Keesokan harinya aku dijemput oleh laki-laki yang disebut monster. Silvia sudah pergi dari surat yang ia tinggal, pagi-pagi subuh ia sudah pergi ke luar negeri. Dan menghubungi nya, ia balas obrolan dengannya lewat ponsel ku.
Kini Yuda tidak banyak bertanya pada ku, apa yang sudah terjadi pada ku.
"Syukurlah kau baik-baik saja, sehat walafiat. Ayo kita pulang, kami semua tidur di hotel ini berkat Tuan Weston atas kontribusi berhubungan cukup baik sama Tuan putri nya."
"Kalian gak marah padaku? Yang tiba-tiba pergi tanpa kabar?"
"Budi mengejar idolnya, kau membantu untuk seseorang. Dengan alasan apa aku harus memarahi mu, jika kau sudah melakukan perbuatan yang begitu berjasa. Kami merasa sedikit khawatir, waktu dihubungi begitu susah. Saat malam hari kau membalas ku melalui pesan, itu sudah lebih dari cukup. Aku tidak akan bercerita soal semalam kau tidur, bersenang-senang, sampai berhubungan sex sama gadis tersebut."
"Tunggu sebentar, kamu tau semua itu sampai mana? Apakah Silvia bercerita pada mu?"
"Hahaha ... Dia bercerita kepada orang yang menaruh benci?" Tangannya menuju belakang telinga ku dan mengambil sesuatu yang ada di sana, merasa kesakitan ada sengatan kecil seperti listrik.
"Kau belum melepaskan dummy artificial nya satu harian penuh. Masih ada kekurangannya, contohnya ada beberapa neurosains yang terganggu. Tekanan darah, pita suara, sistem pencernaan, siklus tidur sama kewaspadaan. Dari kelima tersebut yang terganggu cuma satu, aku membaca detak jantung mu cukup normal, suara mu tidak berubah secara drastis, mengonsumsi makanan gak ada masalah, yang paling mengejutkan waktu kau sedang tertidur cukup bagus dan terjaga gelombang otaknya. Berarti cuma satu yaitu kewaspadaan mu."
"Kewaspadaan ku?"
"Ya. Akal logika mu akan sedikit terganggu dan mudah digoyangkan, emosi mu tetap stabil, nafsu mu bisa dikendalikan hanya ada satu pemicu yang tidak kau tolak waktu berbicara dengannya."
Aku tau apa yang ia maksudkan.
"Rasa Iba dan permintaan."