Empat Sekawan

Wakadana
Chapter #11

Chapter 2 - Scene 7

Dalam perjalanan, aku disapa para siswa-siswi jurusan ku. Memang semenarik ini perawakan ku yang sama seperti Linda dari luar pulau Jawa. Tentang diriku akan ku ceritakan di kesempatan yang lain.Sampai lupa mengobrol sama siswa kelas lain, soal tadi pagi di kelas kami yang cukup heboh. Karena dinding nya gak kedap suara.

Mereka berdua selalu menjadi perbincangan topik yang hangat setiap harinya dan sampai menanyakan hubungan asrama, calon pasangan apalagi pacar dari mulut siswi yang tertarik dan sudah siap mau menembak.

Padahal aku sering aktif yang suka bergaul dengan mereka, kenapa Yuda sama Budi jadi primadona bagi cewek-cewek jurusan ku.

"Rido, bisa titipkan surat ini untuk Linda." Aku menerima saja dari siswa random, ia cukup terkenal dari tubuh kecilnya seperti toples kaca yang terlihat masih kosong.

"Ya." Memegang surat entah dari siapa tapi meninggalkan namanya sama kelasnya, selalu ku periksa pastinya berisikan curahan hati untuk Linda dari pandangan pertama.

"Lama sekali kamu kembali nya seperti siput. Sebentar lagi mau masuk, mana pesanan ku sama kembalian nya?" pinta Yuda. Lalu mengeluh soal air sama Roti yang tidak ia pesan.

"Itu buat Budi, jangan pelit begitu kepada teman mu sendiri," ucap Linda.

Ia memberikan ke Budi yang sedang duduk di kursi, Yuda meminum air agar-agar nya yang masih sibuk sama permainan yang ada di gawainya dan dimintai uang ke Linda sebagai ganti rugi.

"Kamu berani malak kepada ketua kelas mu sendiri?"

"Rido pasti akan membeli sesuai pesanan ku, Itu pasti dari bujukan mu," sangkal Yuda.

"Jangan berisik, aku sedang menikmati roti nya. Kalau kamu sungkan, akan ku kembalikan," ucap Budi.

"Gak perlu, itu sudah ada bekas gigitan mu. Nikmati saja," tapi tangannya belum turun meminta uang ke Linda.

"Uang mu sudah banyak, kenapa perhitungan sekali sih?" keluh Linda.

Yuda meletakkan gawainya dengan cara kebalik, ia mulai serius jika berbicara secara empat mata.

Lihat selengkapnya