Empat Sekawan

Wakadana
Chapter #47

Chapter 5 - Scene 4

Laki-laki kalau gak ada kegiatan, biasanya main HP-nya masing-masing. Hari ini sampai seterusnya, mungkin kita akan balik lagi ke zaman industri 1.0 sebelum listrik ditemukan, Budi habis makan ia tidur terlebih dahulu buat jaga-jaga nanti malam akan terjadi sesuatu yang tidak diinginkan.Kedua perempuan tersebut masih mengobrol habis makan, membicarakan dirinya sendiri. "Kamu masih belum selesai membacanya?"

"..." Linda tidak menjawab nya, hanya menikmati kalimat sambil menyeringai tersenyum tanpa henti.

Ketika ia sudah sampai di ujung bacaan, baru menyeletuk. "Kira-kira Yuda suka sama aku tidak?" Aku tidak tau ia sedang berbicara pada siapapun. Setidaknya ingin mendengarkan jawaban dan pendapat.

"Aku tidak tau. Tidak terlalu mengenali nya, perempuan yang selalu berada disampingnya ku kira mereka telah berpasangan."

"Maksud mu Maria? Maah ... Kurasa aku memang tidak punya kesempatan. Yuda mengatakan, ia telah bertunangan dengannya."

"Seriusan? Cowok kasar itu sudah bertunangan?" Ia melihat ku cuma untuk memastikan, meyakinkan dua kali. Aku hanya bisa mengangguk.

"Aku masih belum tau, apa itu cinta. Tetapi, perasaan ku berkata, memang menyukai Yuda sejak awal bertemu dengannya. Rani, kamu seperti nya terlihat begitu berpengalaman soal percintaan. Berapa kemungkinan aku ditolak olehnya?"

Berat ... Pembicaraan Linda terkesan berat, jika ia ditampar realita. Hati kecilnya akan menjerit kesakitan.

"Aku juga tidak tau soal itu. Lagian dalam seumur hidup belum pernah merasakan apa itu cinta."

Aku tidak mempercayai ucapan nya.

"Jangan berbohong begitu. Badan mu bagus, tubuh mu cukup tinggi, rambut mu terkesan halus dan sedikit bergelombang, kamu memperhatikan kulit putih cerah mu supaya selalu terlihat menarik dan ditutupi lengan panjang. Mana mungkin kau tidak punya pacar, Rido sejak awal tertarik pada mu."

Rani melihat ku lagi, aku merasa malu bahwa itu memang benar.

"Aku tidak berbohong, menurut pandangan ku. Kau terlihat sudah terbiasa ditembak banyak laki-laki. Kenapa secara tiba-tiba bisa merasakan jatuh cinta?"

"Aku tidak tau. Kenyataannya mereka bertiga mengolok-olok ku dengan sebutan anak kecil, aku memang jauh lebih muda dari mereka."

"Berapa usia mu?"

"Masih 14 Tahun. Tahun ini 15 Tahun di bulan Juli mendatang."

Kenyataan yang baru terungkap, ternyata ia jauh lebih muda dari yang ku kira.

"Gimana cara mu masuk ke sekolah kita? Seharusnya ada ujian yang harus kamu kejar."

"Dengan kekuatan uang, semua guru di sekolah kita sangat menyukai uang. Nilai tidak begitu berarti, jika ditutupi sama biaya sebagai donatur. Aku mungkin siswi termuda yang pernah ada masuk sekolah menengah atas."

Itu sangat benar sekali, awalnya kukira. Sekolah kita merupakan tempat yang bagus dalam pendidikan, ternyata itu semua hanyalah manipulasi nilai para guru semata yang ditutupi oleh subsidi sama uang masuk pendaftaran.

"Apakah kamu mengikuti pelajaran nya dengan baik?"

Lihat selengkapnya