"Aku pulang," ucap Yuda dari pintu depan berbunyi."Permisi," suara perempuan yang ikut masuk juga.
Linda habis selesai mandi, ia sudah mengenakan baju santai dan rok pendeknya. Langsung ia interogasi, "Kamu habis dari mana?"
"Jalan-jalan ke mall bareng Mary."
"Mmmnnn ..." Suara gerutunya terdengar cukup keras. "Kamu sudah makan?"
"Ya, kenyang sekali makan ramen nya. Mereka dua ikutan juga."
Gawat, kita fokus sedang bersih-bersih lupa gak brifing si Yuda. Tatapan bocah tersebut begitu tajam melihat kita dan langsung memusuhi.
"Tenang saja, Mary sudah bawakan makanan untuk mu. Ia berterima kasih sudah mengantarkan nya sampai ke UKS."
"Nih Linda, terima kasih. Banyak siswa yang menggoda ku di depan gerbang, beruntung kamu datang dari luar sekolah." Ia menyerahkan yang ada di dalam isinya.
"Waktu itu, aku habis pemanasan berlari untuk latihan bela diri. Kalian pikir aku disogok makanan, emosi ku gak hilang?"
"Mau aku suapin?" ucap Yuda.
"Atau disuapin sama aku?" ikut Maria.
Linda menjadi merasa malu dan ingin makan secara sendiri, "Gak usah repot-repot."
Kedua pipinya dicubit sama mereka cukup keras, "Jangan ditarik, sakit."
"Kamu selalu gemasin, kalau masih merajuk akan ku paksa suapin," ia berjalan menuju kamarnya dan mengambil sapu.
Isinya ada tiga macam, pizza ukuran besar bagi satu orang, satu kotak es krim ukuran sedang dan satu kotak besar susu UHT.
"Semewah ini? Aku jarang makan makanan yang seperti ini," kagum Linda.
"Yuda menyarankan sesuai kesukaan mu, berterima kasih padanya. Aku cuma bantu bayarin aja setengahnya."
Ia berlari kegirangan menghampirinya, "Te-Terima kasih. Itu semua perlu dibayar atau tidak?"
"Gak usah. Itu ucapan terima kasih ku juga, sudah memasak makanan yang enak buat kita dan menghidupkan suasana kontrakan selama satu tahun."
Sikap kepadanya begitu baik, "Kalian mana? Ucapan terima kasihnya." Linda menjadi songong dan belagu, ingin mendapatkan imbalan juga dari kami.
"Aku bantu talangin biaya kulkasnya yang lebih bagus," balas Budi.
"Keputusan yang bijak, Rido ... Kau mau ngasih apa pada ku?"
Belum kepikiran sama sekali, "Kamu mau nya apa?"
"Menurut mu, aku sedang butuh apa?"
Gak bisa ditebak pikirannya, batin ku.
"Jika kau tidak bisa menebak ku. Jangan harap mendapatkan hati perempuan, mendingan belajar memahami cewek sebelum berpacaran," sindirnya.
Ia balik ke meja makan dan duduk, mengambil satu potongan pizza ukuran besar.