Empat Sekawan

Wakadana
Chapter #40

Chapter 4 - Scene 7

Silvia langsung bangun berdiri, ia terus menggenggam ku cukup erat berlari menuju lift terdekat dan naik ke atas lantai lima.

"Serahkan diri mu! Itu merupakan tembakan peringatan, jangan coba-coba melawan."

Para pengunjung tidak ada yang kabur ataupun melarikan diri, mereka pikir itu merupakan aksi panggung sebuah event yang tidak direncanakan oleh pihak manapun.

"Catch me if u can," balas Yuda yang tidak aku mengerti ia ngomong apa.

Suaranya keluar dari berbagai arah speaker yang ada di lantai lima. Anjing robot yang maju terlebih dahulu, Yuda langsung melepaskan kancing bajunya menggulung tangan kirinya sebagai perisai. Tak ada pilihan selain melawan, layar kamera di atas dari berbagai sudut menampilkan aksinya.

Data mengenai dirinya diambil dari berbagai arah, cara melawan robot anjing dengan begitu efektif. Silvia mencoba menerobos masuk tubuhnya yang lebih pendek dari ku, cukup tinggi dari Linda. Sekeliling mata ku bisa melihat dengan jelas layar monitor yang kecil ataupun besar, mungkin sudah diretas semua oleh gawainya Yuda yang bisa menangani semua sistem yang bekerja dalam satu perangkat.

"Hentikan ..." Teriakan Silvia gak bisa mencapai orang yang ada di sana, ia harus benar-benar ke depan sambil membawa untuk bisa menangani rasa takut dan trauma nya bila kambuh lagi.

"Hentikan semua ini!"

Suara tembakan yang begitu keras, Yuda menangkisnya dengan salah satu kaki robot anjing yang sudah dilepas dan diarahkan semuanya ke atas.

Lompatan ledakan yang begitu cepat, sebelum mereka semua bereaksi membidiknya. Yuda bisa aja mematahkan lehernya dan mengakhiri hidup mereka. Ia memilih menghancurkan tulang jari mereka ataupun lengannya sampai memar.

Satu petugas ia cekek ke atas untuk mengakhiri itu semua, layaknya melihat aksi brutal yang ada. Dia malah membanting ke bawah cukup keras sampai tak sadarkan diri.

Alarm kebakaran dan gempa dibunyikan secara bersamaan, untuk membubarkan para pengunjung dan penjaga toko di sini.

Ia sudah tau kita akan mencarinya dan menghentikan nya, di mata Silvia—Yuda merupakan orang jahat. Ku harap mereka bisa berbaikan dan saling mengerti.

Tangannya mau menyerang kita, tetapi ia pindah haluan mau mencekik Silvia. Sebelum itu semua terjadi, denyut nadinya begitu terasa dari genggaman telapak tangan nya. Yang ada di hadapan matanya merupakan sosok yang menakutkan dan jatuh pingsan terlebih dahulu sebelum disakiti.

"Kita harus kabur dari sini dan pindah tempat, aku sudah membuat diri kita tidak terlihat oleh kamera keamanan, jika suara tidak bisa dilakukan."

Sudah kuduga Yuda bisa melakukannya sejauh itu tanpa meminta kepada Silvia. Aku menggendongnya dan terus naik ke atas gedung, sebuah kendaraan melayang turun ke bawah. Itu saja sudah begitu mencurigakan, ia dibalik semua itu dan merencanakan nya.

Kami pun masuk ke dalam, "Sudah seberapa jauh kau tau hal ini?"

"Seberapa jauh? Apa maksud perkataan mu Do? Seolah-olah aku adalah aktor jahatnya."

"Ya. Bagi Silvia, kau ada pemeran jahatnya dan menghilangkan pengaruh hipnotis nya, trauma ia muncul kembali."

"Itu resiko bila terlahir dari keluarga Konglomerat, pasti banyak sekali orang jahat disekitar nya termasuk aku juga." Dia malah mengakuinya.

"Jika ia tidak mencari tau tentang diri ku, hal ini tak akan terjadi. Dia pasti panik memberitahu pemilik mall super plaza tersebut dengan laporan apa adanya. Tak mempertimbangkan kericuhan yang terjadi, lalu pihak keamanan itu merupakan tindakan kriminal yang harus ditangkap dan di hentikan bukan untuk diawasi."

