Empat Sekawan

Wakadana
Chapter #41

Chapter 4 - Scene 8

"Ahahaha ... Mariiiaaa ... Raaaniii ..." Sudah terdengar suara Linda yang kesenangan sedang bermain. Meskipun dari kejauhan belum sampai, jika ada satu gadis berlari-larian mengenakan baju renang seperti pakaian dalam.

Menyapa satu orang yang memperhatikan ku dari belakang, si-Rani. Ia sedang bermain bersama Maria di pinggir pantai bersama anak-anak lain yang ada di sana.

"Kamu berpisah sama mereka?"

"Bisa dibilang begitu dan banyak hal yang terjadi."

Rani terlihat menyembunyikan sesuatu dari ku, padahal sudah berganti suasana ada hal yang mengganjal dalam hatinya.

"Kamu gak merasa suka atau nyaman berada di sini?"

"Sedikit, aku jarang berkunjung ke tempat-tempat yang bagus. Mereka berdua sudah tau, tetapi tidak bilang kepada ku untuk menghancurkan suasananya."

Memang benar, Linda pasti akan lebih mengkhawatirkan nya ketimbang kesenangan nya sendiri.

"Mereka berdua gimana?"

"Yuda sama Budi?"

Rani terdiam gak menjawab.

"Budi sedang berada di event besar Anime sama Game. Kami mengandalkan Yuda untuk berbelanja sendiri. Aku berpisah dan kehilangan jejak mereka berdua."

"..." Ia hanya mendengarkan tidak mencoba menarik topik lainnya.

"Kenapa kau ikut ke sini? Apakah sedang ada masalah di rumah?"

"..." Dia terdiam sejenak dan mulai bercerita, "Sebenarnya, teman itu apa Do? Apakah harus tunduk satu sama lain? Dimanfaatkan? Atau saling memanfaatkan? Kau bukan asli dari perkotaan kan? Sama seperti Linda. Gimana caranya kalian bisa berteman begitu akrab. Apakah cuma kalian berada dari luar, jadi memiliki nasib yang sama?"

"Bukan begitu. Teman bisa diartikan berbagai macam hal, mereka saling peduli. Bahkan ada yang bersikap cuek, tapi ia diam-diam memperhatikan kita. Ada yang terbuka sama dirinya sendiri, Linda sebagai contoh nya. Yuda dulu orangnya hampir sama seperti Budi, tetapi dia mencoba berkomunikasi dengan dekat. Sampai begitu akrab mereka berdua, untuk kasusnya Budi agak berbeda. Ia tidak mau membukakan hatinya jika gak mendapatkan keuntungan atau gak sesuai hobi yang ingin ia bicarakan. Kadang-kadang, ia peduli di waktu yang tepat. Kebanyakan si-Budi ingin selalu menyendiri untuk menikmati hobinya. Aku hampir sama seperti Linda, ingin berteman setiap orang yang aku temui, membantu mereka meskipun masih belum mengenal. Aku belajar banyak hal di sini untuk mewaspadai apa yang ada disekitar, biar gak dimanfaatkan. Kamu sendiri dekat sama Aska, itu gimana kejadian nya?"

Rani agak sedikit berat, tidak mau menceritakan nya. "Sebenarnya ... Aku tidak begitu dekat dengannya."

"Kenapa? Kalian berciuman di ruang BK dilihat oleh dua guru sama kita."

"Itu hanya akting belaka, mereka semua yang ada di kelas adalah teman bohongan. Aku sekedar mengikuti siswi yang ada di sana, berbeda rasanya dengan di sini. Apakah aku sengaja dimasukkan di kelas itu atau kurang beruntung, bertemu sama mereka."

"Aahh ... Hmm ... Kenapa gak ceritakan saja sejujurnya, pada mereka?"

"Di jurusan mu ada pembulian?"

"Kurasa tidak? Pembulian itu gimana maksudnya?" Aku tidak pernah merasakan, mengalami dan tau hal itu.

"Beruntung nya kau ini, pasti dibesarkan di keluarga Cemara."

Aku memang terlahir dari keluarga cukup beruntung yang memiliki kedua orang tua pengertian sama anak-anak nya.

Lihat selengkapnya