Empat Sekawan

Wakadana
Chapter #17

Chapter 2 - Scene 13

Aku membawa mereka ke lingkungan para siswa/i jurusan IPA yang sudah dijanjikan, untuk menghabiskan sisa waktu istirahat kami masih ada 15 menit dan pergi dari kantin.Istirahat satu jam harus dimanfaatkan sebaik mungkin. Tidak untuk melihat kelas-kelas, waktunya gak akan cukup. Tujuan ku mencari siswi yang menabrak ku dan menemukan dia berada di lapangan upacara yang ada tempat duduknya di atasnya ditumbuhi tumbuhan merambat yang berbunga. Pandangan mata mereka Yuda dan Budi melihat secara cepat dan kembali fokus ke layar HP-nya masing-masing, mode seperti biasa sibuk sama gawainya, Yuda menunjukkan layar nya ke Linda. Aku meminta pendapat mereka tentangnya.

"Menurut kalian gimana?"

Ketiga teman ku melihat dari jarak cukup jauh, Yuda mengambil fotonya dengan hasil gambar yang cukup bagus.

Pasti kamera gawainya jauh lebih bagus dari milikku. Kami melihat bersama dan mereka mulai menilainya.

"Biasa saja," jawab langsung dari Yuda.

"Perempuan di mana-mana sudah jelas cantik," imbuh Linda.

"..." Budi no comment.

"Kalian setidaknya memperhatikan sedikit gimana wajahnya," tanyaku balik.

Aku meminjam gawainya Yuda dan mengambil fotonya lagi.

"Tidak perlu diambil dengan banyak foto nya, paling ujung-ujungnya yang kamu nilai dari lawan jenis hanya perawakannya saja seperti barusan," ketus Budi. Dia gak salah sih, aku tertarik pertama kali padanya karena pesonanya dan mengkhawatirkan ku.

"Dasar jones akut," ledek Yuda, ia ambil gawainya lagi.

"Kalian berdua sama aja masih jomblo seperti aku, jangan menghina begitu. Tolong kirimkan semua fotonya," balasku.

Yuda mengirimkan lewat aplikasi obrolan yang hasil gambarnya sudah dikompres. Aku minta lagi dalam bentuk ukuran aslinya.

"Kalau menurut kalian biasa saja, aku gimana?" tanya Linda pada kami.

"Di sini tidak ada meminta pendapat kepadamu," jawabku. Kita sedang membicarakannya, tetapi kedua temanku menanggapinya.

"Cewek yang satu kontrakan dengan kita sudah jelas jauh lebih cantik dibandingkan dengannya," jawab Yuda. Budi juga berada dipihak yang sama.

"Kalian pintar sekali memuji perempuan," Linda sepertinya mencoba memancing mereka. "Biasanya kalian sering memanggil dengan sebutan bocah." Akal bulus nya baru dikeluarkan untuk memancing cemoohan mereka.

"Kalau tidak begitu, kita gak dapat jatah makan malamnya." Yuda mengatakan yang sebenarnya dan mereka akan mulai ribut lagi.

Untuk mencegah hal itu terjadi, Aku mengeluh pada mereka, "Kalian tuh gimana sih? Kenapa jadi Linda yang dipuji sih."

Budi tanya balik kepadaku, "Sebenarnya, kamu sedang melihat siapa sih Do? Kukira kita sedang membicarakan Linda." Dia dari tadi tidak memperhatikan ku atau pura-pura gak peduli.

"Sejak kapan kita memulainya?" tanya Yuda.

"Sejak masih berada di bawah pohon, kamu belum menutup diskusinya, saat Linda bawa makanan sesuai pesanan kita," balas Budi.

Astaga jauh sekali topik pembicaraan mereka berdua ini, kukira kita dari tadi sudah berjalan cukup jauh meninggalkan dari kantin dengan jalan memutar. Mereka masih di tempat yang sama dalam topiknya. Padahal kita sudah berpindah tempat.

Aku menunjuk-nunjuk jarinya ke layar dan diperbesar sampai mereka paham, "Tadi barusan kamu mengambil gambarnya, ku kira sudah paham apa yang aku maksudkan."

"Aku sedang memfoto lingkungan dan suasana murid jurusan IPA sedang istirahat, gak secara sengaja ada siswi yang sedang kau maksudkan."

"Ku kira kamu sedang menilai murid di sini secara umum, jadi aku menjawab sesuai fakta. Siswi di sini memang cantik dan modis-modis," ucap Linda.

Aku melihat ke arah Budi, ia malah mengatakan. "Apa Do?" Seperti sedang memusuhi ku.

Aku menghela nafas gak bisa mengikuti pola kerja otak mereka—Aaah! Pusing ... Beneran.

"Terus, bagian mana yang membuat mu tertarik padanya?

"Perlihatkan foto nya, mungkin aku pernah bertemu dengannya." Yuda memberikan gawainya dan memperbesar gambarnya.

Lihat selengkapnya