Hari ini, seharusnya sesuai rencana untuk pergi berbelanja. Semalam di rumah kontrakan kita tidak terjadi apa-apa, namun di luar situ. Banyak sekali kejadian, insiden, tragedi, skandal dalam waktu bersamaan.
Aku sama Linda pergi ke tempat laundry pagi-pagi hari dan mereka bertiga pergi berbelanja. Sebuah ambulan, aparat keamanan dikerahkan ke berbagai tempat insiden, para wartawan menemukan skandal-skandal yang begitu panas, tragedi yang melibatkan anak remaja ketahuan habis pulang dari klub malam.
Seorang siswa/i di antaranya sedang diperiksa dan diintograsi acara berita yang merupakan salah satu murid sekolah kita, termasuk ... "Do, itu kan si Rani?"
Apa yang dikatakan Yuda soal lingkungan dan pergaulan anak kota memang begitu keras, ini sudah terlalu liar.
Belum lagi kejadian kendaraan pembegalan yang secara masif di malam hari, memanfaatkan kemacetan jalan mencuri barang-barang yang berharga secara terang-terangan.
Kericuhan pemerintah setempat yang menerapkan kebijakan begitu ngaco soal keamanan gedung mall, super mall dan plaza-plaza banyak sekali bom molotov yang dilemparkan, lalu dijarah barang-barang nya.
"Sebenarnya apa yang sedang terjadi di kota kita tinggal ini?" tanya Linda melihat berita di televisi.
Tidak ada yang mengetahui nya siapa biang kerok dibalik itu semua.
"Tolong ...! Pencuri!" Barusan di depan laundry kita sedang menunggu mencuci ada pelaku jambret yang membawa kabur tas pemilik perempuan.
"Kamu mau ke mana?" Linda menahan lengan ku. "Kau tega meninggalkanku di sini? Biarkan para warga sekitar yang menanganinya, jangan lupa sama tugas mu ini."
Aku kembali duduk, ternyata begitu terang-terangan di waktu pagi hari.
"Kami datang ke situ hanya ingin mengadakan pesta acara ulang tahun di klub malam, untuk memeriahkan acaranya," ucap salah satu siswi yang menjadi sanksi yang ditampilkan di berita.
"Itu bukannya siswi yang mentraktir kita di kantin," ujar Linda.
"Apa iya?" aku kurang yakin.
"Ingatan mu gimana sih," jawabnya.
Aku terbiasa melihat orang-orang yang memakai make-up, langsung mengingatnya. Wajah siswi tersebut terkesan alami dan natural gak bisa dibayangkan ternyata penampilan aslinya begitu.
"Sudah kuduga Rani ada di sana," lalu acara berita kembali menampilkan reporter di kantor. "Aku gak percaya ia terlibat di pesta klub malam. Jadi itu penyebabnya, kemarin malam gak bisa diajak." Linda merasa dikecewakan, begitu pula dengan ku.
Selanjutnya berita soal pembegalan dan pencurian yang sedang marak terjadi, korban yang kena masih dihitung jumlahnya oleh pihak aparat yang sedang mengirim laporan secara berkala.
Sirine dari kendaraan yang berbunyi seperti nya jambret tersebut berhasil di ringkus oleh warga sekitar dan dibawa ke kantor keamanan.
Berita berikutnya keadaan mall yang dekat sama lokasi kita, di dalamnya terjadi kebakaran pada waktu kejadian dua dini hari, berarti tadi malam. Kerugian yang capai miliyaran bahkan pihak penjaga kewalahan mengurusi pembuat ricuh yang secara mencurigakan belum diketahui siapa pelakunya.
Skandal-skandal nya merupakan kasus korupsi yang begitu besar terjadi, dijaga pihak penjaga negara sebagai alih perlindungan penyelidikan dan ditutupi. Itu merupakan hal yang biasa terjadi makan keseharian para wartawan, skandal tersebut tiap hari pasti ada kasus korupsi yang terbongkar.
Kota Batavia memang kota yang paling maju di antara semua kota di pulau ini. Tapi kepadatan penduduknya sudah melebihi kapasitas kotanya, para warga miskin yang sedang bertarung kejam kerasnya kota ini ternyata jauh lebih gelap.
Kami berdua sebagai orang merantau dari pulau jauh, ternyata situasi terkadang ada juga terasa gak mengenakan seperti hari ini.
'Tiit!' Suara pertanda mesin cuci sudah selesai dicuci sekaligus dikeringkan.
Dalaman kita dipisahkan, Linda mengambil satu-persatu lalu diserahkan pada ku untuk langsung ditilap dan dirapikan ke kantong besar pakaian.
Mengabaikan acara berita yang ditampilkan, membayar di kasir dan pergi dari tempat laundry menuju kontrakan.
"Kira-kira, siswi yang ikut klub malam akan dapat surat peringatan tidak?"
"Aku kurang tau, besok Senin coba aja tanya ke pak Hendra atau Bu Airi," jawab ku.
"Ulang tahun siapa yang mereka rayakan di sana? Emang harus diadakan juga di klub malam, gak di rumah aja gitu."
"Mungkin cari sensasi seperti orang dewasa, perempuan ditanyakan juga tidak terlihat sedang mabuk, kantong matanya aja yang kelihatan. Mereka sudah ngantuk dan lelah."
"Kalau diperhatikan memang benar, apakah itu terpengaruh gaya pergaulan bebas di kota ini?"
