Kita berempat untuk balik ke kontrakan masih sangat jauh, jalan pulang nya bingung harus lewat mana. Seluruh transportasi tidak ada yang beroperasi, kecuali ada orang baik numpang lewat mau mengantarkan kita.
"Lebih baik kita cari tempat untuk tidur, makan dan minum." Budi memberikan ku senjata api buat jaga-jaga, sebelum beranjak keluar dari gedung ini.
Orang-orang pendemo tidak ada yang bisa dibedakan saat ini antara jahat sama baiknya. Linda ketakutan hal itu sambil memegang gawai pemberiannya, Rani membantunya supaya ia merasa tetap tenang dan aman.
"Kamu punya uang dalam bentuk dolar kan? Kita bisa tidur di hotel kemarin malam," saran ku.
"Itu hal yang bagus, berada di sini kelamaan kita bisa ditangkap lagi," Budi menerima saran ku.
"Tunggu sebentar, kita baca peta kotanya terlebih dahulu," usul Rani. Kami masuk ke ruangan belakang meja resepsionis yang merupakan kantor, lalu ada peta kota ukuran besar terpampang di frame kaca.
Kenapa tidak mengaksesnya saja lewat internet? Itu balik lagi sistem ekonomi yang sudah lumpuh seluruh sinyal dan jaringan listrik, air akan segera dimatikan semua.
Ini seperti berada di dunia _apocalypse_. Suara notifikasi dari gawainya Linda menyala yang tertulis nama Bapa.
"Halo, Yuda? Maria sedang berada bersama mu? Sekarang jangan pulang dulu ke kota asal kalian, kendaraan militer jenis berat sedang dikerahkan untuk menenangkan masa yang membawa senjata api. Kau mungkin tidak suka dengan atas nama konspirasi, ada bantuan pihak luar yang menyusupkan dan mensuplai lewat broker pasar gelap." Sebelum kami berbicara, panggilan sudah tertutup terlebih dahulu.
Situasinya semakin genting dan ini beneran perang sipil akan terjadi, sesuai prediksi ucapannya Yuda pada kita yang telah disampaikan.
"Linda Linda Linda," ia diam membeku dipanggil Budi. Bukan berarti kita dalam situasi yang berbahaya. Gawainya dipinjamkan tanpa izin untuk mengakses perangkat komputer di gedung aparat ini.
"Internet masih ada, sudah terhubung sama server, kita coba kulik informasi yang ada di dalam sana. Rido, kau bawa kabel data?" pinta Budi.
Langsung ku telusuri tersimpan di tas kecil, ia menyambungkan aja sesama USB type C. Layar mengeluarkan gambar _glitch_ begitu cepat.
"Apa yang sedang kau lakukan Bud?" tanya ku.
"Cuma menghubungkan aja, ini seperti meretas secara otomatis."
Linda masih terdiam terbengong tak sadarkan diri, Rani menggenggam tangan nya penuh khawatir. Suara keributan di luar semakin menjadi-jadi, terutama langit-langit udara terdengar ultrasonik begitu kencang dari tadi.
"Please insert code ... Please insert code ...," suara notifikasi terdengar berulang kali di gawai yang terhubung berubah menjadi terminal.
"Code? What's Code?" Budi kebingungan ia mencoba kombinasi angka dengan maksimal enam digit.