Empat Sekawan

Wakadana
Chapter #42

Chapter 4 - Scene 9

Kali ini Silvia mengenakan pakaian yang tertutup kembali secara normal, sama seperti waktu pertama kali bertemu. Dia tampak berbeda dan segar, lalu menjulurkan tangannya untuk mengembalikan tiketnya sebagai persyaratan untuk masuk ke dalam.

"Kamu suka makan makanan daging?"

"Itu favorit ku."

"Syukurlah, aku gak membuang semua makanan daging tersebut. Rasa takut dan trauma ku terkadang muncul kembali."

"Kamu belum benar-benar mengatasinya?"

"Kata dokter pribadi ku, harus menerapkan terapi dan selalu mencoba jika ada keinginan mendalam. Jadi, harus mencari orang yang benar-benar bisa menikmati daging tersebut, supaya aku lebih tertarik dan penasaran."

"Berarti kamu ingin melihat ku, gimana cara menikmati dan makan daging yang akan disajikan?"

"Benar. Jadi ... Maaf telah merepotkan mu kembali, aku juga agak merasa takut jika tidur nanti malam, akan membawa dampak buruk psikologis ku. Bisakah kamu menemani ku di sini sampai esok hari? Jika kamu gak mau, aku tidak akan memaksan mu."

"Kamu tidak keberatan ada laki-laki di ruangan ini? Kenapa gak dokter pribadi mu untuk tetap menjaga mu?"

"Aku sudah memintanya, beliau gak cuma ngurus aku doang. Sebenarnya ia dokter pribadi satu keluarga besar, sering bolak-balik antara ke sini dan negara sebelah. Jadi tidak memungkinkan satu dokter menangani semuanya."

"Tapi, ada teknologi dokter artificial. Kenapa gak gunain itu saja? Biaya nya dan perawatannya jauh lebih murah."

"Ini bukan soal biaya yang ditanggung, esensi kita sebagai manusia harus bergantung juga pada manusia. Aku bisa membawa robot ke sini yang sudah dimodifikasi menyerupai manusia, tetapi ia hanyalah mesin bukan manusia sempurna. Manusia masih memerlukan sebuah kehadiran seseorang yang nyata, supaya tidak kesepian."

"Baiklah, terus di mana makanannya?"

"Kamu bersikap baik pada ku atau pura-pura tidak peduli, ke sini ... ikuti aku."

Kamar hotelnya gak langsung masuk ke dalam ruang istirahat nya. Ini seperti apartemen kecil dan meja makannya berada di bawah lalu duduk di atas tikar dari anyaman ditenun.

Silvia mengambil daging di dalam lemari es kecil lalu dihangatkan kembali menggunakan mikrowave. Ia menjelaskan daging tersebut aman untuk dikonsumsi, berasa dari daging kelas atas yang disebut Wagyu.

"Wahyu?"

"Wagyu, daging sapi kelas A5. Melihat warnanya kemerahan tersebut masih belum terbiasa."

Ia menaruh garpu, pisau kecil lalu piring yang ada daging potongan kecil. Tangan ku sudah tidak sabar, mencoba memasukkan potongan daging tersebut ditelan secara utuh.

"Rido ... Hmm ..." Ia terlihat marah. "Kamu harus makan sesuai etika, bukannya harus mengucapkan do'a terlebih dahulu?"

Aku kelupaan hal itu, mencium aroma bau daging mulutku sama perut ku mengambil alih rasa lapar ku.

"Selamat makaa—" Silvia masih tampak marah, memperhatikan ku dari samping.

"E-t-i-ka, saat kau makan di depan orang. Cuek aja gitu?"

"Aku harus gimana? Biasanya cara makan ku begini, gak ada yang protes."

Silvia mengambil garpu dan pisau kecilnya, ia meletakkan kembali potongan daging yang utuh, lalu dipotong dalam bentuk kecil yang tertancap di garpu. "Aaa ... Buka mulut mu."

Aku menurutinya saja, tekstur dagingnya seperti mentega dan langsung pecah secara menyeluruh menyebar ke mulut ku.

"Kenapa kamu senyam-senyum sendiri? Apakah sebegitu enaknya?"

Aku mengambil garpu dan pisau kecilnya yang sedang ia pegang, Silvia harus merasakan kenikmatan yang mewah ini.

"Kamu mau menyuapi ku?"

"Cicipi aja dulu, kau pasti akan merasakan apa yang ku rasakan."

Mukanya terlihat pucat dan terlihat berkeringat dari dekat, Silvia sedang mengatasi rasa trauma nya tersebut. Aku sedang tidak memaksa nya hanya untuk berbagi perasaan ini.

Rautnya yang tampak buruk dengan kedua mata yang tertutup begitu rapat, perlahan mulai melunak dan merasakan dari kunyahan pertamanya terdengar begitu nyaring. Waktu ia menelan gak sadar sudah menghabiskan satu potongan kecil daging sapi tersebut.

