Empat Sekawan

Wakadana
Chapter #1

Arc 1: Chapter 1 - Scene 1

Hai hai di sini Rido sebagai pemandu penghuni rumah kontrakan yang tinggal terlebih dahulu, pertama kali aku berada di sini untuk mencari tempat yang nyaman sekiranya murah dalam satu tahun dibandingkan ngekos. Rumah ini cukup besar ada dua lantai yang kamarnya terdiri empat ruangan pribadi di bawah dan dua kamar di lantai atas, lalu satu gudang deket tangga, satu dapur, satu kamar mandi di lantai bawah juga. Ruang tamu dan keluarga digabung, beginilah denahnya. Tetapi, rumah yang besar dan murah tempatnya kosong lompong gak ada isinya, tempat tidur aja gak di sediakan hanya sebatas satu meja makan yang ada.

Aku berusia 16 tahun yang duduk di kelas dua SMA jurusan IPS, kemampuan berpikirku yang pas-pas-an tak paham sama sekali dengan aritmatika yang rumit, aljabar dan sebagainya, menurut ku itu tidak penting sama sekali di kehidupan sehari-hari ku di masa depan mendatang.

Sekolahan ku cukup tersohor walaupun di posisi kedua, masih dibilang cukup gengsi. Karena SMA-nya dilihat dari luar cukup elegan dan luas, dalamnya tak kalah menarik.

Aku mempromosikan rumah kontrakan yang kutinggal untuk meringankan beban biayanya dibagi untuk enam orang, ditanggung diri sendiri dah memakan dua juta, itu sudah dibilang paling murah. Makanya aku mencari tambahan orang dari yang dekat terlebih dahulu yaitu teman sekelasku, pertama kali aku merekrut adalah perempuan.

Yah, beneran perempuan. Aku tak mengiranya ia tak mempermasalahkan tinggal satu atap dengan laki-laki, asalkan ia bisa mendapatkan kamar lantai dua, itu sudah cukup baginya.

Yang kedua dan ketiga adalah laki-laki, aku senang ada teman bicara yang satu jurusan. Terlebih lagi satu kelas dengan ku, tetapi mereka tak banyak berbicara sepertiku sampai hubungan kami dalam satu tahun ini. Masih dalam tahap pertemanan bukan persahabatan. Aku sudah mulai mengetahui kebiasaan-kebiasaan mereka, terutama saat sedang makan malam bersama.

"Makanan sudah siap, kalian cepat keluar dari kamar nanti keburu dingin." Dia adalah perempuan yang barusan kusebutkan namanya adalah Linda, Linda Maharani. Ia merupakan orang asli suku pedalaman Dayak, tetapi orang tuanya memilih pergi keluar dari desa asalnya untuk melihat dunia modern, perihal agama maupun kepercayaan merupakan hal yang privasi dan sangat sensitif bila berbicara topik tersebut kepadanya.

"Mana ada makanan bisa langsung dingin, rumah ini tak memiliki AC sama sekali. Apalagi di luar sama di dalam temperaturnya gak ada perubahan, kenapa gak ada lubang ventilasi sih?" Laki-laki yang barusan mengeluh adalah Yuda, Yuda Ibrani. Keturunannya dulu adalah orang yahudi yang memegang paham semi Ateisme. Perawakannya memang sedikit putih bersih seperti Linda yang memiliki kulit cerah, mukanya bisa dibilang cukup ganteng.

Ini adalah negara beragama sebagai kedoknya, ia menganut paham Kristen Protestan. Ia tak banyak bicara soal keluarganya malahan terus menghindari dengan cara berdiam saja, atau memang masih belum terbuka kepada kita yang ada di sini. Yuda merupakan laki-laki yang misterius bagiku, meskipun kami berteman dekat. Aku belum mengetahui banyak hal tentangnya.

"Masakan hari ini apa?" tanyaku.

Lihat selengkapnya