"Aahh ... Segarnya," ujar Linda yang masih mengenakan seragam sekolah dan akan ganti baju kasual nya di lantai dua.Aku jarang pergi ke sana, itu batasan antara kamar laki-laki dan perempuan. Tapi kalau pergi ke koridor melihat pemandangan di luar, bukanlah masalah.
"Kamu sedang meratapi atap genteng?" ucap Linda yang sudah ganti baju, ia terlihat lebih santai.
"Penasaran saja, tadi ada Bapak-bapak minta sumbangan pergi ke rumah sebelah. Ku rasa sudah ada penghuninya."
"Sudah ada penghuni di rumah kosong tersebut? Kamu melihat ada kendaraan di halaman nya?"
"Rumah kosong?" Aku kebingungan dari jawabannya. Dan mencoba meyakinkan, "Tadi kita melihat saat memberikan uang untuk berkabung, bapak tersebut berbelok ke rumah sebelah untuk mengantarkan nya."
"Berbelok? Bapak tersebut berjalan lurus terus. Mata mu pasti kelelahan, habis makan malam langsung tidur aja."
Linda turun ke bawah, aku mengulang ingatannya di dalam memori dan apa yang kulihat tidaklah salah. Bapak minta sumbangan datangnya memang mepet hampir pukul delapan, yang terlihat masih mengenakan sarung, baju kokoh sederhana dan peci hitamnya. Pasti habis dari mushola, lalu ke rumah warga yang meninggal.
Masa aku sampai salah lihat atau memang pikiran ku ini butuh istirahat?
Mungkin perkataan Linda benar, aku belum istirahat sama sekali. Tapi aku yakin sama penglihatan ku sendiri, besok bisa diperiksa kebenarannya.
Budi habis mandi sudah ganti baju dan langsung makan malam. Linda juga secara perlahan sedang menikmati masakan nya sendiri.
Menu malam ini cukup banyak, untuk buat sarapan besok. Tugas memasak nya adalah Yuda, dan ia akan membuat sarapan simpel tanpa pikir panjang, cuma telor ceplok kasih sedikit garam.
Kami tidak bisa mengeluh asal ada nasi sama kecap, kemampuan masaknya gak sebagus kita berdua.
Kalau untuk Budi, ia memang beneran gak bisa memasak sama sekali. Makanya suka membuat yang serba instan, punya uang banyak pun, paling cepat mesen makanan dari ojek yang dianterin.
"Selamat tidur kalian berdua." Linda langsung naik pergi ke atas.
"Selamat malam Do, tolong cuci piring nya." Mereka asal nyuruh dan paling terakhir adalah aku.
Masa harus menunggu pula, Yuda pulangnya jam berapa ini. Ku coba menelponnya, ternyata gawainya ditinggal di kamar.
Hah ... Dia pasti pengertian sama kondisi kita saat ini, aku kunci aja pintunya dengan kunci utama. Mata ku memang sudah lelah, gak ada banyak komunikasi yang terjadi.
Tubuh ku biarkan rebahan di atas busa yang empuk dengan cepat terlelap, gak ada tugas hari ini. Rasanya begitu plong pikiran nya.
......
.....
....
...