Kedua siswi tersebut, mendengar teriakan Yuda sama Budi soal perolehan uang yang mereka dapatkan, terdengar biasa saja di kedua telinga mereka. Berarti dua siswi tersebut keluarganya berkecukupan."Omong-omong menurut kalian, tadi ada dua cewek cantik ke sini, menurut mu gimana?"
"Aku tak tahu, tidak memperhatikan nya cukup baik," jawab Budi.
Aku melihat Yuda menunggu jawabannya. "Ada satu, ia lebih dekat dari yang kita kira."
"Siapa itu?" tanyaku penasaran.
"Dia berada di dekat mu," ketusnya.
"Ada apa melihat ku?"
Oh … Ternyata si-Linda, bukan itu jawaban yang kuinginkan. Orangnya malah terlihat cuek juga dan fokus sama makanan nya.
"Pertanyaan ku mengacu cewek yang dari jurusan IPA."
Linda melihat ke arah mereka, dengan muka yang penasaran dan ingin tau apa yang dimaksud. Ia menjawab secara tidak langsung.
"Aku gak tahu, lagian kita jarang main kesana. Beberapa murid IPA sering memandang kita dengan rendah, yang berasal dari jurusan IPS. Meskipun kita mengakui sebagai siswa berprestasi, mata pelajaran kita tidak sebanyak dari jurusan IPA," jawab Yuda.
"Habis ini, kalian tertarik gak ikut ke sana," usulku.
"Kemana? Kemana?" girang Linda.
"Berkeliling melihat murid jurusan IPA sama kelasnya."
"Jalan-jalan setelah makan, tidak buruk juga. Aku juga ingin bersantai, pikiran ku cukup penat sama game dan tugas khusus nya."
Yuda sepertinya setuju, Budi hanya diam saja, karena memesan dua makanan sekaligus untuk balas dendam rasa laparnya. Ia kekenyangan malas buat berbicara, jadi aku anggap ia juga setuju.
Secara otomatis Linda setuju juga, ia pasti penasaran ingin menjelajahi area yang belum pernah di jamah.
Kami selesai makan siangnya tetapi gak mau bergerak terlebih dahulu untuk mencerna makanan nya turun ke usus.
Tiupan angin yang jatuh ke bawah terasa semilir sekali, bisa mengurangi rasa panas di sekitar kita. Andaikan saja kita duduk berada di kursi kantin yang sudah padat tersebut, pasti panasnya berdembetan dengan air keringatnya.
Aku membayangkannya saja sepertinya rasa jijik ku keluar. Linda menaruh piring dan mangkok kotornya ke nampan kayu, Yuda telah selesai bermain gamenya, ia menaruh kembali ke saku celananya.