Dari kejauhan mata ku memandang. Ada laki-laki tampak gak terlalu asing, "Budi!" Langsung aku teriak ternyata ia pergi ke kedai tersebut."Penampilan mu sangat berbeda sekali?"
"Habis jalan-jalan dari mall, untuk lihat-lihat harga barang elektronik. Yuda kenapa sampai dikejar oleh perempuan berpakaian biarawati, dia pacarnya?"
"Kurang tau, kamu mau masuk juga?" ajak ku.
"Ya. Sengaja untuk membuat perut ku merasa lapar, ternyata ada menu spesial jadi aku lihat langsung tertarik dan antirannya tadi siang sangat panjang waktu pulang sekolah. Sekarang sudah mendingan, tapi nanti malam akan ramai lagi."
Ternyata ia melipir juga ke sini, masih membawa tas sekolah di punggungnya dan mengenakan baju dan celana pendek, ditutupi matanya dengan kacamata hitam.
Sekarang aku ada temannya, kedua pasangan tersebut begitu heboh di dalam, "Pesan satu ramen jumbo spesial."
Tanpa berpikir panjang, biarkan perut mereka yang berbicara dan terdengar suara cukup keras. Koki yang mencatat pesan nya menjawab dengan bahasa asing, kulihat harganya satu porsi 120 ribu.
"Paman, pesan ramen tonkotsu. Dagingnya ganti dengan daging ayam, mie nya yang masih keras." Budi seperti nya mengetahui alur pemesanan nya.
"Bud, kamu sudah terbiasa makan di sini?"
"Satu bulan sekali, kau bisa costum sendiri pesanannya atau mengikuti yang tertulis di papan dinding sana."
Melihat harganya dengan minimal 20 ribu itu yang paling murah cuma mie sama kuah doang belum dengan toping nya.
"Harga yang kamu pesan kira-kira kisaran berapa?" bisik ku.
" 50 sampai 60K. Kalau pakai daging ayam harganya lebih murah dibandingkan harga daging babi."
"Maksudnya dari jenis mie yang kau maksudkan itu apa? Ada pilihan nya sendiri?"
"Lamanya kamu menikmati hidangan ramen nya, ada tiga jenis mie di sini. Medium, keras dan sangat keras. Memiliih opsi yang keras buat ku sudah cukup."
Aku masih bingung ada tulisan bahasa asing dan lokal secara bersamaan, ada banyak sekali jenisnya. "Mau bantu aku pesanin?" Inisiatif Budi.
"Tolong satu Ramen ayam Tamtam buat teman ku ini."
Aku tidak tau apa itu ayam Tamtam, apakah ada ayam yang berjenis Tamtam di luar sana? Dan semakin banyak pelanggan yang berdatangan, apa kata Budi benar saat masih di luar.
Tak menunggu waktu lama, "Maaf telah menunggu kalian berdua, silahkan dinikmati," ucap pelayan tersebut.
Mangkuk yang besar seperti kuali panci, Yuda sama Maria gak ragu langsung mengambil bawang putih yang sudah dikelupas segenggaman tangannya sampai remuk.
Bau dari ramen spesial yang harusnya sudah menggugah selera, semakin menyengat dan muncul aroma yang semakin kuat.
"Mereka berdua penggemar ekstrem ramen sepertinya. Tau cara bikin membuat pelanggan yang menunggu semakin kelaparan," ujar Budi.