Surat pertama aku buka berisikan struk list belanjaan yang Yuda beli seperti, skrup, paku, lemari es yang telah dicatat sesuai kebutuhan di rumah kontrakan dengan harga yang cukup murah melalui potongan black card yang ia singgung di sana.Surat kedua berupa slip kertas tunai bernominal sesuai tanda tangan yang bisa ditukarkan ke bank, ini mau diberikan ke pemilik rumah kontrakan nanti? Apa mau menerimanya? Pikirkan itu nanti saja, jika sudah datang orang nya.
Surat ketiga dari Silvia, ini masih tersegel. Kukira dari Rani atau Linda, apakah ia sudah kangen untuk bertemu dengan ku? Lagian kita sudah berhubungan intim tetapi di awal tulisannya, ia mengucapkan permintaan maaf.
"Maaf, kemarin aku mempermainkan mu. Trauma, ketakutan, daging yang kau makan sampai keperjakaan mu, itu semua humanoid yang memiliki perasaan. Aku sangat meminta maaf dan menyesali perbuatan ku yang berujung memanfaatkan kebaikan mu ..."
Apa ini? Dia tidak berbohong kan? Atau sedang mengerjai ku?
"... Sejak awal kita bertemu Silvia merupakan kepanjangan dari Super Intelligent Force In Artificial."
Kirain pakai V ternyata F. Ada tulisan tekan di sini untuk menampilkan video.
"Hai Rido ..." Beneran keluar, sebuah hologram. "Tolong perhatikan secara baik-baik, surat ini akan meledak sendiri jika kau sudah selesai membaca dan melihat rekaman nya."
Meledak? Aku taruh di lantai kamar ku sendiri.
"Sebenarnya ..." Bagian tubuhnya bisa dibongkar pasang, mukanya bisa membedah sendiri seperti mesin. "Ini diriku yang sebenarnya, aku sudah tau siapa engkau sesungguhnya. Keluarga mu menyimpan dan memproduksi rempah-rempah secara alami tanpa bantuan teknologi, kami merupakan pelanggan setia mu dengan ayah mu untuk bersikap baik kepada penerus berikutnya. Jadi, ayah menyuruhku untuk berhubungan dekat mu sebisa mungkin. Tetapi, Monster itu sudah tau diriku sebenarnya. Ia diam saja, supaya jadi pembelajaran buat dirimu untuk berurusan di masa depan mendatang. Maaf, jika aku telah mempermainkan kepercayaan mu. Kumohon, jangan benci aku, sebagai permintaan maafnya. Kamu boleh meminta apapun pada ku, sebisa mungkin sesuai jangkauan ku. Ternyata kamu bukanlah laki-laki yang bisa tunduk, jika berhubungan badan saja dan tertarik sama gadis yang lebih muda dari mu. Ternyata aku salah kaprah, usia ku sebenarnya jauh lebih tua dari mu. Tetapi, aku gak punya waktu untuk bertemu dengan mu. Ke depannya, kita ingin bekerja sama antar bisnis untuk saling menguntungkan. Ini sifat ku yang asli, bukan hasil setingan dan modifikasi dari prompt Artificial. p.s, sebenarnya aku ini adalah laki-laki."
Laki-laki? Sialan, aku dikerjai kedua sampai ketiga kalinya.
"Tambahan lagi, Monster itu yang bernama Yuda. Dia sudah tau sejak awal, makanya diam saja. Kalau mau benci, jangan lempar kepada ku. Teman mu lah yang harus bertanggung jawab."
Suratnya mengeluarkan percikan api dan meledak apa yang sudah ia ucapkan. Tak ada momen kedua kalinya dan aku merasa sudah ditipu, diperdaya dan diperas sperma ku ke selangkangan robot.
Sejak awal memang rada aneh tetapi aku menikmati nya. Aaah ... Sialan, jika humanoid itu bernama Silvia—Aku salah sebut, harus pake F sebutannya. Geh, sekarang keperjakaan ku perlu dipertanyakan. Jika aku ceritakan rasanya memalukan, tetapi bimbang juga ada orang mengetahui masa kelam ku. Aaah ... Aku ini masih bocah atau sudah dewasa sih? Mereka jelas pasti akan menertawakan ku, sialan.
