Seminggu setelah itu Dokter Mira datang ke rumah. Dengan membawa tas besarnya, Dokter membuka sesi konsultasi pribadi yang sebenarnya aku tolak.
Hanya ada kami berdua dan Dokter Mira tau apa yang ada dipikiranku.
Tapi aku tidak menyangka Dokter akan memelukku sebelum memulai percakapan.
Dia menepuk punggungku. “Kamu baik-baik aja, Lara. Kamu udah ngelewatin semuanya. Sekarang jangan pikirin lagi masa lalu.”
Aku berharap kali ini benar-benar semuanya sudah selesai.
Dokter menyalakan alat aromaterapi. Seketika kamar menjadi lebih nyaman dan tenang.
“Gimana luka kamu?”
Aku melihat lutut dan kakiku yang lebam berwarna kuning. “Lumayan, lumayan bikin aku nggak bisa keluar rumah.”
“Pelan-pelan, Lara. Semuanya bakal hilang kok. Tenang aja. Sekarang, saya denger kamu mau ke Skotlandia?”
Dasar Sisy, nggak bisa jaga mulut.
“Iya, nggak ada salahnya kan?”
Dokter Mira merasa lega. “Nggak masalah sama sekali, justru itu yang kamu butuhin. Jangan khawatir sama yang ada di sini. Semuanya baik-baik aja.”
“Kecuali Djima.”
Dokter Mira tersenyum simpatik. “Ya, kecuali Djima. Dia juga nggak datang konsultasi. Kalian berdua bikin saya nggak bisa tidur.”
“Dia juga nggak datang?”
“Harusnya dia datang dua hari lalu tapi nggak ada kabar sama sekali.”
Aku ingin ke rumahnya tapi aku tau di kondisi seperti itu lebih baik dia menenangkan dirinya sendiri.
“Dia selalu minta Arman ke rumah sakit atau rumah, mastiin kondisi aku. Tapi dia nggak pernah keliatan.”
Dokter Mira mengangguk. Dia juga sangat serius dengan topik ini. “Seperti yang saya dulu pernah bilang, Djima itu punya masalah dengan keluarganya dan ketakutan kalau kepribadian dia bakal bikin orang disekitarnya terluka.”
“Tapi dia nggak ngelakuin apa-apa Dok, dia nyelametin aku.”
“Saya ngerti. Tapi poinnya di sini, Djima ngerasa sudah ngelewatin batas normal yang biasa dia jaga. Memakai kekerasan di luar arena profesi dia dan secara nggak langsung jika dia nggak punya kontrol, dia bisa aja ngelukain orang lain. Untungnya itu nggak kejadian.”
“Aku percaya dia. Percaya Djima.”
Dokter Mira tersenyum dengan penuh makna. “Ini kontras sekali dengan pertama kali kalian ketemu. Kamu nggak lupa kan dulu kamu benci banget sama Djima Aldiraja?”
Aku menarik napas dan menghembuskannya pelan. Lalu memandang ke arah lain karena merasa sudah mencintai orang yang aku benci dulu.
“Kasih dia waktu untuk pelan-pelan percaya sama diri dia sendiri. Ketemu sama penjahat yang ngelukain kamu sudah ngebuat Djima melanggar batasan dia sendiri. Dia nggak nyesal sama sekali. Tapi dia takut kalau kontrolnya belum balik kaya dulu lagi.”
“Aku tau.”
Aku sadar tanpa Dokter memberitahu.
“Kalau gitu kita sampai ke topik yang lebih bikin kamu bahagia, kamu bakal ke mana aja di Skotlandia?”
***
Kami bertiga membuat tenda di kamar Misya. Seperti saat kami kecil, menyalakan lampu, dan membawa makanan ke dalam tenda.
“Bisa-bisanya kita masih main tenda kaya anak kecil, Sisy emang nggak pernah dewasa,” keluh Misya.
Aku meneguk es kopi dan berharap tidak tidur malam ini. Lagipula bagaimana bisa tidur? kalau wajah Djima selalu terpampang jelas saat sadar maupun tidak sadar.