Djima menghilang lagi. Tidak ada gunanya bertengkar dengan dia karena masalah ini. Djima juga punya kepanikan di dalam dirinya yang aku coba untuk pahami.
Dokter Mira juga memberikan aku nasehat saat datang berkunjung tadi pagi.
Berikan dia waktu. Dia hanya merasa nggak bisa mengontrol diri dia karena kejadian kemarin. Dia takut, bener-bener takut kalau dia bakal ngelukain kamu.
Ternyata dia takut dengan keselamatan aku karena merasa ‘perisai’ yang dia bangun selama ini runtuh.
Sementara aku berdiri di depan jendela kamar rumah sakit tapi otakku memikirkan keselamatan hati dan mentalnya.
Dia masih tidak percaya dengan dirinya sendiri.
Misya memegang tanganku. “Kak, perawat datang buat kasih obat baru.”
Perawat datang dengan obat yang sama. Untuk leherku. Aku mengambil cermin kecil dan melihat bagaimana bekas jari Omar masih terpampang jelas.
“Kamu boleh minum obat penghilang rasa sakit lagi, Clara,” ujar perawat sambil mulai mengoles di bagian yang masih merah. “karena rasanya pasti masih perih.”
Aku menutup mataku tapi hanya wajah Omar yang membara yang aku ingat. Aku membuka mataku lagi untuk menghempaskannya.
“Gimana lutut sama kaki Kakak saya?”
Aku melihat lututku yang biru. “Ini bakal lama hilang.”
Misya juga ikut frustrasi. “Kak, Omar sudah nggak bisa banding di persidangan. Aku dapet kabar dari Sisy.”
Entah apa aku percaya ini adalah akhir dari segalanya…
Jika aku sampai bertemu dia lagi…
Misya memelukku dari samping. “Tenang aja Kak, kali ini dia sudah pasti nggak bisa punya alasan untuk keluar. Saksi ada lebih dari satu orang.”
Termasuk Djima.
Perawat membalut lagi kaki, lutut dan leherku dengan kasa baru. Mama dan Sisy setelah itu datang menggantikan Misya.
Mereka membawa banyak makanan enak dari rumah.
“Ayo Kak, ada buah juga dari Kakek, nanti sore Paman sama Kakek bakal datang.”
Mama tidak banyak bicara. Mama hanya duduk di sebelahku sambil membantu menyisir rambutku.
Entah berapa lama aku melamun, akhirnya aku tersadar Mama sedang menangis.
“Ma,” panggilku. “kenapa Mama nangis?”
Mama menggeleng. Menghapus air matanya dengan cepat. “Maafin kita semua karena nggak bisa jagain kamu.”
Aku menggeleng. Semua orang menyalahkan diri mereka sendiri. “Nggak ada yang tau dia bakal datang ke sekolah. Lagian yang terpenting Renata aman. Itu yang terpenting.”
“Kakak juga sama pentingnya,” tegur Sisy. “masalah Renata, Mamanya mau datang jenguk Kakak tapi kemarin Kakak lagi istirahat.”
“Selama Kakak minum obat dari Dokter, kayanya tidurnya lebih lama dari biasanya.”