"Soal itu kurasa gak perlu heran. Murid-murid dari jurusan IPA orang tua mereka kaya-kaya. Kurasa ikut terpengaruh dari kebiasaan orang tua mereka dulu."
"Itu bisa jadi, tapi kenapa di waktu yang secara bersamaan ada pembegalan dan pencurian segala. Habis itu percobaan pembakaran di dalam gedung mall."
"Aku gak terlalu mengerti, melihat berita nya aja cukup mengerikan dan itu beneran kejadian."
"Emang itu jauh lebih mengerikan, kita aja gak merasakan dampak nya. Kurasa itu memang kebodohan mereka."
"Coba bayangkan ada seorang penculik, pencuri yang tinggal di lingkungan rumah kontrakan kita. Kalau kamu diculik dan dijual entah berantah, apa yang kau rasakan terlebih dahulu?"
"Melawan mereka," jawabnya tanpa pikir panjang.
"Kau diculik, otomatis tangan, kaki, mulut dan mata mu diikat sama ditutup. Gimana caranya kamu melawan, berteriak, melihat dan meminta tolong."
"Untuk seukuran manusia biasa memang gak bisa berbuat apa-apa dan pasrah begitu saja. Aku ini putri dari keturunan suku Dayak yang memiliki pelindung gaib tak kasat mata dan bisa berkomunikasi dengan makhluk sekitar membantu ku bisa melepas diri."
"Berarti kamu bersekutu dengan makhluk tersebut?"
"Bukan bersekutu sih, lebih tepatnya tunduk pada ku. Energi positif yang ku pancar mempengaruhi hal yang sekitar. Hal-hal yang tidak kuinginkan tak akan terjadi."
"Berarti kamu memiliki keperuntungan yang besar?"
"Kurasa gak juga. Keberuntungan itu cuma perasaan mu saja, kalau dijelaskan kamu tau fungsi benda magnet?"
"Ya."
"Jika positif ketemu negatif akan saling berdempetan, tapi energi positif di dalam diri manusia akan menarik energi positif lebih banyak lagi. Hal-hal yang negatif akan menghilang, tapi kita perlu menyeimbangkan energi tersebut. Contohnya kemarin kamu gak percaya sama omongan ku, Yuda meminta mu untuk bercerita dan menjelaskannya ditambah Budi ikutan juga."
"Maksud mu?"
"Budi sama Yuda memilki energi negatif yang seimbang, kita memerlukan orang-orang tersebut di kehidupan untuk saling memahami satu sama lain. Jika semalam aku menanyakan pada mu pasti akan terdengar sedang diintograsi kan?"
Aku gak percaya, Linda berspekulasi seperti itu. "Kamu sedang meniru Yuda atau Budi?"
"Tidak sopan sekali. Ini hasil pemikiran ku sendiri, intinya kita sama-sama saling membutuhkan satu sama lain." Ia memukul punggung ku yang kedua tangan sedang membawa tas besar berisi pakaian bersih.
"Jadi, kau sebagai laki-laki pembawa energi positif. Jangan bersikap dingin dan cuek seperti mereka. Aku tidak ingin dikerumuni oleh laki-laki pendiam yang pasif, harus ada satu orang memerankan ikut aktif juga sama sepertiku."
Aku paham sama omongannya Linda, "Berarti aku harus suka menganggu seperti mu?"
"Bukan. Kau jadi dirimu sendiri gak masalah, bersikap lah seperti sesosok Rido dengan tampang bodoh mu tersebut."
"Kau mengejek ku."
"Itu yang aku maksudkan. Kenyataannya kau memang bodoh sama tindakan mu sendiri yang tidak dipikirkan dua kali."
"Berisik. Berhenti mengejek ku."
"Eits—Jangan sampai jatuh pakaian bersih mereka, nanti kena marah sama Yuda."
Ia ke sana-kemari sambil mengejek ku. Biarkan aja sampai bosan, Linda semakin ngelunjak. "Sayang sekali, Rani terlibat sama kasus. Waktu pertama kali kau melihat nya langsung jatuh cinta. Sekarang kamu tau Rani orang nya seperti itu, yang suka ikut klub malam. Apakah kamu masih menyukainya dan mencoba menembaknya?"
Linda sengaja menyinggung dia, aku juga merasa sedikit menyesal menaruh perasaan kepada nya.
"Bisa aja mereka beneran pacaran sama bocah berandalan tersebut."
"Maksud mu Aska?"
"Gak kusangka kamu masih menyimpan nama berandalan tersebut di otak mu, atau kau sudah berteman dengannya di kantin?"
"Belum!" sangkal ku dengan keras. "Hanya saja mengingat mukanya sedikit ngeselin," imbuh ku.
"Tinggal rebut aja si Rani dari dia."
"Emang semudah itu?"
"Gak tau, ya pikir sendiri lah."
Keparat nih satu bocah membuat ku semakin geram. Untuk kali ini aku abaikan ia dulu, ketika sudah sampai ke kontrakan ada beberapa kendaraan yang terparkir di depan jalan rumah kontrakan kami.
"Hei hei bro, wassap dari mana kau?" Bocah berandalan beserta gerombolan nya ikut ke mari. "Mana orang kemarin yang menendang ku? Aku baru bertemu dengan teman pecundang mu."
"Aku gak tau, lihat aja sendiri apa yang ku bawa."