Malam harinya gelap total, penerangan cuma dari lilin saja. Harga makanan semakin mahal, meskipun Budi mampu membayar. Kini ditolak secara mentah-mentah.Sistem pemerintahan pusat telah bubar, tidak ada bala bantuan yang datang. Pesawat dan helikopter yang sudah tidak bisa digunakan, karena gangguan dari EMP dan SCADA yang Budi bilang.
Tak ada pejabat yang bisa melarikan diri ke luar pulau, menggunakan kendaraan pribadi. Mereka sedang dihakimi oleh masa bukan orangnya, melainkan barang-barang pribadi hasil curian uang pajak dan brankas-brankas tersembunyi.
Gudang cadangan makanan pemerintah dibagikan ke warga setempat di hari Senin, setiap daerah memiliki gudang nya sendiri. Kami ikut mengantri untuk mengambil makanan dan roti gandum dengan sisa-sisa air botol yang ikut terjarah di minimarket, toko kelontong kecil, mengalami kerugian yang begitu luar biasa besarnya. Tak ada yang dapat dideteksi setelah bukti makanan yang dikonsumsi menghilang.
Semua warga terpaksa masuk ke dalam mode bertahan hidup, menunggu bantuan dari luar pulau datang.
Yang pertama hadir, kapal-kapal besar dari pesisir pantai utara. Beruntung kami berada di dekat pelabuhan, merasakan bantuan terlebih dahulu. Dari segi pengobatan, tenda-tenda darurat didirikan, para warga setempat menyambut dengan baik dan ramah-ramah.
Gawainya Linda mengabadikan setiap momen yang terjadi, daya baterai nya begitu awet dan lama habisnya. Ia mencatat, berbicara dan merekam video hal-hal yang penting saja.
Sinyal bantuan SOS dari frekuensi terkecil sekalipun bisa memberikan data sandi yang dibaca pihak militer dari pulau-pulau besar Nusantara lainnya. Berupa pesawat tempur terbang di udara hanya untuk mengintai dari langit, tak ada perlawanan secara militer terjadi.
Gawainya Linda bisa memberitahu semua hal yang terjadi, yang bertindak secara sendiri meretas foto-foto yang diambil dari pesawat terbang. Pemandangan yang ada di atas memberitahu bahwa kekacauan cuma terjadi di kota-kota besar saja kebanyakan, gedung-gedung parlemen, instansi pemerintah, aparat keamanan penegak hukum dan keadilan, sebagai titik poin penyerangan yang terbanyak.
Hanya segelintir bangunan diserang massa mall-mall besar, supermarket, minimarket yang tak ada penjaganya semuanya dijarah. Warung kecil, toko kelontong sebagai tempat transaksi yang begitu ramai pembeli nya dengan sistem keuangan yang telah hancur.
Senin malam harinya, pihak-pihak dari luar datang. Itu yang diberitakan dari gawainya Linda. Mengisi kursi-kursi penting petinggi yang sudah melarikan diri, ada pro dan kontra yang terjadi.
Mereka semua merupakan dalang yang menguasai hampir 90% kekayaan pulau Jawa, untuk menciptakan dektrit, peraturan undang-undang dasar, seperti awal negara pulau ini terbentuk. Namun sekarang ada campur tangan pihak pemuda dari pendemo yang sama-sama tidak bisa tersentuh oleh hukum, karena peraturan hukum belum dibentuk.