Empat Sekawan

Wakadana
Chapter #31

Chapter 3 - Scene 12

Oooaahh ... Aku ingin berteriak dan menghela nafas sepanjang mungkin. Hari ini begitu bercampur aduk antara beruntung sama tidak beruntung. Aku meminum air putih rasanya begitu panas, seperti ada sesuatu terbakar secara perlahan.Perut ku belum diizinkan untuk makan, padahal mereka sedang proses membuat makanannya dari resep nya Yuda yang sedang masak.

"Minumlah air putih hangat ini," Yuda yang sudah turun ke bawah. Selanjutnya ia berkomunikasi dengan Maria menggunakan bahasa asing, ini bukanlah bahasa internasional.

Terlihat sedang bertengkar mereka berdua, mendebatkan sesuatu yang tidak ku mengerti.

"Itu ide yang buruk, jangan pergi keluar." Linda menghentikan keputusannya Yuda.

"Kemarin ada pemberitahuan orang yang meninggal, malam ini di luar masih belum kondusif. Untung kau pergi ke gereja, sebelum toa dari mushola berbunyi. Sengaja gak kembali di tengah malam, karena kamu sudah tau akan mendapatkan sebuah petaka. Makanya pulang pagi hari habis jam subuh."

Yuda mengurungkan niatnya, muka yang penuh kekesalan dan amarah. Ia kembali menjadi tenang untuk mencernah perkataan Linda.

"Baiklah, kau jangan tidur di kamar atas terlebih dahulu."

"Lah kapan? Kemarin aku tidur di lantai bawah," bantahnya.

"Sudah, jangan dilanjutkan bertengkar nya. Lihat tuh ... Ada laki-laki yang menyedihkan di atas lantai." Perkataan Maria nyelekit banget, namun mereka berdua jauh lebih menyakiti perasaan ku ini.

"Itu kesalahan nya sendiri, ngapain pergi ke sana. Rasa penasaran juga harus ada batasannya."

"Kalau Mary gak nemuin tubuh mu, jiwa mu pasti sudah diambil sama mereka."

Perkataan mereka benar, aku terlalu penasaran dan ingin menyangkal perkataan Linda kemarin. Alhasil malah jadi bumerang, tapi di mana Maria menemukan tubuh ku? Jika engsel pintu depan dirusak olehnya dan masuk ke dalam. Kenapa ia baik-baik saja.

"Ada apa?" Ia bertanya pada ku saat sedang kulirik.

Lihat selengkapnya