Empat Sekawan

Wakadana
Chapter #6

Chapter 2 - Scene 2

"Kalian berempat lagi kah?" Melihat wajah kami sudah muak mungkin, guru BK tersebut.Tetap berdiri di dalam ruangan tak diizinkan untuk duduk. Yuda dengan santainya masih bisa menguap, Budi terlihat cuek, Linda gemetaran kalau dimarahi lagi dan aku harus menerima konsekuensi nya.

"Kenapa kalian berempat bisa terlambat?"

"Bapak sudah tau tempat tinggal kami ada di mana, agak sedikit jauh dari sekolah. Karena harga biaya kosan sekitar sekolah cukup mahal untuk per-orangan," jawab santai Yuda. Yang terlihat seperti pemimpin kami.

"Kenapa gak tinggal di sekitar kosan atau wisma sekolah? Orang tua kalian yang membiayai nya kan?" tanya guru BK.

"Pertama sudah penuh penuh di dekat area sekolah, meskipun agak jauhan biayanya tetap mahal dan bayaran nya sama. Alasan kedua kebutuhan pribadi, meskipun pak guru sudah tau latar belakang kita semua. Ada yang sebagian tidak memiliki orang tua, meskipun bisa tinggal di rumah wali masing-masing siswa. Tetap saja jauh dan membutuhkan modal," jelas Yuda.

"Terus, kalian tetap gak mau pindah dari rumah kontrakan yang bobrok dan tua tersebut?"

Bobrok dan Tua yang dimaksudkan guru BK memang benar. Meskipun terlihat gak aman, jika ada goyangan gempa sedikit, pasti langsung rubuh.

Lantai dua yang ditempati Linda, sebagian atapnya ada yang berlubang dan bocor. Jika hujan, pasti akan langsung tidur di kamar lantai bawah yang masih kosong satu, belum ditempati.

"Demi efisiensi pengeluaran, tinggal di kota secara mandiri itu sangat sulit. Sekalipun itu untuk orang dewasa," ucapan Yuda ada benarnya dan terdengar logis.

"Kalian bertiga, kenapa diam saja?" ucapnya dengan nada menekan.

"Pak Guru, sudah sering mendengarkan alasan kita beberapa kali. Apakah harus dijelaskan lagi?" ucap Budi.

"Benar. Kamu siswa berprestasi dan mendapatkan beasiswa sepertinya, berpikirlah secara logika. Mana yang jauh lebih diutamakan?"

"Pak Guru sudah tau, soal jawaban yang akan keluar dari mulut ku," dalih Budi.

"Setiap manusia setiap harinya pola pikirnya pasti akan cepat berubah mengikuti lingkungan sekitar. Bukankah waktu jauh lebih penting, dari pada biaya yang gak seberapa tinggal di kosan cukup jauh dari sekolah kan?"

Ia memberikan selembaran kertas berupa foto dan biaya, kost-kostan yang belum penuh. Niat amat beliau satu ini, dalam benak pikiran ku.

"Pihak sekolah sudah menyiapkan hal ini dengan matang, kalian gak perlu terlambat lagi."

Pasti bertanya langsung ke pemilik kos yang tercantum kan nomor ponselnya, lalu dihubungi atas pihak wewenang sekolah.

"Aah ... Pak Guru," panggil Linda. Beliau menoleh ke arahnya.

"Ini adalah kesalahan ku dan lalai, soal membangunkan mereka. Semalam, kami belajar cukup keras untuk menghadapi Ujian tengah semester satu bulan lagi. Aku sama Rido, berasal dari luar pulau sini. Cukup kesusahan mengikuti pembelajaran di kelas, karena masih beradaptasi soal bahasa keseharian orang di kota. Dibandingkan mereka berdua yang asli dari pulau ini yang telah tinggal di perkotaan."

Lihat selengkapnya