Aku berdiri berpindah tempat ke kamar sambil rebahan dengan pintu yang masih terbuka, Yuda menyinggung alasan ku pergi ke rumah sebelah dari depan pintu yang sedang duduk."Kemarin ada bapak-bapak datang ke sini meminta sumbangan, aku sama Linda mengantarkan nya sampai ke depan. Penglihatan ku sedang tidak berbohong, rumah sebelah ada penerangan. Kukira ada penghuni baru dan Bapak tersebut meminta sumbangan ke sana. Tetapi, apa yang Linda lihat, dia jalan lurus terus menerus," jelas ku.
"Sejak awal Bapak tersebut datang ke rumah kontrakan kita aja sudah aneh. Kenapa harus berjalan cukup jauh ke sini, padahal di depan dan di samping kita ada rumah kosong. Orang biasanya setelah mendapatkan kabar kematian tidak memiliki cukup nyali datang ke tempat yang tidak ada penerangan nya," jelas Yuda.
"Kurasa gak begitu Yud, ia datang mungkin ingin ngasih tau kabar untuk ikut belasungkawa. Meminta sumbangan itu opsional, meskipun kita hanya seorang siswa tetap aja sudah dianggap sebagai warga di sini. Rido sendiri kadang-kadang waktu magrib ia pergi ke mushola. Itu bukan karena ada nyali, bisa saja menjadi kewajiban untuk saling mengingatkan satu sama lain," bantah Budi.
Di agama ku diajarkan begitu, apa yang diucapkan Budi sudah benar.
"Terus, kenapa kamu mengikuti nya dan melihat Bapak tersebut dari belakang?" tanya Yuda.
"Aku kurang tau. Mungkin penasaran aja, dan memeriksa lewat lantai dua, setelah mendengarkan penjelasan dari Linda. Ingin membuktikan saja dari apa yang kulihat kemarin."
"Do, kau sudah diperdaya oleh para makhluk tersebut. Kemarin kau beneran ngasih uang ke Bapak tersebut?" Linda tiba-tiba ikut nimbrung.
"Ya. Kau juga ikutan menyumbang kan," jawab ku.
"Aku gak memberikan uang sepersen mu kepadanya. Cuma mengikuti pergerakan mu seolah telah memberikan uang. Kenyataannya, aku mengusir makhluk yang menyerupai manusia tersebut. Itu hanyalah permainan mereka dan kau terpancing melihat hal-hal yang aneh seperti ada cahaya lampu yang menerangi rumah tersebut. Mereka juga bisa mengeluarkan cahaya seperti manusia," jelas Linda.
"Tapi, yang aku lihat beneran seorang Bapak-bapak tulen."
"Apakah kamu mengingat bentuk muka Bapak-bapak tersebut?"
Saat kucoba mengingat masih tersimpan di dalam memori ku. Linda menunjukkan gambar yang berbeda ada aku di belakang sana. "Perhatian baik-baik, apakah begini bentuk mukanya?"
"Ya. Itu memang muka Bapak tersebut."
Foto berikutnya diperlihatkan setelah aku memberikannya uang. "Apakah sekarang kamu sudah yakin? Itu adalah bentuk syarat perjanjian dan kau sudah ditandai dan diincar."
Muka Bapak tersebut berubah menjadi hitam dan sedikit transparan. Linda mengambil foto lagi dari belakang tubuh ku waktu itu, terlihat tembus pandang. "Aku tidak mengerti kamu malah tetap berada di luar, gak masuk-masuk ke dalam. Jadi aku tinggalkan aja."
"Terus ... Kenapa kamu gak kasih tau?" kesal ku.
"Aku sudah memperingatkan mu dan menyangkal apa yang kau lihat di lantai dua kemarin. Berarti masalah nya ada pada mu, yang gak mempercayai omongan ku. Semalam aku tidur di kamarnya Yuda sambil menjaga mu, supaya gak dibawa sama mereka. Untung kamu memperbaiki engsel pintu depannya yang sudah berkarat tersebut. Jam 2 malam ada seseorang yang menggedor-gedor pintu nya."
Linda memperlihatkan rekamannya lagi, suaranya cukup keras tapi ia berjalan mendekati dan menendang daun pintu cukup keras lalu berteriak, "Pergilah!"