Empat Sekawan

Wakadana
Chapter #50

Chapter 5 - Scene 7

Empat hari mendatang waktu malam hari, sistem listrik satu pulau telah diperbaiki dan menyala dengan normal. Sebuah pertanda kehidupan kemajuan teknologi terlahir kembali dan waktu ketika kami sedang tidur, tibalah berpindah tempat. Tanpa sepengetahuan, kesadaran, kami bertiga terbangun di rumah kontrakan sendiri di pagi hari.Apakah itu semua adalah mimpi? Setelah bernarasi panjang di dalam otak ku. Yuda tak menjelaskan apapun yang terjadi, ketika ia pergi menggunakan heli dan kembali tidak memberikan pertanyaan.

"Pagi," sapaan seperti biasa. Kini ia tidak memegang gawainya, cuma kertas dan pulpen yang ditulis.

"Pagi. Sejak kapan kita pulang?"

"..." Ia tidak menjawab, hanya menunggu kita semua terbangun dan berkumpul di meja makan.

"Rani di mana?"

"..." Yuda terdiam lagi. Terpaksa aku menunggu sampai siang hari tiba, Yuda telah menulis banyak hal di atas kertas. Ketika sedang berfokus apa yang ada di dalam pikirannya.

Ini tidak bisa dijelaskan, kami membutuhkan kepastian. Digantungkan jawabannya seperti ini, rasanya begitu tidak enak. Membuat pikiran ku terpaksa berspekulasi hal yang tidak mungkin terjadi, bisa menjadi kenyataan.

Aku mencubit pipi ku, ini bukanlah mimpi. Mau memeriksa sekarang tanggal dan jam berapa, ponsel ku sudah tidak berfungsi lagi.

"Rido," ia memanggil ku sambil menyodorkan lembaran kertas yang begitu banyak. "Isi formulir ini dan pendataan diri di ruang kosong yang diperlukan. Jika kamu gak mau menjawab semua, bukan masalah."

Formulir pendaftaran Identitas penduduk Kota New Batavia. New? Apa maksud dari tulisan New ini ..., "Yuda, kota ini sudah merdeka dan berganti nama?"

"Hanya untuk sementara saja, 10 Tahun ke depan. Kota ini akan tenggelam di telan oleh Lautan, karena penurunan permukaan setiap tahunnya," jelasnya.

"10 Tahun, kamu akan menetap berada di sini?" tanyaku.

"Mana mungkin, lagian ibu kota pulau Jawa bukan di sini sejak awal."

"Tunggu sebentar, kota Batavia bukan ibu kota? Terus, kenapa orang-orang masih menganggap di sini merupakan kota yang besar dan maju? Itu sudah layak seperti Ibu kota."

"Kota Batavia merupakan kota investor terbesar, semua teknologi dikembangkan dan dibangun di sini. Dan ada terminal kereta yang menghubungkan ke pulau reklamasi, gak heran kota ini memiliki peradaban yang maju begitu pesat. Jika kau ingin sekolah di Ibu kota seharusnya berada di Bandung bukan di sini. Kau kekurangan informasi atau gimana?"

Aku agak lupa-lupa ingat dari perkataan kakak ku. Apakah kota yang mereka tempati itu dingin atau panas? Jika sama seperti di kampung halaman, seharusnya dingin dan sejuk. Bandung berada di letak dataran tinggi. Tetapi kalau diingat lagi, mereka gak mengatakan hal itu.

"Apakah di Ibu kota mengalami demo besar-besaran juga, sama seperti kota ini?"

"Aku kurang tau. Tetapi, pusat informasi dan penyimpanan data nasional berada di sini. Kota Batavia merupakan daerah istimewa itu dulu, sekarang status nya sudah berbeda. Para investor telah berpindah dan mendirikan gedung-gedung pencakar langit di sekitaran Ibu kota."

"Terus, gimana sama nasib kota ini?"

"Banyak kelas menengah dan kelas-kelas hampir setara konglomerat, tinggal di sini tidak akan merubah apapun. Cuma dicabut aja hak istimewa nya, akan menjadi kota Otonom."

