Empat Sekawan

Wakadana
Chapter #33

Chapter 3 - Scene 14

Malam harinya sampai waktu subuh tiba. Tidak terjadi apa-apa, ya ... beneran tidak terjadi apa-apa. Ini adalah pilihan yang terbaik meskipun terkesan membosankan.Untuk ke depannya aku akan lebih berhati-hati lagi dan mempertimbangkan pilihan ku ini, termasuk nanti siang kita akan berbelanja dan pergi ke mall bersama.

Di hari minggu pun juga sama sampai malam hari tiba, kita semua butuh liburan, ketenangan, bersantai. Tapi, Linda berbeda, ia ingin beraktivitas seperti biasa bukan untuk datang ke sekolah, hanya ingin bermain seperti biasa.

Namun Yuda memiliki kesibukan di luar bersama tunangannya, terpaksa Linda gak tau harus pergi ke mana, gawainya juga diambil gak dipegang olehnya.

Linda mati kebosanan sampai siang hari, ia terus ngerepotin Yuda saat sudah pulang untuk istirahat. Karena kami berdua gak bisa diandalkan atau mengikuti energinya yang begitu besar di tubuh kecilnya tersebut.

Yaitu, berolahraga dari jam 7 pagi untuk jogging bersama rasanya seperti sedang melakukan maraton sampai jam 9, belum sarapan belum memasak tapi harus bagi-bagi tugas. Jadi Linda ngambek gak bikin makanan untuk kita, terpaksa harus makan di luar. Merogoh uang jajan untuk satu minggu ke depan.

Sebelum semua itu terjadi, saat aku terbangun fajar sudah terlihat. Alarm nya terus berbunyi tapi aku tidak terbangun-bangun sampai daya baterai ponsel nya habis, lupa tidak aku colokin kepala charger nya ke stopkontak.

Melihat sekeliling kamar cuma ada Budi yang masih terlihat, mereka bertiga berada di mana? Pergi ke depan, mereka berdua terlihat sedang sibuk menyiram pakai air ke depan halaman rumah kontrakan.

Sebuah tanah yang habis digali, mencari tau siapa yang melakukan nya. Linda ternyata ada di belakang rumah, "Apa yang sedang kamu lakukan?"

"Mencari benda yang terkubur, kita tak tau siapa pelakunya"

"Kemarin aku muntah banyak sekali bangkai hitam di kamar mandi. Mereka semua telah dibuang?"

"Bangkai hitam?" Linda terkesan kebingungan. "Oh~ Gak ada bangkai di dalam sana. Yuda sudah mensucikan dengan air yang mengalir, sisa residu nya telah menghilang."

"Tapi, aku merasa habis mengeluarkan sesuatu yang tidak pernah ditelan dalam tubuh ku."

"Kau tau yang namanya santet kan?"

"Ya."

"Kemungkinan ada tiga makhluk kecil yang kasat mata masuk ke dalam tubuh mu, melalui pembuluh darah atau luka kecil."

Luka kecil? Aku memeriksa tubuh ku terutama dibagian lengan atas, ada bekas koreng yang tergores baru ditutup lukanya.

"Terus, gimana caranya aku tak sadar kan diri? Padahal ini tubuh asli ku sendiri."

"Para makhluk yang tidak terlihat memiliki ilmu tersendiri seperti manusia pada umumnya. Mereka juga berakal, tau sopan santun dan batasan wilayah manusia. Yuda lebih mengerti hal ini, bicarakan saja padanya."

"Kenapa Yuda bisa tau hal tersebut?"

Linda menoleh dan melihat ku ada di belakang nya. "Aku lupa, kamu tidak memiliki penglihatan mata batin seperti ku."

"Apakah Yuda punya?"

"Tanya aja sendiri." Ia terhenti dan melihat sesuatu ada yang terkubur dan langsung mengambilnya.

"Itu apa?" aku ingin tau apa yang ia genggam, tapi Linda mengabaikan pertanyaan ku.

Lihat selengkapnya