Empat Sekawan

Wakadana
Chapter #39

Chapter 4 - Scene 6

"Laki-laki yang sangat menarik sekali, dia rela datang ke sini untuk menemui mu."

Sepertinya ia sedikit tertarik dengan Yuda setelah kedatangan nya tiba.

"Apakah kau suka tipe lelaki yang seperti itu?"

"Hmm ... Sedikit. Kenapa kau bertanya seperti itu?"

"Hanya ingin tau saja preferensi umum, perempuan yang normal seperti mu. Siswi di sekolah ku kebanyakan ingin laki-laki yang kriteria nya condong seperti dia."

"Mereka hanya kebanyakan nonton drama orang luar. Dari penampilan memang harus patut diacungi jempol, bukan berarti langsung menyukainya. Apakah kau merasa kalah saing dengannya?"

"Aku sering membandingkan dengan nya."

"Rido, kau gak bisa bersaing dengan nya ataupun melampaui nya."

"Terus, apakah kau bisa mengejarnya?"

"Dalam segi apa dulu? Jika kecerdasan, bersosisal dan finansial aku jauh lebih unggul dari nya. Apakah kau punya foto milik nya?"

"Itu buat apa?"

"Jangan beritahu siapapun, aku sedang memeriksa data kemampuannya yang terhubung dengan sistem sekolah."

Aku berikan saja gambar nya, Silvia mengenakan kacamata khusus yang tercantol di gaun putihnya yang cocok sekali dipadukan dengan rok panjang berendanya.

"Gimana?"

"Mencurigakan sekali, data mengenai laki-laki tersebut gak bisa diakses ataupun diketahui. Banyak hal informasi tentang nya disembunyikan cukup misterius."

Aku melihat mukanya melalui pantulan pupilnya melebar, ia berekspersi cukup terkejut dan langsung menjatuhkan kacamata dan diinjak ke lantai sampai hancur.

"Silvia, kenapa? Bisakah kamu menjelaskan nya?"

"Saat aku sedang mencoba meretas nya, langsung terkena serangan balik cukup cepat."

Ponsel ku berdering kembali, Yuda menelpon ku lagi. "Berikan panggilan ini ke perempuan rubah sebelah mu."

Mau aku nyalakan mode speaker, secara otomatis sudah aktif sendiri.

"Apa yang ingin kau cari? Mau mencari musuh?"

Ia terkikih menahan tawanya, "Kau siapa?"

"Silvia Westonia, putri konglomerat dari Weston corporation di Singapura. Mall super plaza ini sebagain besar milik keluarga mu."

"Dari mana kau mengetahui identitas ku?"

"Kau sendiri yang melakukan nya secara sengaja, ketika kau mencari nama ku melalui foto, sudah aku tanamkan virus internet yang tersembunyi seperti kanker. Bukankah itu gak sopan, jika kau masuk rumah orang lewat pintu belakang. Itu konsekuensi yang kau dapatkan."

"Seberapa jauh kau menyusup nya."

Alarm pemadam kebakaran berbunyi, orang-orang mulai pada panik lalu mati sendiri. Diteruskan ada pengumuman melalui speaker mall, atas ketidaknyamanan nya, gangguan sistem yang sedang terjadi.

"Jangan salahkan aku, mau secanggih apapun sistem kemanan artificial yang terintegrasi sama Mall ini. Kau sudah memberikan masterkey secara cuma-cuma. Jangan remehkan orang lain dan jangan memanfaatkan teman ku yang ada di hadapan mu. Kita berdua mirip, jadi aku tau jalan pikiran mau mengarah ke mana."

Silvia melakukan kesalahan fatal yang tidak bisa diulang, Yuda membuat kesepakatan. "Jangan simpan data-data pribadi, pola sikap kita, ketertarikan, sifat, keinginan dan mengambil gambar mukanya. Aku sudah kirimkan foto ke server pribadi mu sendiri. Jika ada satu data, bila kucari muncul. Akan aku matikan sistem mall super plaza ini dan mengalami rugi triliun dolar."

"Baiklah. Akan aku usahakan sebaik mungkin, kumohon jangan matikan sistem utamanya."

"Tenang saja, aku hanya pengunjung biasa yang ingin berbelanja. Janji kita akan dipegang secara baik-baik, aku percaya pada mu, jadi jangan kecewakan aku." Yuda menyudahi panggilan nya.

Silvia merasa murung dan panik sendiri, "Aaaa~~ Gimana nih, jika papa tau aku diberikan masterkey nya secara cuma-cuma. Bisa-bisa kena omel dan gak diizinkan ke pulau buatan ini."

Ia menyalahkan dirinya sendiri sambil mengumpat, aku pegang dua lengannya untuk menenangkan nya dan menjelaskan kepribadian Yuda sebenarnya itu gimana.

"Beneran, ia pegang kata-katanya?"

"Ya. Aku janji dan berani mempertaruhkan kepercayaan ku sebagai gantinya. Jika kau mengikuti perkataan nya, Yuda gak akan berbuat merugikan mu."

"Bolehkah aku pinjam ponsel mu sebentar, aku mau hubungi kepala mall super plaza ini untuk menindaklanjuti."

"Silahkan," pasti kacamata yang ia hancurkan merupakan alat komunikasi nya.

"Ya, halo-halo." Silvia bersikap normal kembali, satu detik sebelum nya ia jatuh stress dan bingung mau ngapain, ia menjelaskan tentang kesalahannya sendiri dan apa yang terjadi. Para penjaga dan kamera keamanan memperhatikan setiap gerak-gerik nya Yuda, jangan sampai berbuat macam-macam dengan nya. Bukan untuk diburu atau dihentikan secara paksa. Itu keputusan yang paling bijak, tapi itu semua gagal dan para penjaga keamanan mencoba meringkusnya, namun mereka semua mengalami cidera yang sama yaitu tangan yang terkilir karena dipelintir ke belakang, sampai persendian lengan kirinya berbunyi.

Lihat selengkapnya