"Maksud mu, kota ini akan berpisah sama pemerintah pulau Jawa?"

"Ya. Makanya aku suruh ngisi formulir kertas itu sebagai penduduk tinggal di sini, supaya bisa dipermudah untuk pindah dari sini, sewaktu-waktu kita dibutuhkan. Buat apa pertahankan kota yang mau tenggelam ini? Kecuali Belanda mau meminjamkan teknologi nya ke sini, hal itu tidak mungkin terjadi."

"Terus, gimana sama nasib kita atau penduduk setempat?"

"Gak ada perubahan. 10 Tahun hanyalah ambang batas peringatan untuk segera pergi dari sini, aslinya sisa umur kota ini adalah 15 Tahun. Lama-kelamaan rumah kontrakan kita akan tenggelam yang ditelan oleh rawa di sampingnya. Mereka semua sudah ada jaminan tinggal hidup di rumah susun sesuai alokasi pembangunan apartemen nya. Lagian Negeri pulau ini sudah merdeka, benar-benar Merdeka dari penguasa orde baru dan para dinasti nya."

"Kenapa kamu bisa seyakin itu Yud? Apa buktinya?" Tanpa aku sadari Budi ikutan nimbrung, ia telah bangun dan ikut mendengarkan.

"Kalian sudah membaca peringatan, pemberitahuan dan informasi yang diperlukan di gawai nya Linda. Itu alat merupakan perangkat canggih yang tidak boleh diketahui oleh publik secara luas. Layaknya menggunakan alat cheat code yang bisa meretas apapun."

"Dari mana kau mendapatkan gawai seperti itu? EMP dan SCADA terjadi, apakah mungkin?"

"Aku sudah memperkirakan tindakan kalian bertiga. Bud, kau mencoba menelusuri cari informasi apa yang sebaiknya terjadi. Gawai tersebut sudah merekam persona kalian cukup bagus, meskipun kau tidak mencari informasi nya. EMP sama SCADA akan tetap terjadi, untuk melumpuhkan jaringan informasi satu pulau besar Jawa ini. Gawai ku hanya sebagai alat bantu buat kalian, sebenarnya apa yang terjadi untuk hari ini. Alhasil seluruh perangkat elektronik di pulau ini rusak total sebagai ganti ruginya."

Hmm ... Jadi begitu. Berarti itu bukanlah kesalahan Budi, waktu itu sama Linda. Ketika memasukkan kode sandinya. "Terus, kamu pergi ke mana sama Maria ketika naik Heli?"

"Mengungsi. Kami bersembunyi dari incaran orang-orang yang mau memburu dan membunuh. Jadi aku buang gawai tersebut, yang bisa menyebabkan hal itu terjadi. Beruntung ia mau menerimanya. Jika tidak, sudah aku rusak."

"Maria pergi ke ruang belakang meja resepsionis untuk apa?" tanya Budi.

"Memberikan bantuan sinyal SOS melewati jaringan radio di komputer."

"Kenapa gak kau lakukan lewat gawai mu saja?"

"Aku membatasi hal kemungkinan buruk terjadi."

"Kenapa para pemburu dan pembunuh itu tidak mengincar Linda? Yang mereka incar itu sebenarnya apa?" tanya ku yang masih kebingungan.

"Kalian tau, istilah mati satu tumbuh seribu. Gawai tersebut akan tumbuh jauh berkali-kali lipat, akan memiliki dampak kerusakan yang bisa mengembalikan kemajuan teknologi zaman ini kembali ke Abad 18. Chip yang tertanam di gawai tersebut, jika tidak di akses atau di gunakan selama 48 Jam oleh pengguna aslinya secara otomatis akan mati sendiri. Dan aku sudah mewariskan ke Linda sebagai pemilik aslinya berikutnya. Meskipun masih tersimpan profile lama ku di sana, saat dipegang gawai tersebut hanya menganggap ku sebagai Tamu yang penuh dengan batasan," jelasnya yang telah selesai mengisi formulir nya.

Lihat selengkapnya