Empat Sekawan

Wakadana
Chapter #38

Chapter 4 - Scene 5

Ia memberikan isyarat tak berbicara secara panjang lebar seperti tadi. Berarti di dalam kendaraan ini ada penyadap yang sudah diatur.

Kita tidak akan memberikan informasi secara cuma-cuma, apa yang akan kita belanja nanti, menekan keinginan dan membatasi penglihatan kita, supaya gak dibaca polanya. Ini layaknya kami memakai kacamata kuda yang boleh menoleh ke kiri dan ke kanan.

Budi juga bersabar untuk hal ini dan cukup berat rintangan yang akan ia hadapi. Tapi, setelah kita turun dari kendaraan secara otomatis berada di tengah panggung konser event anime dan game terbesar sedang berlangsung, ia langsung berteriak menyebut nama pengisi suara yang sangat ia sukai dan paling favoritkan.

Satu orang telah gugur, para artificial mulai memperhatikan nya sejenis dengan Linda tapi sebagai seorang Otaku, bukan anak kecil.

"Haruna-saan"

"Haik ..."

Yuda memberikan isyarat untuk meninggalkan Budi untuk sementara waktu, ia tidak mempermasalahkan nya. Dummy artificial nya bisa menjadi alat pelacak, Yuda lupa kasih tau hal penting pada kita.

Itu memang secara kesengajaan, supaya kita sadar sendiri. Dummy artificial ini sama seperti metode satu, hanya saja kita harus jaga sikap, perilaku, pandangan, ucapan yang dikeluarkan, kalau tidak 0,0001 detik retasan alat ini akan langsung diketahui sama mereka.

Dan hal itu langsung terjadi pada ku, diuji coba melewati rasa iba ku yang terbawa emosi. Ada orang yang gak secara sengaja menendang tongkat alat bantu berjalan, mereka mengira karena masih muda tidak mempermasalahkan, orang yang jatuh tersebut bisa berdiri lagi seperti biasa. Tetapi sikap cuek, dingin dan gak membantu, yang lebih parah mereka gak meminta maaf atau merendahkan dirinya bahwa sudah berbuat salah secara tidak sadar.

Sifat ku ini ingin membantunya, mengambilkan tongkat orang tersebut dan membantunya berdiri lalu menanyai, "Apakah lutut mu terluka?"

Ia memegang dibalik rok renda panjang nya menyentuh bagian kulitnya, terdengar cukup keras harus menahan rasa sakit.

"Gak apa-a—," ekspresi nya seperti sedang menahan rasa sakit.

"Maaf, kalau aku gak bersikap sopan." Langsung ke sentuh tumit dan mata kakinya. Ada bagian yang lebam, ia terkilir ringan harus diperban.

Dia berjalan aja kesusahan, berdiri pun harus menahan rasa sakit. "Maaf, bisa naik ke atas punggung ku. Akan aku bawa ..." Bawa ke mana ya? Apakah di mall super plaza ada UKS atau ruang perawatan?

Ia langsung naik ke punggung ku tanpa pikir panjang, "Pergi ke Apotek yang ada di lantai satu."

Jauh sekali jaraknya, kami bertiga baru turun di atas panggung lantai tiga harus turun dua lantai, bodoh amat soal itu. Gak peduli banyak orang yang sedang memperhatikan kita berdua, kedua tangannya juga memegang kedua pundak ku ini.

"Maaf, orang baik yang membantu ku nama mu siapa?"


"Panggil aja Rido."


"Aku Silvia. Kenapa kamu membantu ku?"


Dari situ ia menanyakan nya? "Jika ada orang yang kesusahan atau mengalami musibah harus ditolongin."

"Apakah itu kesadaran mu sendiri atau alam bawah sadar mu yang bertindak secara natural?"

Aku gak berpikir sejauh itu, "Mungkin secara natural aku membantu mu."

"Kenapa? Bisa aja itu terjadi secara kesengajaan, aku merencanakan semua itu untuk menarik rasa kasihan orang-orang sekitar dan tongkat yang aku pegang mungkin hanya sebatas aksesoris semata."

"Jika itu memang benar, aku tetap akan membantu mu. Melihat kaki mu terkilir ringan, kau pasti makin kesusahan untuk berjalan meskipun dibantu dengan tongkat."

Lihat selengkapnya