Empat Sekawan

Wakadana
Chapter #44

Chapter 5 - Scene 1

Aaaaaaaaaaaaaaa ... Aku gak bisa memikirkan hal yang lain. Setiap hari pasti ada kejutan nya aja, hidup ku ini dipenuhi berbagai plot twist.

Habis pulang pendemo tersebut sudah menjarah gedung-gedung mall yang sudah diberikan pagar begitu tinggi.

Para masa sudah bertindak semalaman, kini lemari pendingin nya harus ditunda pengantarnya. Jalannya porak-poranda begitu _chaos_ dari berita semalaman, bukan hanya mall yang dihancurkan, melainkan fasilitas umum, sekolah sekitar, tempat ibadah, lapangan yang gak ada satpamnya sama sekali para masyarakat setuju lebih baik bubarkan saja itu dewan perwakilan rakyat yang memihak para dinasti besar bisnisnya keluarga sendiri.

Besok tetap aja kita berangkat sekolah seperti biasa. Meskipun kota Batavia hampir berubah menjadi lautan api, para aparat keamanan dan pasukan khusus negeri berhasil membereskan semua masalah tersebut. Tetapi, kebijakan pro terhadap dinasti masih tetap berjalan gak ada rencana perubahan sama sekali.

Kami para pelajar, bukan aktivis-aktivis pendemo turun jalanan. Para anak-anak remaja dicurigai sebagai salah satu faktor kaum muda yang berani melawan kebijakan pejabat. Posisi kita sedang berada di kantor pusat keamanan setelah pulang dari pulau buatan tersebut yang ditunggu-tunggu oleh pihak keamanan setempat.

Yuda sama Maria sedang menjelaskan pihak yang menangkap kita, jika mau dibebaskan keluar harus membayar biaya nya. Itu sudah termasuk pemerasan dan penyalahgunaan kekuasaan dengan pasal undang-undang perlindungan anak di bawah umur yang masih belum memiliki kartu identitas penduduk secara resmi.

Mereka gak tau malu maupun pandang bulu kepada siapa saja. Jika ada pihak terkait memilki uang yang cukup banyak untuk diperas secara habis-habisan jika gak ada walinya disekitaran kita.

Maria, aku, Rani, Linda merupakan anak rantauan yang jauh dari orang tua kita masing-masing. Yuda sama Budi memang sudah gak punya siapa-siapa, wali pun gak ada. Itu merupakan model ancaman yang bagus, dua kartu hitam mereka disita sebagai tanda bukti gak mau bekerja sama dalam hal yang terjadi semalaman.

"Sial para aparat penegak korupsi itu, mulai sewewenangnya sendiri demi mencari keuntungan pribadi sendiri," kesal Yuda yang sudah memperjuangkan hak kita untuk bisa dibebaskan malah menjadi tahanan sementara tanpa kejelasan.

"Hei ... Hei ... Siapa yang bilang itu barusan? Kau sudah berani melakukan pencemaran nama baik aparat penegak hukum," mereka datang bergerombol sambil memegang senjata api ke arah anak-anak tanpa bersenjata.

Maria menghentikan emosi nya Yuda, mereka ditahan di kurungan secara terpisah, untuk meminta maaf pada semua orang-orang korup tersebut.

Kita berada diposisi yang tidak menguntungkan, semua perangkat elektronik disita semuanya. Kecuali chip kecil yang tertanam di kulit daging manusia, mereka gak bisa mengambil ataupun tau hal itu.

Itu adalah rencana bedebahnya Yuda, yang sudah mempertimbangkan hal ini akan terjadi dengan persiapan lebih matang.

Waktu akan menjawab itu semua, tetapi banyak sekali orang-orang tidak bersalah ikut diperas dan dikurung di sel tahanan yang sempit ini. Sedikit demi sedikit akan penuh saat siang hari datang, sistem ekonomi kota Batavia semuanya lumpuh total.

Pulau Jawa ini mengalami bangkrut secara keseluruhan dari suara berita yang terdengar menggema lorong-lorong kurungan.

Mata uang nya sudah tidak berharga lagi di kacamata internasional, sistem demokrasi yang cacat tersebut harus dirubah. Birokrasi-birokrasi ruwet tersebut harus segera di bumi hanguskan.

Aparat keamanan penegak hukum sudah tidak memiliki hak untuk menangkap kita, dalam keadaan semakin parah. Pendemo melakukan serangan babak berikutnya sebagai kekecewaan yang luar biasa.

Kita semua bingung, gak ada satupun yang dibebaskan sama sekali padahal negara sudah porak poranda gak karuan.

Suara senjata api yang berbunyi ditembakkan ke langit-langit sebagai pertanda bentuk keangkuhan sisa para aparat tidak bisa mendapatkan sesuatu yang lebih bernilai lagi selain para tahanan bukan uang.

Pendemo ada yang mencoba beberapa masuk melakukan kerusuhan untuk membebaskan para tawanan, teman-teman, rekan, atau kerabat yang ditangkap oleh mereka.

"Bebaskan semuanya!"

Kericuhan dari dalam gedung, suara tembakan dari berbagai penjuru ruangan. Tidak ada hukum, pasal ataupun undang-undang melindungi mereka. Ini semua kembali ke masa siapapun yang terkuat memiliki senjata, dialah yang paling berkuasa.

Para pendemo yang berguguran, kobaran nyala apinya semakin besar. Mereka rela demi mati ingin menjadi pahlawan sejarah revolusioner. Kunci-kunci kurungan mereka lempar dan jatuh kan ke lantai dekat kita.

Lihat selengkapnya