Empat Sekawan

Wakadana
Chapter #52

Chapter 5 - Scene 9

Menghitung jarum jam sekarang pukul tujuh pagi, sialan aku bangun kesiangan lagi batin ku. Lupa mengingat tubuh ini untuk bangun pukul lima pagi melaksanakan sholat subuh.Masih ada dua hari sebelum Budi pulang, tersisa tiga hari lagi kedua orang tersebut sebelum balik ke sini.

Malas sekali berangkat ke sekolah, paling disuruh pulang dan pintu gerbangnya sudah ditutup. Bila ketemu sama satpam, jika guru BK peduli atau wali kelas meluangkan waktu nya. Pasti akan datang ke sini untuk memeriksa rumah kontrakan kita dan mengetuk pintu nya. Apabila hal itu tidak terjadi, berarti ada beberapa murid yang ikut membolos sama seperti ku dan apa yang terjadi sama Linda juga, pulang ke rumah orang tua nya.

Hari ini mau ngapain ya, aku gak ada kegiatan, hobi ataupun kesenangan sendiri seperti mereka bertiga. Jalan-jalan tanpa arah, tanpa kendaraan, jalan aspal juga sepi seperti kemarin, baru pertama kali gak ada suara kemacetan dan polusi udara.

Apakah aku mancing saja di rawa-rawa? Meminta beberapa balok kayu yang tidak digunakan untuk membuat pagar dan sampan kecil.

Lebih baik sedikit produktif ketimbang gabut gak menghasilkan apapun dan pergi ke tempat rongsokan yang cukup dekat dari rumah kontrakan. Semua barang di sana boleh diambil sesuka hati, termasuk meja makan kayu ini yang patah salah satu kakinya. Aku perbaiki menggunakan lem super kayu beli sendiri dan ternyata sangat berguna. Pintu-pintu di dalam kamar awalnya diambil juga dari sana beserta engsel-engsel yang sudah rusak dan berkarat.

Sarapan terlebih dahulu, mengisi tubuh ini dengan karbohidrat dan protein zat besi dari sayuran hijau yang telah ku beli dengan porsi yang sedikit. Memasak sebentar, habis selesai makan gak perlu mandi. Langsung menuju ke TKP dan meminjam gerobak untuk mengambil bongkaran kayu yang masih nempel dengan paku, aku ambil dengan palu dan linggis kayu.

Barang-barang pribadi ku kebanyakan alat perabotan seperti ini, misalnya gergaji kecil, amplas, mesin serut, pahat dan mesin bor yang disimpan di kamar ku sendiri dan kacamata pelindung transparan ini. Bisa dihitung sebagai hobi ku saja dengan harga yang cukup terjangkau.

Jika aku beli satu set perkakas nya memang sangat murah hanya memakan setengah juta, tetapi itu buat apa, tidak digunakan secara keseluruhan jadi membeli nya sesuai kebutuhan dan aku membawa kayu-kayu yang masih bagus di tempat rongsokan di daur ulang menjadi sampan dan dayung. Mengingat masih memiliki paku yang tersisa daripada gak digunakan dan dihamburin saja di pojok ruangan.

Aku gak mau kasih tutorial cara membuat sampan itu gimana dari kayu bekas dan sedikit cacat. Tidak memiliki cat anti air, setidaknya bisa mengapung dan digunakan untuk memancing.

Membongkar semua kayu bongkaran yang masih tertancap oleh paku. Untung ada engsel pencabut kayu dari pakunya, jika susah tinggal potong menggunakan gergaji kecil lalu dipahat dan membuat sambungan baru digabungkan dengan mesin bor.

Tidak kerasa setengah hari waktu ku dihabiskan untuk mencabut kayu doang dan bolak balik dari rongsokan ke rumah kontrakan menggunakan gerobak. Memang banyak pemulung dan pekerja di sana yang memperhatikan ku, biarkan saja selagi sudah mendapat izin meminjam gerobak nya.

Di luar sudah panas, perut ku juga perlu diisi dan istirahat sejenak mendinginkan tubuh ku dengan mandi besar. Tinggal memahat kayu dan membuat sambungan nya, beserta mengembalikan gerobaknya yang telah selesai digunakan.

Proses terus diulang banyak kayu yang masih bagus, belum kropos. Menikmati pemahatan tanpa henti dan menyerut semua kayunya, ini bisa dijual lagi ke loak tetapi aku sudah menentukan apa yang ingin dibuat lanjutkan esok harinya ketika hari sudah petang.

Memasak daging ayam lagi dan menghabiskan nasi uduknya sampai perut ku kenyang, tubuh ku rasanya jauh lebih capek. Malam ini aku tinggal rebahan saja di kasur langsung terlelap seperti orang mati.

Lihat selengkapnya