Semalaman aku tidak bisa tidur. Aku tidak bisa menutup mata sama sekali.
Setengah alasannya karena kopi latte yang aku minum tapi setengahnya karena aku menebak apa arti pesan Djima.
Aku tidak membalasnya karena takut terlalu berharap.
Alhasil aku baru bisa tidur jam tiga pagi!
Djima…laki-laki yang membuat hidupku berubah.
Saat sarapan di café dekat hotel, Selina melihat mataku.
“Kak kenapa matanya? kurang tidur ya?”
Tidak salah lagi. Semua gara-gara pria bernama Djima Aldiraja. “Iya, kayanya bakal ngantuk banget hari ini.”
“Kakak mau ke mana aja hari ini, oh ya aku ada urusan ke kampus bentar hari ini, mungkin beberapa jam. Kakak nggak apa-apa nungguin aku?”
Aku menggeleng. “Nggak apa-apa, Lin, kamu ke kampus aja, Kakak bakal jalan-jalan ke kastil dulu hari ini. Nggak apa-apa sendirian.”
Bahasa inggrisku memang tidak bagus tapi untuk bertahan sehari-hari, tidak masalah.
Kastil Edinburgh penuh hari ini. Semua orang dari seluruh dunia datang berkunjung. Menyusuri dinding-dinding bersejarah yang berdiri begitu indahnya di kota ini.
Aku bertanya-tanya dalam hatiku…
Bagaimana orang-orang di kastil ini dulunya hidup…
“Permisi,” kata seseorang di belakangku saat berusaha mengambil foto terbaik dari kastil.
Suara pria. Anehnya suara itu sangat amat tidak asing.
“Apa boleh kita foto bareng?”
Oh…
Aku sudah gila! suaranya terdengar seperti suara Djima!
Aku tidak berani berbalik. Hanya bisa menunduk dan melihat kamera yang aku pegang.
“Claranisa, kamu udah lupa sama aku?”
Tanganku bergetar.
Dengan keberanian tinggi aku berbalik.
Mataku tidak salah melihat. Tidak mungkin salah lihat.
Djima berdiri dengan pakaian dinginnya. Wajahnya lebih tirus.
Senyumannya sama seperti apa yang selalu aku ingat selama ini.
Aku sangat rindu padanya.
Tapi aku tidak bisa bergerak sama sekali.
Takut jika aku memeluknya, ini hanya akan membuka harapan yang bisa saja hanya sekedar ‘menyapa’ aku saja.
Djima mendekat. Wajah kami sekarang berdekatan. Tangannya menyentuh pipiku. “Apa kabar cantik? maaf kalau aku telat. Telat buat semuanya.”
Apa aku membenci dia?
Tidak. Aku tidak bisa membenci dia.
Dia terlalu baik untuk dibenci.
Dia menjauh tapi selalu ada melalui orang-orang di sekitarku. Aku tau itu.
Dia selalu memperhatikanku dari jauh.
“Kapan kamu…kamu sampe?” tanyaku pelan.
Tangannya tidak meninggalkanku sama sekali. “Kemarin malem. Pas aku chat kamu dan kamu nggak bales.”
Aku menahan diri untuk tidak memeluknya. “Kamu udah nggak kasih kabar lama, wajar kalau aku nggak yakin kamu bener-bener mau ngasih kabar.”
“Apa aku boleh meluk kamu?” tanya Djima.
Lagi-lagi aku seperti nostalgia. Djima yang penuh pengertian yang selalu aku kenal. Tapi entah kenapa aku merasa harus menahan diri. “Aku nggak kedinginan kok.”
Djima tertawa renyah. Dia mengusap wajahnya. Aku menahan tawaku. Dia pasti sadar menghadapi Clara versi awal kita bertemu.