Perkataan nya tepat sesuai apa yang diperkirakan Silvia.

"Sejak awal masterkey tersebut sistemnya terus diperbarui dan diperbaiki. Secara perlahan mereka memaksakan ku untuk menggunakan nya lewat cara kekerasan di publik. Jika gak dituruti, aku akan menghadapi ribuan robot dan para penjaga yang keras tersebut kulitnya, di satu sisi aku yang kewalahan."

"Jadi, mereka semua bukan manusia?"

"Mereka hanyalah imitasi dari manusia dan orang yang sedang kau pegang erat ada bagian teknologi yang tertanam pada dirinya. Aku hanya mengancamnya secara langsung di chip yang tertanam di dalam otaknya. Itu merupakan pemicu yang membuat data visual dan ingatan traumanya muncul."

"Berarti Silvia bukan manusia?"

"Dia manusia tulen, masterkey yang ada di dalam otaknya akan kembali ke pemiliknya, percuma bila dipegang berlama-lama hanya berfungsi waktu ia sedang terbangun saja, bila ia tidur akan dikembalikan. Makanya aku me-reboot ulang secara dipaksa, dan menghampirinya dengan sosok yang membuat rasa trauma nya muncul begitu besar."

Jadi itu, ia melakukan semua itu demi melindungi Silvia tetapi kenapa caranya harus merepotkan begitu, "Apakah ada efek samping nya?"

"Efek samping? Aku bisa memerasnya dan mendapatkan apa yang aku mau."

"Seriusan kau bilang begitu?"

"Rasa takut tak akan hilang semudah itu di dalam ingatan nya, kesan ku terhadap nya sudah buruk. Hanya sebagai orang yang harus dihindari sebisa mungkin. Anggap aja aku adalah bencana itu sendiri yang hidup sebagai manusia."

Silvia mulai tersadar kembali, ia langsung menjerit ketakutan karena begitu dekat dengan Yuda. "Menjauhlah dari ku dasar monster."

Ia menutup mukanya dan berbalik badan bergemetar menghadap tubuh ku.

"Dasar bocah tengik yang gak tau terima kasih," kesal Yuda.

"Berisik. Jangan berbicara di belakang ku," namun tubuhnya tidak bergemetar sama sekali dan gak mengeluarkan keringat dingin.

"Silvia ... Silvia ... Apakah kamu bisa mendengarkan ku?"

"Rido, jangan lepaskan aku darinya. Aku tidak ingin diperlakukan buruk oleh monster tersebut."

Yuda menendang kendaraan nya sampai bergoyang, "Kau mau membunuh kita?"

"Aku tidak suka berada di satu tempat yang tidak menghargai ku sebagai manusia. Jangan samakan aku sama mereka."

"Kau tidak berhak mengucap—"

Tubuhnya ditarik ke arahnya dan memutarkan secara paksa, "Kalau mau berbicara atau ngeluh pada ku harus berhadapan secara langsung."

Dengan kondisi yang tidak memakai busana, bajunya Yuda masih digulung di lengannya. Ia memegang dagu dan pipinya dan ditekan cukup kuat.

"Buka mata mu, di sini ada dua laki-laki. Apakah kamu sedang mengharapkan sesuatu yang lain?"

Kedua tangannya langsung menutupi dadanya, sepertinya kedua matanya terbuka dengan lebar. Tau apa yang dimaksudkan perkataan nya Yuda.

"A-Apa yang mau aku lakukan?"

"Tidak ada."

"Bohong, laki-laki merupakan makhluk paling mesum yang pernah diciptakan."

"Terserah kau saja, aku ingin berbicara pada mu. Tuan putri anak perusahaan Weston. Masterkey nya akan aku hapus jika kau menuruti keinginan ku."

"A-A-Apa yang kau inginkan? Aku mau dibawa ke mana?"

"Hotel terdekat di sini, baju ku bersimbahan sama cairan aneh dari penjaga keamanan manusia robotik tersebut. Aku tidak ingin berbelanja dalam keadaan kotor dan bau seperti oli."

