Aku tiba-tiba terbengong mengingat omongan ku sendiri yang keceplosan seperti orang bego, malah menerima tantangan darinya untuk dikasih kerenggangan waktu cukup singkat.Tetapi mereka tak mau mendengarkan ku, Linda menyemangatiku secara kasar dari belakang bersama dua teman brengsek tersebut, "Tembak dia kalau bisa."
Sial—Mereka bertiga mulai mengejekku tak ada dukungan yang bersahabat di sini. Budi mendorong ku untuk segera pergi ke sana, aku serasa diusir dari geng.
Hah … Aku menghela nafas dan berjalan mendekatinya. Rani selaku siswi yang baru berkenalan dan berani menembak perasaannya.
Satu langkah otak ku bergerak begitu cepat mencoba mensimulasi gimana caranya bisa berteman dengan dia terlebih dahulu.
"Rido?" Ia memanggil ku sambil tersenyum dan memegang surat yang ditulis dari orang lain.
Manis sekali cewek ini, ia tidak memakai make up, cara berpakaian nya sesuai standar sekolah, roknya gak terlalu kependekan dan kecantikannya begitu natural.
"Y-Ya..." Aku malah grogi seperti demam panggung, otakku seketika langsung kosong gak memikirkan apa-apa. Mulutku terbata-bata sekali, akh bisa mendengar suara tawa mereka dari belakang untuk menertawai kecupuan ku.
"A-A ... hmm ..."
"Hmm? Ada apa?" Kedua tangannya ke belakang, tubuhnya dan berpose untuk memperlihatkan keimutan nya.
Aku balik dengan tangan kosong karena gak berani menyatakan perasaan ku padanya. Mungkin ia sudah berpacaran dengan cowok yang bernama Aska saat mendekati nya, dan ia lebih keren dari ku. Kemungkinan mereka berdua satu kelas.
Budi tepuk jidat, Linda menyeru ku dengan sebutan payah dan mereka telah menghampiri kita berdua.
"Sudah kuduga, kamu tidak bisa melakukannya, tingkat kesulitannya terlalu tinggi buat mu. Mungkin bisa memulai ke level dasar terlebih dahulu, berkenalan dengan anak-anak kecil mungkin." Aku merenungi perkataannya Yuda.
Ia menyimpan gawai nya yang siap memfoto momennya dan menghampiri siswi tersebut.
"Terima kasih telah datang ke sini. Surat yang kau pegang, bukan Rido yang menulisnya." Yuda mengatakan nya secara blak-blakan.
"Terus ini ditulis sama siapa?"
"Hmm ... Siapa ya—" ia sengaja menunda jawabannya. Dan tinggal pergi, seolah gak peduli.
Gak terlalu lama, Yuda seperti membawanya kemari. Dia sebenarnya menggunakan teknik apa sih? Aku harus belajar darinya cara menggaet cewek.
Kami bertiga diajak berkenalan dengannya. Cewek itu melihatku lagi, aku merasa malu sekali dengan keberanian ku yang telah menciut.
Linda dengan mudahnya langsung mengakrabkan diri dengannya, langsung meminta nomor kontaknya. Cewek itu mau melakukannya juga.
"Kalian berdua gak berkenalan?" ucap Linda.
"Apa untungnya berkenalan dengan nya," ujar Budi.
"Aku ke sini cuma melihat, Rido ditolak olehnya," jawab Yuda.
Kedua cowok kita bersikap jual mahal—sialan kalian berdua di dalam hati ku, gak berani mengungkapkannya.
"Kalau bisa, kita bisa bertukar kontak," siswi tersebut sudah bermurah hati dan bersabar menghadapi mereka berdua.
"Bertukar kontak?"