Dulu ada pepatah berakit-rakit kita hulu, berenang-renang ketepian. Namun sekarang kita cuma berakit-rakit doang gak bisa memupuk kesenangan tersebut.
Yuda sama Budi sudah sangat tau hal tersebut, susah nya tinggal perkotaan yang banyak persaingan, ketimpangan sosial, kesuksesan orang-orang, kerja keras mereka, banting tulang tanpa henti.
Jalanan di mana-mana macet sampai ditutup, karena para pendemo sedang meminta hak mereka untuk dipermudahkan kehidupannya, bukan diperbudak, bukan dibodohi ataupun dimanfaatkan layaknya sapi perah.
Bersekolah bagi mereka sudah hal yang istimewa, apa itu kesenangan belajar mencari ilmu apapun yang diinginkan di zaman sudah begitu modern ini dengan berbagai bantuan artificial. Tapi mereka masih sanggup berpikir dan menjaga kesadarannya supaya gak jatuh seperti orang-orang yang tidak bisa memanfaatkan teknologi tersebut.
Kami jalan kaki bersama, pergi ke tempatnya Maria. Karena gak mungkin menaiki transportasi umum kecuali kereta atau kendaraan bisa terbang yang biayanya cukup mahal untuk satu penumpang.
Para kelas menengah sudah mulai turun lagi menjadi kelas bawah. Cuma satu kebijakan konyol terbentuk yaitu monopoli kekuasaan yang haus dengan pemimpinan untuk mengontrol masyarakat lebih bodoh lagi.
Mereka gak mencabut hal tersebut, sudah gak ada niatan. Maka dari itu sejarah mulai terulang kembali seperti diakhir abad 19.
Aparat keamanan merupakan tangan kiri yang layaknya boneka mainan bisa diarahkan ke mana saja, pertama kali yang mereka incar adalah perusahaan dalam negeri yaitu BUMN terlebih dahulu, untuk menuruti kebijakan kemauan mereka secara politik.
Pihak yang paling berdampak yaitu masyarakat kelas bawah, soal pemalakan pajak untuk menyokong kerakusan mereka.
Jika ada perlawanan yang terjadi, contoh demo ini akan berakhir menjadi kericuhan nanti siang saat sudah semakin panas dan semakin lama gak dijawab, mereka rela turun ke jalan meluangkan hari libur nya, untuk mengembalikan hak nya.
Dan hal itu akan terjadi lagi secara pengulangan, apabila korban pendemo ada yang terbunuh oleh pihak aparat secara brutal menenangkan mereka.
"Kenapa hal ini bisa terjadi?" tanya ku.
"Kebutuhan paling mendasar manusia itu apa?" tanya Yuda ditengah keramaian kami berjalan tanpa berhenti.
"Nafsu?" jawab ku yang masih ragu.
"Kalau temannya itu siapa?" tanya nya lagi.
"Ego," jawab Budi.
"Itu semua pasti ada pemicunya. Apa yang pertama kali dilirik manusia jika diberikan kekuasaan, kekuatan, uang yang banyak tanpa batas."
"Mmm ... Bersenang-senang," jawab Linda dengan polos.
Yuda tertawa mendengarkan jawaban tersebut, "Itu memang benar. Mereka seolah berada di dunia simulasi yang sedang dikendalikan, para konglomerat sudah mengincar pulau ini. Dadu sudah digulirkan sejak lama, pion yang berada di bawah hanya terpaksa menerima konsekuensi nya. Gimana caranya mendapatkan perlawanan tersebut?"
"Mendapatkan uang yang banyak," jawab ku.
"Pengetahuan. Mereka akan melakukan jaman kebodohan di periode pertengahan abad 20 nanti. Kemampuan berpikir otak kita akan disegel terlebih dahulu dengan cara dibatasi."