Kelamaan bermain dengan gawainya, Linda tertidur di atas pangkuan Rani. Begitu bosan sekali gak ngapa-ngapain di sini, di luar juga gak begitu aman. Cuma dua orang yang masih terjaga, aku memberanikan diri untuk berbicara."Kira-kira Sekolah kita gimana ya? Setelah mendapati kekacauan yang seperti ini. Apakah akan ada libur panjang?" Tanpa menghadap kepadanya, sekedar berbicara pada diriku sendiri.
"Gak tau, mungkin libur sementara," begitu santai ia menyahut nya.
"Kamu suka belajar di sekolah tersebut?"
"Suka."
"Kira-kira besok libur atau tidak?"
"Kurang tau. Mungkin masuk sekolah seperti biasa."
Itu tidak mungkin terjadi, Rani sedang bergurau dengan ku? Dia dari tadi cuma menjawab, tidak bertanya seperti tadi.
Aku memilih rebahan aja, untuk menghemat energi entar malam buat jaga-jaga. Dia memulai obrolan nya lagi. "Rido ... Apakah kamu merasa senang belajar di kelas?"
"Ya. Tiap hari Yuda membuat gebrakan baru untuk membantah para guru yang sedang mengajar, biasanya dalam kegiatan tersebut kita mengikuti pelajaran yang disampaikan. Yuda malah mengajak mereka berdebat."
"Aku juga merasakan hal yang sama, para guru hanya mengikuti buku panduan dari kurikulum kuno tersebut. Meskipun memakai bantuan artificial dalam proses mengajar nya, itu terkesan gak kompeten sama sekali guru tersebut. Terlalu bergantung pada jawaban yang sudah generate tanpa bersikap kritis."
"Kamu sering bertanya kepada guru?"
"Terkadang, tapi itu dilempar lagi ke teknologi untuk belajar mandiri."
"Kurasa kau gak mirip seperti Yuda. Dia sering bertanya kepada Guru, seperti sedang dicecar. Seolah sedang menguji kemampuan mereka, murid-murid di kelas ku pada ikutan aktif dan bertanya. Biasanya begitu pasif hanya sebagai pendengar."
"Terlihat asik sekali kelas kalian."
"Awalnya sih. Kelas kita didatangi wakil kepala sekolah diperingati untuk tidak banyak bertanya dalam proses pembelajaran. Para guru mengadu ke kelas kita yang tidak sopan dan tidak mendengarkan pelajaran mereka, padahal kita memiliki untuk bertanya. Jika guru-guru tersebut tidak bisa menjawab setiap pertanyaan dilontarkan, itu memang benar mereka kurang kompeten di bidangnya sendiri."
"Setelah itu, apa yang terjadi?"
"Mengadili biang keroknya yaitu Yuda. Tetapi, tidak ada seorangpun yang dapat menghentikannya. Meskipun pernah di skors selama satu minggu, ia tetap berangkat masuk ke kelas tanpa rasa bersalah."
"Di bagian mana yang harus disalahkan? Aneh sekali para guru-guru tersebut."
"Haha ... Bukan hanya aneh, guru kelas satu jurusan IPS merasa takut jika berhadapan dengan orang pintar dan pandai. Yuda diberikan pengecualian untuk bisa keluar masuk secara bebas di kelas. Yah, ia langsung mengambil kesempatan tersebut untuk kesibukan lainnya. Yang paling licik, ia naik kelas tanpa diberikan ujian sama tugas-tugas yang diberikan."
"Kukira cuma rumor belaka ternyata itu memang beneran terjadi."
"Semua murid jurusan IPA gak tau soal tersebut?"