Empat Sekawan

Wakadana
Chapter #21

Chapter 3 - Scene 2

Suara pintu terbuka secara bersamaan dengan salam, "Aku pulang." Seragam sekolahnya masih bersih gak terlihat kusut cuma bau dari keringat badannya."Kamu gak berkelahi kan?" ucap Linda yang menghampiri nya.

"Ada sedikit cekcok, gerombolan bocah berandalan tersebut mengikuti nya dari belakang untuk mengantarkan ia pulang."

"Syukurlah, kau tidak membawa mereka semua ke klinik terdekat," ucap ku.

"Aku gak terlalu suka berkelahi. Jika Linda gak memancing nya, perkara tersebut gak akan terjadi."

"Habis nya aku tidak menyukainya," jawab Linda.

"Aku juga tidak menyukai siswi tersebut yang pura-pura merasa bersalah," imbuh Yuda.

"Yang kamu maksudkan si Rani?" tanya ku.

"Jadi itu namanya," Yuda memberikan secarik kertas kepada Linda yang tertulis nomor kontak pribadi nya yang sebenarnya.

Jika Yuda sudah gak tertarik sama seseorang, ia tidak akan mengingat orang tersebut. Yang sudah diterapkan pada guru-guru mengajar di kelas kita.

"Yud, mandi dulu sebelum rebahan di kamar."

Budi juga terlihat sudah langsung tidur di atas kasur busa nya yang tipis, langsung menempel pada lantai tanpa alas tikar.

Aku mandi terlebih dahulu, mereka nanti pasti gantian mandinya selagi Linda sedang mempersiapkan makan malam dan menanak nasinya.

Dia mirip seperti ibu kontrakan pemilik rumah ini. Aku masuk memakai terlebih dahulu dan berlanjut menunaikan sholat, suara pintu depan yang terdengar cukup keras walau tidak dibanting itu adalah suara angin luar yang masuk ke dalam.

Engsel pintunya memang harus diganti dan perlu grendel tambahan jika semuanya sudah berada di dalam.

Rumah depan kontrakan kita merupakan rumah kosong yang penghuninya sudah meninggal semua 3 tahun kemarin, kabar dari penduduk setempat.

Termasuk posisi tempat tinggal kita, cukup jauh dari pemukiman warga yang dekat sama rawa terhubung dengan perairan air laut.

Terkadang aku suka mancing kalau gabut dan ngajak Budi. Di tengah rawa menggunakan sampan yang pernah disinggung oleh Yuda, namun itu perahu sudah hanyut pergi dari tepi pemukiman yang terus naik air nya.

Suara toa dari mushola terdekat memberikan pengumuman menyedihkan, ada warga yang meninggal lagi setiap melewati pertengahan bulan.

Terlebih hari ini merupakan malam Jum'at, nuansa malam terasa mencekam dari biasanya. Meskipun para warga sedang berbondong-bondong, tetangganya yang meninggal untuk dimandikan dan dikuburan setelah adzan isya berkumandang.

Lihat selengkapnya