!

Aku merangkak dari situ. Merangkak di lantai yang penuh debu dengan ketakutan yang tidak bisa aku jabarkan.

Aku benci menjadi lemah di depannya!

Omar membenturkan kayu di dinding.

Prak. Prak. Prak.

Dia menikmati perasaan ketakutanku yang hanya bisa merangkak menjauh dari dia.

Kakiku yang sakit membuat aku sulit berdiri.

Aku melihat pintu. Aku merasa terlalu jauh.

Lalu aku merasakannya, dia memukul punggungku. Aku terjatuh tidak bisa lagi bergerak karena rasa sakit yang terlalu besar.

Ini seperti mengulang memori yang memilukan itu.

Omar sambil tersenyum sudah siap melayangkan pukulan berikutnya tapi…

Badannya terdorong dan dipukul dari samping.

Mataku yang sembab melihat ada yang datang.

Djima.

Dia ada di sini!

Djima!

Djima tidak membiarkan Omar untuk membuat satu pukulan pun. Dia mengambil alih siapa yang lebih kuat diantara mereka berdua. Djima bahkan menahan kedua tangan Omar dengan hanya satu tangannya saja.

Lihat selengkapnya