Sudah pukul tiga sore, ia masih terlelap. Tubuhnya sudah digoyangkan, dipanggil namanya, dicubit, dipukul, gak ada reaksi. Tubuh yang sudah mencapai batas dan sangat membutuhkan istirahat, resikonya memang begini.Masih belum banyak siswa yang pergi pulang, dikarenakan kegiatan ekstrakurikuler. Kami seharusnya sudah pulang jam dua siang tadi, asal Yuda terbangun seperti biasa.
Linda ada jadwalnya sendiri bersama siswi teman sekelasnya, Budi telah pulang lebih awal. Pasti ingin menghitung uang yang dimilikinya dan berencana mau belanja besok atau hari minggunya.
Aku sudah membawa tas nya Yuda ke ruang UKS, suara notifikasi dari gawainya terus berbunyi. Ketika mau diperiksa, harus dibuka terlebih dahulu dengan pendeteksi muka, sidik jari atau kata sandi.
Di saat aku sedang menemani nya dari samping, melihat kondisinya masih belum siuman. "Permisi, Yuda sudah bangun atau belum?" Lihat sendiri sudah tau, ia masih rebahan.
"Oh! Belum ya?" Ia jawab sendiri, lalu keluar dari UKS.
"9 siswi," seorang petugas UKS dari PMR yang sedang berjaga dengan topi khusus ada tanda positif merah.
Apa maksud dari 9 siswi? Ternyata ada yang masuk lagi untuk memeriksa Yuda lagi. "10 siswi." Ia mencoret di atas kertas menghitung dan namanya secara singkat.
"Mereka bolak-balik gantian, sebenarnya mau ngapain?" tanya ku yang baru sampai juga, menjaga tas dan barang di dalamnya.
"Kau sebagai seorang cowok seharusnya tau mereka mau ngapain."
Khawatir? Cemas? Memberi tau kabar, kalau Yuda sudah bangun nanti.
"Dari muka mu dah jelas memang gak tau. Dasar makhluk gak peka," dia sedang menyindir ku? Atau memberitahu?
"Rido, Yuda masih belum bangun ya?" Linda penuh semangat ia datang, "Akan aku perkenalkan teman baru ku." Sekalian membawa orang yang tidak mengenakan pakaian olahraga ataupun seragam sekolah kita, ia berpenampilan tertutup sekali seperti mengenakan hijab. Tapi muka dan pergelangan tangannya masih terlihat, sedikit menampakkan kemulusan kulitnya.
"Salam kenal, aku Rido teman si tukang molor ini."
"Salam kenal," ia balas dengan senyuman yang manis. "Nama ku Maria."
"Kami ke sini mau membangunkan tukang tidur itu," ujar Linda. Gimana caranya? Di cium seperti putri Salju.
"Yuda~ bangun ... sudah sore," suaranya begitu pelan di dekat telinga nya. Tidak menggoyangkan tubuhnya, Linda juga cuma tersenyum melihat nya, Yuda bangun secara sendiri. "Selamat sore Yuda, tidur mu begitu nyenyak sekali."
Matanya masih terpejam, ia mengenali suara tersebut. "Mary ... Selamat sore, sekarang sudah jam berapa?" Terlihat cukup berat membuka kantong matanya.
"Jam setengah empat. Kamu lupa dengan janji kita?" Dengan nada suara yang masih lembut, ia beranjak bangun dari tempat tidurnya.
"Maaf, aku sedikit teledor, kamu menunggu di depan gerbang sekolah ya?" Sambil mengucek mata nya.
"Ya. Dari jam tiga sore habis pulang dari sekolah."
Ia turun dari tempat tidur, meregangkan tubuhnya yang begitu kaku sampai berbunyi.
"Aku lanjut ekstrakurikuler dulu," Linda pergi begitu aja. Sekarang habis ini aku mau ngapain lagi.
"Maaf Do, telah merepotkan mu," ujar Yuda.
"Gak apa-apa."
"Terima kasih banyak," ujar Maria kepada dengan senyuman nya lagi.
"Kalian mau pergi ke mana?"
"Jalan-jalan sore," jawab Yuda.
"Menghabiskan waktu bersama," ikutnya juga.
"Apa hubungan kalian berdua?"
"Pacar?" ketus perempuan tersebut.
"Bukan," sangkal langsung dari Yuda.
"Teman?"