Empat Sekawan

Wakadana
Chapter #46

Chapter 5 - Scene 3

Gawainya milik Yuda begitu istimewa, perangkat elektronik apapun tidak bisa digunakan. Cuma itu satu-satunya perangkat yang masih berfungsi secara normal.

Sekarang di jam 10 pagi lebih 10 menit. Suara dentuman yang begitu keras berubah sangat senyap, diluar pun sepi gak ada orang atau ...

"Mereka semua sedang bersembunyi atau sedang mengevakuasi diri."

Langit-langit begitu terang seperti ada yang terbakar di udara. Gempa susulan sering terjadi beserta hempasan udara yang begitu kencang lewat begitu saja.

Kami berjalan menuju pelabuhan, karena dekat sama pantai dan lautan. Banyak sekali orang-orang yang mengantri dan berdesakan untuk segera pergi dari pulau Jawa ini menggunakan kapal feri ukuran besar yang sedang nangkring di dermaga.

Tak jauh dari sana, ada sebuah penginapan yang masih beroperasi, meskipun gak ada listrik yang menyala. Mereka masih bisa dipekerjakan dalam bentuk mata uang asing, berkat pertolongan dari Budi untuk menutupi biaya 4 orang dengan harga yang sedikit mahal dari biasanya, setidaknya kita bisa merasa aman untuk sementara waktu.

"Linda, kau dari tadi bisa memasukan kodenya. Sebenarnya angkanya berapa?" tanya Budi yang duduk bersantai di dalam kamar yang sudah di sewa.

"Kodenya hari, bulan dan dua angka terakhir tahun kelahiran ku."

"Kenapa kau bisa—Ah! Yuda kah, kamu memakai profil mu sendiri?"

Linda mengangguk dan terlihat begitu lemas sembari sedang duduk juga.

Rani melihat ke arah langit-langit dekat dengan jendela, "Kira-kira itu apa?" tanya ku.

"Itu satelit yang jatuh dan terbakar oleh atmosfer sebelum menyentuh permukaan tanah."

Aku meminta pendapat suara panggilan yang ia dengar dari telepon Bapa. "Itu mungkin suara rekaman Yuda sendiri yang secara otomatis tertautkan dengan fitur artificial di gawainya yang bekerja secara _offline_ dan sengaja menghubungkan nomor tersebut ke ponsel mu."

"Aku sudah menduga hal itu, mana mungkin Yuda memiliki kembaran nya. Apalagi yang selama ini kita lihat adalah asli, memang perilakunya agak sedikit aneh, tidak seperti biasanya," ujar Budi.

"Tapi tapi, masih ada yang janggal," gelisah Linda.

"Dari tadi kau kenapa Lin? Terlihat ketakutan begitu," balas Budi.

"Kau tidak bisa melihat apa yang kulihat melalui penglihatan batin dan merasakan energi negatif darinya."

"Kami di sini manusia biasa, tidak bisa melihat hal-hal yang gaib. Yuda juga punya energi negatif sama seperti kita," jelas Budi.

"Gak. Dia gak memiliki energi negatif sama sekali. Meskipun ia marah, kesal dan terkadang aku mengganggu nya. Ia selalu mengutamakan kita dan dikhawatirkan olehnya, kurasa ada bagian sisi kelam nya yang disembunyikan dari kita."

Jika itu benar, tetapi ... "Semua manusia punya rahasia dan masalah tersendiri yang tidak ingin diketahui orang terdekat nya," ucap ku.

"Kita kesampingkan hal itu. Sekarang aku bertanya pada mu Lin, jika Yuda gak memberikan gawainya dalam bentuk hadiah. Terus kenapa kau menerimanya? Jika memang, itu bukanlah Yuda yang tidak kau kenal seharusnya menolaknya secara mentah-mentah," jelas Budi.

"Itu memang benar. Itu memang benar. Tetapi ada perasaan yang tercampur aduk di dalam hati ku ini, yang tidak bisa dijelaskan secara sempurna. Setiap kali menyebutkan namanya, hati ku serasa mau meledak, memandang pantulan wajah ku di layar yang selalu tersenyum gak jelas. Saat ini, aku tidak bisa menggambarkan apa yang sedang pada ku," jelas Linda.

"Tidak tau," jawab ku.

"Pikirkan saja sendiri," balas Budi.

"Kalian tuh," Rani ikutan nimbrung dan sudah tau apa yang dialami Linda, termasuk kita juga.

"Ra-Rani, bisakah kamu beritahu pada ku? Sedari tadi, aku mencoba mencerna nya saat sedang melamun. Setiap kali aku membayangkan Yuda, jantung ku berdegub begitu kencang," ucap nya.

"Aah~ Itu ... Kamu jatuh cinta padanya," jawab Rani.

"Ci-ci-cinta? A-A-Aku jatuh cinta pada Yuda?" Ia semakin kalut kebingungan, melihat mukanya yang tersenyum kesenangan. Sekarang kita sudah tau, kenapa ia bengong terus, hanya untuk memikirkan nya saja.

"A-Aku memang menyukainya dalam bentuk teman, bu-bukan pa-pasangan. Yu-Yu-Yuda sudah punya tunangan, ke-ke-kenapa aku bisa jatuh cinta pada nya? Bukan itu aneh?"

"Aneh dari mana. Kalian begitu sangat akrab akhir-akhir ini, sudah berapa kali kau diperlakukan dengan manja olehnya?" tanya Budi.

"A-Aku pikir, Yuda hanya mempermainkan ku untuk bersenang-senang dan memperlakukan layak anak kecil."

"Seharusnya kau menolaknya dan marah padanya, kami sering mengejek mu begitu selalu naik pitam emosinya," jelas ku.

"Kalian memang selalu begitu, memandang ku begitu rendah, gak tertarik sama sekali. Bukan gadis yang seumuran seperti teman-teman perempuan ku lainnya," balasnya.

Terserah dia saja, jika mau menyangkal perasaan nya sendiri tidak ada yang menghentikan nya. Keistimewaan Linda hanyalah masakan nya saja, kalau untuk sikap dan perilaku memang tidak begitu cocok sama kita dan gak memiliki energi yang sepadan.

Ia hanya senyam-senyum sendirian dengan layar gawainya dinyalakan. Melihat-lihat sesuatu dari sana, ada pemberitahuan dari pelabuhan menggunakan alat pengeras suara dari corong atum.

"Pengumuman-pengumuman bagi para penumpang, kapal gak bisa berfungsi secara normal. Mesin-mesin mati gak bisa digunakan."

EMP bekerja dengan sangat baik, telah melumpuhkan seluruh mesin yang ada. Aku tanya soal radiusnya, Budi gak tau.

Aku mendekati Linda, apa bisa memeriksa hal lainnya di dalam gawainya. "Buat apa kau memandangi fotonya Yuda terlalu lama?"

"Ri-Rido? Jangan mengagetkan ku. Kau butuh apa? Gak akan ku pinjamkan barang berharga ini."

"Ya ya, aku tau kau sangat menyukai Yuda. Jangan pelit begitu kepada teman mu sendiri."

Ia mengalihkan mukanya pada ku dan meringkuk ke bawah lantai cukup keras sampai jidatnya terbentur. "Aw! Jangan tiba-tiba berkata suka di dekat ku."

"Mau bagaimana lagi, kau memang sudah sangat jatuh cinta berat kepadanya. Bisakah aku pinjam gawai mu? Diotak-atik gimana pun, barang ini ..." Budi memperlihatkan ponselnya, " ... Sudah menjadi rongsokan. Chipnya benar-benar rusak."

Lihat selengkapnya