Aku jadi pusing sendiri, jika direnungkan malah tambah runyam di dalam otak ku. Cara mengatasi nya gimana? Yah, pergi keluar dan cari makan tapi gak mood sama sekali, lebih baik rebahan dan tidur aja.
Tapi perut ku sudah menggerutu gak karuan harus diisi sama makanan, terpaksa harus pergi keluar. Tapi, aku harus memakai uang yang mana? Yuda belum kasih tau kejelasannya.
Semakin bingung, pening, kesal dan hal lain bercampur aduk jadi satu. Belum ngapa-ngapain kepalaku mau pecah, aku pergi keluar aja dulu dari pada netap di rumah kontrakan gak hasilkan apapun.
Membawa uang cash secukupnya, mungkin sudah tidak berlaku. Aku harus nawar memakai apa lagi, sistem pergantian mata uangnya belum merata sampai ke pinggir kota, masih ada beberapa warung yang mau menerima uang ku selagi masih bernilai dan makan sarapan di siang bolong yang panas ini di rumah makan.
Para warga sekitar sedang ngobrolin tentang masa depan kota ini, keresahan yang dirasakan dan hal-hal dampak demo kemarin ternyata berhasil yang tak diketahui oleh mereka ada campur tangan dari pihak luar yang turun tangan, ditambah listrik masih belum menyala secara keseluruhan.
Kendaraan terbang yang jarang orang lain lihat, mulai kelihatan ketika aku menatap langit. Perubahan kecil ini akan secara perlahan akan ada sesuatu yang besar dan sejak kapan kendaraan dari pulau reklamasi telah sampai menjajah ke sini.
Itu yang mereka takutkan, namun teknologi mereka sudah seperti alien di pulau Jawa yang tertinggal ini. Salah satu pegawai super plaza mall bisa menemukan ku hanya lewat dari identitas muka saja, lewat alat pemindai kendaraan terbang dan pola gaya kehidupan, di mana biasanya aku makan kalau jam segini apabila sedang tidak berada di rumah kontrakan.
"Ini semua barang-barang pesanan dari Tuan Yuda yang sudah dibelikan pekan kemarin. Anda Tuan Rido kan?"
Ternyata jauh lebih banyak dari yang ku kira, ada alat besar generator dan baterai di dalam angkutan kendaraan terbang tersebut yang hampir mirip seperti truk.
"Ya," aku jawab saja.
"Silahkan naik ke kendaraan akan kami antar juga."
Aku merasa bingung, dari mana ia tau aku sedang berada di sini? Jadi kutanyakan saja. "Kertas list struk belanjaan yang telah kamu pegang berisikan ratusan chip kecil seperti debu, itu permintaan dari Tuan Yuda jika sewaktu-waktu hal ini akan terjadi. Tidak kusangka listrik kota ini memang padam total secara keseluruhan, gak kusangka ia sudah memperkirakan sejauh itu dan pekan kemarin aksinya di mall menarik banyak pelanggan. Aku telah menjadi penggemar nya dalam segi kejeniusan nya. Maaf, aku malah asik sendiri bercerita."
"Bukan masalah, dia memang pantas untuk dapat seorang penggemar. Kenapa kamu bisa lancar memakai bahasa lokal di sini?"
Ia menunjukkan kalung yang sedang digunakan, "Ini alat penerjemah otomatis secara real time. Aku bisa menggunakan berbagai bahasa tanpa perlu belajar, orang-orang di pulau buatan tersebut juga sama. Aslinya aku menggunakan bahasa Vietnamase, aku berasal dari negara Vietnam. Kalung ini produksi dari negara ku sendiri yang telah dikembangkan di China sana sebagai standar global."
Enaknya, praktis sekali digunakan. "Gimana dengan bahasa suara ku ini? Kenapa bisa langsung paham?"
"Telinga ku sudah tertanam chip ukuran kecil sebagai alat pendukung kalung ini."