Sebelum orang mulai memanggilnya Ken Dedes, ia hanya dikenal sebagai Dedes. Nama itu cukup membuat ayahnya mengalihkan pandangannya dari kitab yang sedang dibacanya, cukup untuk memanggilnya pulang bila mentari mulai terbenam, dan cukup agar ia menyadari ada yang sedang mencarinya. Di rumah mereka, nama tak perlu menyinggung masa depan; yang penting nama itu dikenali.
Dedes tinggal bersama ayahnya, Mpu Purwa di lereng gunung, pada sebuah tempat yang setiap pagi selalu beraroma tanah basah dan dedaunan yang baru jatuh. Kabut menuruni lereng, melintasi pepohonan, lalu sesaat berhenti di halaman sebelum terhalau oleh sinar matahari. Jika cuaca cerah, dari rumah mereka Dedes dapat melihat kontur gunung yang menjulang jauh, bagai tubuh raksasa yang sedang beristirahat. Ia menyukai pemandangan itu karena gunung tak pernah menanyainya siapa dia. Gunung hanya ada, hadir setiap pagi, dan tetap ada ketika hari berakhir.
Setiap pagi, Dedes menjalani rutinitas yang sama. Ia mengambil air, menjemur kain, membersihkan halaman, menyiapkan makanan, serta membantu ayahnya saat ada pengunjung yang datang meminta nasihat. Kadang ia menumbuk rempah hingga tangannya berbau harum yang khas, dan sedikit pahit. Kadang ia duduk di dekat pintu sambil mendengarkan orang membaca mantra dari dalam rumah. Ia tak selalu mengerti perkataan mereka, namun menikmati suara yang muncul dari bacaan itu. Ada keteraturan dalam suara itu, seolah memberi tempat bagi setiap benda di dunia.
Ayahnya sering berkata bahwa manusia terlalu suka mencari tanda. Dedes pun bertanya mengapa.
“Karena mereka takut pada hal‑hal yang belum terjadi,” jawab Mpu Purwa.
Mereka berbincang sambil membersihkan mangkuk-mangkuk bekas upacara.
Tangan Dedes mengusap permukaan tanah liat dengan kain basah, dan bertanya kembali, “Kalau begitu, apakah semua tanda itu tidak benar?”
Mpu Purwa tersenyum.
“Benar atau tidak bukan yang utama. Yang lebih penting ialah apa yang orang lakukan setelah mempercayainya.”
Dedes belum mengerti. Ia masih terlalu muda untuk menyadari bahwa sebuah kepercayaan bisa lebih kuat daripada realitas yang melahirkan kepercayaan itu.
Beberapa hari kemudian, seorang perempuan tua muncul di tepi sungai ketika Dedes sedang mencuci kain. Perempuan itu berdiri agak jauh dan tidak mengucapkan apa‑apa sementara Dedes tak menghiraukan dan tetap bekerja: merendam kain, mengangkatnya, memeras air, lalu menepuknya perlahan ke batu. Setelah beberapa saat, ia menyadari perempuan itu masih berada di tempat yang sama.
“Ada apa?” tanya Dedes.
Perempuan itu tidak menjawab. Matanya menatap Dedes, kemudian berpindah ke aliran sungai di kaki gadis itu. Sesaat kemudian, ia pergi tanpa sepatah kata.
Dedes mengira perempuan itu hanya sedang melamun. Ia pulang dan tidak memikirkannya lagi. Namun beberapa hari kemudian, kejadian serupa terulang. Orang‑orang mulai memandangnya lebih lama daripada sebelumnya. Seorang lelaki yang datang menemui ayahnya bahkan berhenti ketika Dedes melintasi halaman. Ia tak berkata apa‑apa, namun tatapannya mengikuti Dedes hingga gadis itu masuk ke rumah.
Dedes mulai menarik kainnya lebih rapat saat berada di luar. Ia menundukkan kepala bila seseorang menatapnya terlalu lama. Ia belum mengerti apa yang dilihat orang lain, namun ia sudah menyadari adanya pandangan yang berbeda dari sekadar pandangan biasa.
Pada suatu sore ia bertanya kepada ayahnya, “Apakah aku berbeda?”
Mpu Purwa yang sedang menyusun beberapa lembar daun yang telah dikeringkan, tidak segera menjawab.
Namun beberapa saat, suaranya terdengar, “Berbeda dari siapa?”
“Dari perempuan lain.”
“Bukankah setiap orang memang berbeda.”
“Mereka melihatku seolah‑olah melihat sesuatu.”
Mpu Purwa berhenti bekerja. Ia menatap anaknya lama sebelum berkata, “Kamu bukan sesuatu.”