"Ri-Rido, tolong bantu aku." Ia mencoba meraih tanganku dan memundurkan tubuhnya.

"Kau sepertinya nempel sekali sama teman ku ini. Apa yang membuat mu tertarik?"

"Dia jauh lebih baik dari mu dan kau orangnya jahat, sangat jahat."

"Rido, apakah menurut mu aku ini jahat?"

Ia malah main tebak-tebakan dengan ku. "Tergantung situasi nya, karena aku sudah mengenal mu, orangnya gimana. Aku yakin kau gak akan merencanakan hal-hal yang aneh padanya."

"Bohong, aku gak percaya sama sekali. Apakah kalian sedang bekerja sama? Rido kau berada dipihak nya kan?"

Yuda mengeluarkan gawainya, sepertinya sedang menghapus seluruh data yang ada di sana dan memperlihatkan kepada-nya.

"Itu tadi barusan apa? Jangan hancurkan bisnis papa."

Yuda hanya terdiam gak menjawab pertanyaan nya.

"Kenapa kau diam saja, Rido bisa bantu aku mengartikan nya?"

Aku aja gak paham, sekarang Yuda sedang memikirkan apa.

"Bagian mana yang kau sukai dari lelaki yang ada di belakang mu?"

"Apa maksud mu? Mau mengalihkan perhatianku?"

"Enggak, Rido sudah punya incaran nya sendiri. Ada seseorang yang telah membuat hatinya meleleh."

Dengan cepat Silvia mengarah kepada ku dan menggoncang tubuh ku lagi, "Rido, apakah itu benar? Dia pasti berbohong kan?" Kenapa Silvia merasa ketakutan dari ekspresi nya begitu.

Rani pada awalnya memang sudah membuat hati ku luluh waktu pertama kali ia membantu ku, Yuda memang gak berbohong hanya saja. Dibuatkan rasa kecewa olehnya, jika tau Aska merupakan pacar nya.

"Maaf, apa yang ia katakan itu benar."

"Gimana orang nya? Siapa namanya? Apakah ia jauh lebih baik dari ku? Rido tolong bantu dijawab."

Silvia seperti nya penasaran sekali. "Dia baik pada ku waktu pertama kali bertemu, sama seperti mu kejadiannya. Perempuan tersebut namanya Rani, kalau dibandingin aku tidak tau. Akan terdengar tidak sopan bagi kalian berdua," jelas ku.

"Apakah ia ikut bersama mu ke sini?"

Dengan berat hati aku mengatakan, "Ya. Dia ikut ke sini."

"Sekarang hubungan kalian gimana?"

"Baru berkenalan, aku berbicara padanya agak sedikit canggung dan susah mencari topik yang tepat."

"Begitu ... Oh begitu ... Baru berkenalan," entah kenapa Silvia tersenyum dan merasa senang.

"Kau jujur sekali pada perasaan mu sendiri," Yuda mendorong tubuhnya menggunakan kakinya dan menekan ku cukup kuat.

"Monster. Jauhkan kaki mu dari ku."

"Kau sendiri ingin menjauh dari ku kan? Maka aku bantu dengan cara ku sendiri."

"Yuda, bisakah kau tidak bersikap kasar pada nya. Trauma dan rasa takut nya bisa muncul kembali."

"Kau jangan pura-pura bodoh begitu, masterkey nya sudah aku kembalikan. Dibagian chip di dalam otaknya nya sudah berfungsi normal. Emosi dan suaranya jauh lebih stabil, ketika waktu pertama kali aku datang dan berhubungan lewat telepon. Dia hanya merasa senang, jika aku diperlakukan seperti ini dan lihat muka bodohnya. Tersenyum atau tidak?"

Silvia gak mau menunjukkan nya, Yuda gak mendorong nya lagi. Waktu tangan ku mengangkat wajahnya, ia terlihat senang dan menyeringai tanpa henti. "Bukan gitu Rido, Bukan gitu ... Aku bisa jelaskan."

Kendaraan nya turun di atas hotel yang sedang dituju oleh Yuda. Ia menarik Silvia dan melepaskan cengkraman nya dari ku, lalu dilempar ke salah satu pengawal dengan tubuh yang begitu besar.

"Kerja bagus Tuan Ibrani."

Lihat selengkapnya