Kami turun dari kendaraan, tidak mempermasalahkan soal biaya. Sudah ada yang menanggung, Yuda mengambang telapak tangannya ke atas gawai si-supir.
Tidak perlu membeli tiket masuk, tinggal menunggu kereta akan datang di jam yang sudah ditentukan. Stasiun nya cukup modern, bersih, minimalis, banyak sekali orang datang ke sini. Mereka memakai pakaian yang memperlihatkan kulit dan elok tubuhnya.
Seperti sedang berada di pantai, memang suhu cuaca mulai naik perlahan. Kebanyakan memakai kacamata hitam untuk menghindari silau pancaran matahari.
Yuda membawa tas miliknya Maria, ia mengoleskan pelembab kulit terlebih dahulu. Linda ikut minta menadah dua tangannya, lalu tempelkan ke lengan Rani dan mencoba menyentuh mukanya. Ia menghindar.
Secara inisiatif kami diberikan tanpa dimintai, pasti di sana suhunya akan jauh lebih panas dan lebih lembab. Cairan _lotion_-nya bikin kulit jadi adem gak terasa kering. Ku tanyakan ia memakai merek apa, ternyata ada campuran daun mint di dalamnya.
Kedua telapak tangannya mengusap wajahnya Maria secara keseluruhan, lalu giliran Linda dijahili olehnya sontak terkejut ada serangan secara tiba-tiba dari belakang.
Orang sekitar memperhatikan gerombolan kita, 'dasar sikap mereka gak bisa dikendalikan sama sekali. Aku tau kalian akrab tapi jangan di tempat umum.'
Pipinya masih dipegang oleh Yuda dan ditekan, Linda menoleh ke arah ku, "Apa Do? Kamu iri kepada ku?"
Aku menatapnya sinis, ogah sekali melakukannya. Linda berseru dengan suara yang lirih, "Tangan mu terasa dingin Yud."
Maria hanya tersenyum saja melihat tingkah laku pasangan nya tersebut.
Suara kereta begitu senyap, rodanya mengambang di atas rel. Berbondong-bondong orang mulai masuk ke gerbong menjadi sempit dan sedikit panas, udara dingin yang keluar dari dalam cuma sekedar menyambutnya. Secara perlahan suhu di dalam menyesuaikan jumlah orang di dalamnya, kami merasa sedikit nyaman walaupun berdesak-desakan.
"Sempit sekali," suara hatinya Linda kedengaran. Ia merasa terjepit di tengah-tengah kerumunan. Yuda sama Maria berada tepat di sebelah pintu keluar. Tak ada yang bisa membantu nya, bahkan aku sendiri susah berpindah.
Rani memeluknya menahan tubuh orang-orang sekitar, aku berada di samping mereka berdua gak bisa berbuat apa-apa. Jika melakukan nya Linda sudah jelas menolak secara mentah-mentah.
Rel kereta yang tadinya berada di bawah, setelah melewati terowongan bergantung di atas dan melihat pulau buatan hasil reklamasi di bagian utara kota Batavia.
Di kabarkan kota tersebut tiap tahun permukaan tanah nya turun, ini merupakan salah satu pencegahan dari teknologi yang pinjam dari zaman penjajahan, sekarang bekerja sama dengan mereka.
Sungguh ironi, tetapi itu merupakan bentuk perdamaian yang sudah terjadi. Termasuk kereta ini menggunakan teknologi dari negeri timur pencipta anime pertama kali, yang sama-sama penjajah telah membangun hubungan dengan baik. Rel ini terus melaju mengelilingi pulau secara keseluruhan, untuk pengenalan pengunjung baru datang atau yang sudah lama sering ke sini.
Termasuk Yuda sama Maria, mereka pasti pernah berkunjung ke sini. Pasti, aku tekan kan kembali dan bersenang-senang sambil memanfaatkan status mereka berdua. Kalian tau sendiri, alur perjalanan orang yang sudah berhubunganan cukup dekat. Hal intim merupakan hal yang biasa terjadi.
...
Turun di tengah kota, tak terasa seperti di atas timbunan pasir. Jalanan yang di beton dan diberikan aspal layaknya jalan premium yang ada di bandara penerbangan pesawat.
Leher ku sampai sakit melihat ke atas terus, banyak sekali gedung pencakar langit yang mengambang dari dorongan gravitasi magnet yang begitu besar dan kendaraan-kendaraan modern terbang di angkasa.
Ini sudah seperti beda negara saja. Aslinya memang gak ada keterikatan sama pulau Jawa.
Pulau buatan ini hasil dari 5 negara besar yang disatukan jadi satu, China dan Jepang sebagai vendor utama bekerja sama dalam perluasan lahan dan teknologi nya. Singapura sebagai distributor investasi perkantoran paling besar. Kedua pulau besar Sumatera dan Borneo menjadi pemasokan barang yang berkualitas.
Terus pulau Jawa ngapain? Para pejabat lebih suka memeras dan membodohi para rakyat nya sendiri dengan kenaikan pajak yang gila-gilaan, gak memperhatikan perkembangan pulau buatan ini yang sedang dibangun tengah laut, agak sedikit jauh dari Belitung dan Bangka Belitung yang di atasnya ada pulau Riau, bisa disebut ini adalah pulau bisnis terbesar yang terintegrasi cukup kuat.
Tiap pergantian bulan di Batavia pasti ada demo mengenai kebijakan konyol terbentuk lalu dibubarkan kalau gak cocok dan terus diulang-ulang sejak dulu sampai sekarang.