Rani merasa malu pada dirinya sendiri, setelah mengucapakan ada urusan lain. Ternyata ia berada di sini karena paksaan dari Maria. Linda ingin tau tidak ingin memaksakan nya demi kenyamanan nya juga, biar gak risih tapi ia malah mengajaknya.
"Mau pergi jalan-jalan bersama?"
"A-Aku gak ganggu kalian?"
"Gak gak, aku merasa senang jika kau ikut."
Ia mencoba membalas keramahannya Linda, tapi senyumannya terkesan sedang dipaksa kan. "Apakah kamu masih ingat dengan saran ku?" ujar Maria.
Rani terlihat sedang mempertimbangkan melihat kita sebagai lawan jenis, ia agak sedikit canggung. "A-Aku boleh ikut?"
"Ya." Linda memeluknya menerima keputusan beraninya. Ia jadi kerepotan gimana menanggapi nya, keputusan sudah ditentukan sekarang kelompok kami sudah seimbang, tiga banding tiga.
Dan saling berpasangan satu sama lain, aku ya sesama cowok bareng si Budi dan berjalan mengikuti dari belakang mereka.
Tapi Yuda melambatkan jalan kakinya untuk menunjukkan kendaraan yang akan dinaiki sampai ke stasiun kereta.
Enam orang muat dalam satu kendaraan, Budi bersama si supir, dua orang berada di belakang. Aku berada di tengah samping pintu, Linda paling kecil berada disebelah ku. Rani ada di sisi sebrang nya. Mereka berdua mulai saling mengobrol sendiri.
"Yuda ..."
"Apa?
"Apakah ini disebut kencang _triplet_?"
"Apa maksud mu kencan triplet? Apakah mereka bertiga punya perasaan satu sama lain, seperti kita?"
"Jangan berkata begitu, kenapa kau kesananya seperti gak suka."
"Itu hanya perasaan mu saja, ini cara berbicara ku. Kau ingin memamerkan hubungan kita pada mereka? Buat apa?"
Yuda mengerti perasaan kita, sebagai laki-laki yang belum punya pasangan.
"Yaah ... Biar status kita di depan mereka semakin jelas."
"Lebih baik kau turun dari sini dan jalan kaki balik ke gereja."
Kenapa ia bisa mengucapkan hal tersebut kepada nya? Pasti gak semua perempuan menyukai hal tersebut.
"Maaf."
"Maaf? Apakah kau berbuat salah pada ku?"
"Enggak."
"Jadi itu untuk siapa permintaan maaf tersebut?"
Maria terdiam sejenak, hatinya mungkin gak karuan di awal perjalanan kita baru mulai.
"Sudah selesai meminta pengampunan?"
"Ya."
"Sudah aku katakan, kita hanya ingin berbelanja, kalau bersenang-senang ketika setelah selesai menyelesaikan kebutuhannya. Habis itu kamu ingin pergi ke mana?"
"Aku ingin makan bersama."
"Burger," jawabnya langsung.
"Setelah itu ke wahana permainan arcade."
"Ya, terus. Malamnya?"
"Kamu ingin menghabiskan waktu sampai malam?"
Yuda melihat ke arah Linda, demikian pula gadis tersebut yang ingin menghabiskan seharian di sana.
"Bud, apakah kamu sanggup sampai malam?"
"Aku pulang sendirian sambil menunggu barang kiriman yang kita beli datang."
"Itu benar juga, ada satu orang yang harus menunggu di kontrakan. Kita akan bermain sampai larut malam."