Empat Sekawan

Wakadana
Chapter #28

Chapter 3 - Scene 9

"Tu-Tunangan? Itu kapan kamu melamarnya?" tanya kami serentak."Dua tahun kemarin, umur 15 tahun saat tubuh ku mulai tumbuh besar. Tahun ini akan menginjak 17 tahun dekat akhir tahun nanti."

"Umur berapa hubungan kalian sudah dekat itu?"

"Teman masa kecil?" antusias Budi menjawabnya.

"Umur 14 Tahun, aku berkenalan dengan Maria tahun berikutnya. Terus memanggil dengan sebutan Mary sampai sekarang."

"Di-Dimana kalian ketemuan nya?" Linda begitu gagap ketika mau bertanya.

"Dia aja yang cerita nanti. Aku belum selesai bersihin klosetnya."

He? Heee ... Ternyata mereka bertunangan, aku sedikit syok. Ku kira Yuda sama seperti kita seorang jomblo, waktu mereka ketemuan memang sedikit mencurigakan.

Tapi yang paling terkejut si Linda, ku kira ia sudah mengenalnya terlebih dahulu. Baru kali ini statusnya diungkap.

Budi mengharapkan cerita yang ada di Anime ia tonton, kenyataannya bukan. Kalau Yuda berhutang sebanyak itu, jika menikah nanti pasti akan lunas juga hutangnya kan?

"Rido, aku tau apa yang kau pikirkan." Ia telanjang dada melepaskan baju olahraga nya di dalam kamar mandi dan mau mengambil handuk sama pakaian gantinya di dalam kamar.

"Hutang tetaplah hutang, jika sudah menikah nanti. Aku tidak ingin hutang tersebut dibawa mati."

"Kalau nyawa sudah berada di ujung tanduk, tinggal tanda tangan asuransi dan donor-in aja tuh dua ginjal," ucap Budi begitu enteng.

"Bukan hanya ginjal, semua aset organ dalam ku akan di donasikan saat sudah meninggal. Aku sudah mentanda tanganinya secara elektronik," balasnya pergi ke dalam dan mandi.

Aku ingin tau, Linda sudah dapat kabarnya atau belum dari Rani, "Dia masih belum membalasnya." Ekspresi nya masih belum menerima apa yang ada di dalam unek-unek kepalanya, barusan ia mendapati informasi dari hubungan mereka berdua.

Mungkin Rani merasa curiga, yang menghubungi merupakan atas nama Yuda bukan Linda. Sampai pemilik gawainya selesai mandi pun, gak ada pesan yang masuk.

Sudah kasih saran untuk dihubungi tetap aja gak diangkat, bukan ditolak. "Mungkin dia masih tidur," ucap Budi mencoba menarik perhatian untuk mengambil satu potongan pizza, tangannya ditepis.

Aku mencoba ambil sendok eskrim nya sambil menutupi nya dan melihat ke arah layar gawai nya, Linda semakin waspada.

Dia pergi ke kamarnya Yuda sambil membawa pizza sama es krim nya, kecuali susu UHT nya. Budi langsung gas kan diminum langsung lewat mulut, aku tuangkan ke gelas untuk merasakan susu murni nya.

Lihat selengkapnya