"Rido ... Aahm ..." Ia ingin minta disuapi lagi, Silvia ternyata bisa melakukannya. Sekarang giliran ku memotong daging tersebut ukuran kecil dan menikmati lagi.

Sisa satu potongan, ku berikan garpu sama pisau kecilnya. Untuk mencobanya makan sendiri. Aku memperhatikan nya, tangannya bergemetar ketakutan dan mau menolak tapi mulut nya terbuka secara lebar-lebar.

Ada konflik yang bertentangan di dalam tubuhnya, jadi aku bantu pegang tangan nya yang sedang memegang garpu, pindah ke belakang tubuhnya. Supaya kepalanya juga gak menjauh dari garpu secara sendiri.

Tubuhnya jauh lebih banyak mengeluarkan keringat nya, ia berhasil memakan potongan daging kecil tersebut.

Tapi, harus melawan gejala trauma yang sudah tertanam sejak kecil. Silvia gak mau menyerah, tantangan yang ia hadapi adalah dirinya sendiri ada penolakan dua arah.

"Maaf, Do. Aku malah ikut memakan daging yang telah ku hidangkan bagi mu."

"Tangan dan tubuh mu masih bergemetar."

Ia meletakkan garpu sama pisaunya di atas meja dan ingin berpegang tangan sebentar. "Ini sangatlah tidak mudah, aku malah merasa takut. Seperti habis makan daging manusia."

"Tenanglah, itu hanya imajinasi mu saja. Yang kita makan adalah daging sapi."

"Benar ... daging sapi. Aku barusan makan daging sapi kelas atas, bukan manu—"

Perut dan lambung nya terasa sedang memberontak dari dalam. Aku langsung menutup mulutnya dan membawa ke WC, Silvia memuntahkan seluruh daging dan makanan hijau yang sedang dicerna ada di dalam perut nya secara keseluruhan.

Ku berikan ia air putih, ada penolakan yang begitu besar di dalam tubuhnya. Silvia terjatuh lemas dan pakaian atasnya menjadi basah.

"Maaf, aku malah menunjukkan hal memalukan ini pada mu. Rasanya ada alergi berat, mau bagaimana pun aku ingin kembali perempuan yang normal pada umumnya."

Kemarin malam, aku juga mengalami hal yang serupa. Silvia melepaskan pakaian nya sendiri, belahan dadanya terlihat dan mau berganti baju.

"Rido ... Tolong ambilkan pakaian gantinya. Aku mau menghubungi dokter keluarga, terlebih dahulu."

Ia sepertinya mau berkonsultasi lebih lanjut lagi. "Gak dijawab," keluhnya.

Ponsel ku berdering dari dalam kantong celanaku, ada nomor tidak dikenal lagi. Barusan aku sudah menyimpan nomornya Rani, sekarang siapa, Yuda kah?

"Halohaa ... Ini Maria. Kamu pergi ke mana? Mungkinkah sedang berada di dalam hotel melati?" sarkas nya keterlaluan sekali.

"Rido! Padahal sudah diajak untuk makan bersama, kenapa kamu gak ada di luar?" Linda berteriak dari dalam ponsel.

"Maaf, aku pergi ke tempat lain terlebih dahulu. Bilang sama Yuda, aku gak bisa ikut."

"Emang uang mu cukup?"

"Riidoo ... Haa ... Haa ... Haa ..." Muka Silvia tiba-tiba berubah menjadi merah, aku pegang tubuhnya begitu panas. "Maaf, sistem metabolisme tubuh ku menurun begitu drastis."

"Haloohaa Rido? Kamu sedang bersama perempuan di sana di hotel? Jaga selangkangan mu dengan baik-baik."

Omongan Maria gak dijaga sama sekali.

"Kamu sedang berbicara sama perempuan?" ucap Silvia begitu lemas. Ia mengambil ponselku dan menyerobot berbicara. "Siapa kau ini?" Suaranya meninggi, jadi aku ambil lagi dan ia tidak melawan.

"Sudah kuduga kau sedang bersama perempuan. Yah, nikmati lah waktu mu. Mungkin itu adalah kesempatan mu untuk mendapatkan pengalaman pertama. Bye-bee."

Aku menutup teleponnya terlebih dahulu, sebelum ia melakukan nya.

"Barusan dia pacar mu?" meskipun ia terlihat lemah, raut mukanya nampak begitu kesal.

"Bukan, orang yang menghubungi ku adalah tunangan nya Yuda."

"Monster itu sudah punya pacar?"

Badannya menggigil, aku kenakan sweater yang hangat. "Ambilkan buah-buahan di dalam lemari kayu di atas. Obatnya ada di kotak P3K, aku mau istirahat sejenak." Saat aku mau mengambil itu semua, Silvia memegang tangan ku. "Jangan tinggalkan aku, perhatikan aku tidur. Jika bermimpi buruk segera bangunkan, aku takut sendirian di kegelapan."

Ada beberapa pisang dan avocado setengah matang, obat-obatan untuk menurunkan demam ada dua jenis.

"Bisa ambilkan aku segelas air susu juga?"

Lihat selengkapnya