Empat Sekawan

Wakadana
Chapter #19

Chapter 2 - Scene 15

"Stoop! Bubar! Bubar! Perkelahian nya di sudahi," teriak Bu Airi."Kamu terlambat Hendra-sensei," ujar Yuda dengan nada yang begitu angkuh.

"Yang terlibat dalam perkelahian semuanya kumpul di lapangan. Jika ada salah satu yang pulang tanpa seizin ku, langsung ku beri surat peringatan," ucap pak Hendra.

"Kali ini kalian buat keributan apa?" ujar Bu Airi melihat Linda yang duduk di atas pangkuan nya Linda.

"Selamat sore Bu," ia menyapa dengan santai dan melambaikan tangan.

"Siapa yang bertanggung jawab di sini?" tanya pak Hendra dengan nada menekan.

"Aku. Jika Pak Guru mau meminta kejelasan, aku akan menceritakan kronologi nya dari awal."

"Bu Airi, tolong bawa Aska ke UKS," ucap Rani yang telah berlari ke arahnya dengan raut muka yang panik.

"Kamu juga yang bertanggung jawab melukainya?" Pak Hendra mengepal tangannya memukul dadanya Yuda.

"Ya. Demi pertahanan diri, ia tidak ragu menyerang Linda."

"Uhuk ... Uhuk ... Kau yang mulai duluan?" ucapnya yang menahan rasa sakit.

"Budi ... Perlihatkan rekaman videonya."

Ia menyerahkan gawainya ke guru BK dan melihat sebenarnya yang terjadi. "Haah ... Pak guru gak habis berpikir, jadi begini cara mu membela diri?"

"Gunakanlah otak mu sebelum bertindak," jelas Yuda.

"Omong-omong rahasianya, ada di alat rekaman yang digantungkan di dasinya Yuda," Linda menunjukkan nya.

Bu Airi meminta nya untuk turun, karena gak sopan. Ia berada di posisi atas. "Padahal nyaman, aku duduk di pundak lebarnya Yuda."

"Maaf soal itu," bales Bu Airi dan memerintahkan gerombolan yang datang barusan untuk berbaris.

Semuanya berkumpul di lapangan waktu sore hari, para siswa/i yang sedang mengadakan kegiatan ekstrakurikuler memperhatikan nya dari kejauhan.

"Yuda! Kamu terlibat dalam perkelahian ini, pak Guru harus memberikan surat peringatan untuk mu."

"Aku boleh cuti?" Ia merasa senang kegirangan.

"Sebagai bahan renungan mu. Kalau kamu diliburkan malah langsung berubah sikap nya."

"Pak Hendra, aku juga mau cuti dari sekolah. Kita tinggal datang waktu ujian saja," teriak Budi dan mengangkat tangannya.

"Pak Guru gak bisa memberikan poin penalti peringatan dari satu pihak. Kepala sekolah harus meninjau perbuatan kalian, termasuk menilai bukti dari rekaman video tersebut. Besok, kalian berdua tetap harus berangkat ke sekolah seperti biasa."

"Heee~~" Mereka berdua mengeluh dan cukup santai menghadapi permasalahan ini.

"Begitukah cara kalian menyikapinya. Mentang-mentang sebagai siswa berprestasi?" ucap Bu Airi.

"Ehem ... Maaf kalau Ibu gak suka sama sikap kami. Pak Hendra tadi mengatakan akan memberikan surat peringatan kepada ku sebagai bentuk peringatan, berarti omongan beliau merupakan perwakilan pihak sekolah dan harus ditepati, meskipun membutuhkan waktu yang cukup panjang. Karena kepala sekolah jarang hadir ke sini," Yuda mulai dalam mode berdebat.

"Kami berempat terlibat secara gak langsung, karena gak bisa menghentikan tindakan Yuda sama sikap Linda yang kekanak-kanakan. Seharusnya hal ini gak terjadi, memang terlihat seperti kenakalan remaja. Apalagi masih di area sekolah, apakah Bapak sama Ibu mau mencabut surat peringatan nya?" Budi juga ikutan.

"Pak Guru paham, kalian berdua mengucapkan hal tersebut dan surat peringatan tetap akan ditulis, tapi hukuman kalian gak seberat siswa yang sedang terluka. Terlebih lagi, kalian berdua merupakan siswa berprestasi. Tetap akan diberikan poin penalti," jelasnya.

"Kalian yang terlibat, seharusnya lebih memperhatikan lagi dan melihat lawan nya siapa." Bu Airi seolah-olah sedang melindungi Yuda.

"Benar. Jika kami datang terlambat, bukan cuma satu siswa yang terluka. Melainkan kalian semua," dukung pak Hendra.

"Hendra-sensei, boleh aku ralat." Beliau menengok ke arah Yuda. "Aku ini sebagai pelaku atau korban?"

"Dua-duanya," ucap dua guru tersebut. "Kamu seharusnya tidak terpancing?"

"Maksud guru terpancing gimana?" Yuda bersikap sok polos.

Bu Airi mengeraskan suara rekaman videonya, "Yuda balas dia," terdengar suaranya Linda.

Ia seketika menjadi pusat perhatian dan maju ke depan karena dipanggil sama guru BK. "Jangan salahkan Linda, aku yang mengikuti perintahnya," Yuda bergerak maju ke depan melindungi dan menutupi tubuh kecilnya Linda dibalik badannya.

"Bu guru tau, kalian berdua sangat akrab. Jadi bingung, mana yang harus disalahkan," beliau memegang jidat kepalanya.

"Intinya, kejadian ini jangan terulang lagi," teriak pak Hendra.

Lihat selengkapnya