Di pelajaran kedua yang merupakan matematika lanjut, perilaku Budi sama Yuda tidak ada perubahan, gak menunjukkan rasa hormat sama sekali.Mereka berdiri di depan kelas, tidak diperbolehkan bermain gawainya masing-masing. Tetap aja ada celah nya, Budi bersandaran dipunggung Yuda. Ia pun sama, gak boleh mepet sama tembok, mereka secara sengaja gak memperhatikan.
Pertanyaan sesulit apapun, bisa mereka jawab cukup mudah. Karena mereka sudah memilki mental aritmatika, termasuk pertanyaan beda jurusan yang tak ada di buku paket sedang kami pegang. Apakah matematika memilki huruf? Sama simbol? Kukira angka saja.
"Bu Guru, itu pertanyaan seharusnya untuk kelas tiga jurusan IPA. Para murid gak paham soal pertanyaan tersebut," ujar Yuda.
"Kalian bisa menyelesaikan nya atau tidak?" ucap guru matematika yang gak suka sama sikap mereka. Dengan soal yang bertuliskan begini, ...
"Itu tantangan buat kami?" Yuda menyenggol Budi yang sedang bersandar di punggungnya, ia melihat ke papan tulis.
"Bu guru, aku tidak bisa menyelesaikan, Yuda pasti bisa," ucap Budi sambil mengangkat tangan dan membelakangi nya.
"Merendah sekali kau ini Bud ...," Yuda membisikkan sesuatu padanya. Dia berjalan mendekati papan tulis dan mengambil kapurnya. Secara perlahan dijawab, menulis cukup rapih. "Apakah ini sudah cukup?"
Bu guru yang menyaksikan jawaban tersebut, apakah itu benar atau tidak. Karena beliau belum menyelesaikan pertanyaan yang ia berikan sendiri masih mencoba menghitungnya.
Yuda memberikan kapur kepada Budi, ia menjawab kelanjutannya dengan metode yang berbeda namun hasil jawaban nya tetap sama. Akan tetapi caranya Budi jauh lebih panjang dan lama, seluruh papan tulis semuanya tertutup sama jawaban nya yang begitu kompleks.
"Kau malah memakai metode matematika komputasi." Yuda menghitung kembali dengan metode yang berbeda hasilnya tetap sama, "Pakai rumus praktis menghilang integral sama variabel nya dengan cara luas daerah antara parabola jauh lebih gampang."
"Kau hanya malas berpikir saja," Budi membalasnya dengan metode jauh lebih simpel lagi. "Dengan metode tabel seharusnya sudah cukup," jelasnya.
"Kau sedang pamer kah?"
Budi hanya bisa tersenyum gak membalasnya.
Mereka kembali berdiri di depan kelas, tak terlihat sedang dipermalukan. Bu Guru malah merajuk ke mereka berdua.
"Seharusnya kalian mengambil beasiswa jurusan IPA. Bukan jurusan IPS. Apakah kalian gak peduli masa depan sendiri, tidak ingin menjadi kebanggaan orang tua?"
"Bu Guru, di dunia nyata sama di dunia game, kami bisa bebas memilih. Anggap saja aku sama Budi mengambil tingkat kesulitan normal. Jurusan IPS kebanyakan memakai hafalan sama ingatan, bukan pemahaman seperti jurusan IPA," sergah Yuda.
"Apakah Bu Guru sudah menyelesaikan persamaan dengan cara metode ku?" ucap Budi yang seolah sedang merendahkan nya.
"Palingan memakai artificial untuk mendapatkan jawabannya," ujar Yuda terkesan sedang mengejeknya.
"Apa masalah nya memanfaatkan nya, itu bukan jadi alasan bahwa pengajar tersebut kompeten dalam ketergantungan teknologi," Budi menyinggung perasaan guru matematika secara tersirat.