Hari itu Mpu Purwa tidak berada di rumah.
Ia berangkat sejak pagi, meninggalkan Dedes dengan tugas-tugasnya yang rutin. Ada umbi-umbian yang harus dipotong dan dicuci sebelum dijemur, kain‑kain yang harus dicuci dan digantung, serta dedaunan dan akar‑rimpang yang biasanya dipakai sebagai obat. Pekerjaan‑pekerjaan itu tak pernah selesai sepenuhnya; begitu satu selesai, yang lain menanti. Sebelum berangkat, Mpu Purwa hanya memberi tahu bahwa ia mungkin akan kembali menjelang sore.
Sebelum berangkat, Mpu Purwa hanya menyampaikan bahwa ia mungkin baru kembali menjelang senja. Dedes tak menanyakan ke mana ayahnya pergi. Ia sudah terbiasa ditinggal dalam beberapa waktu dan rumah mereka tidak pernah benar‑benar sunyi. Dari pepohonan di belakang terdengar kicau burung, aliran sungai mengalir tidak jauh, suara orang lewat jalan depan halaman, serta sesekali ada orang yang datang hendak meminta nasihat kepada ayahnya, dan ketika mendapati Mpu Purwa tak ada di tempat, mereka pun pergi. Rumah ini tidak pernah benar-benar sepi. Selama pintu rumah masih terbuka dan matahari belum terbenam, Dedes merasakan dunia tetap berada pada tempatnya.
Menjelang siang, sambil menumbuk dedaunan untuk dikeringkan, Dedes mendengar langkah kaki di halaman. Ia berhenti menunggu seseorang memanggil ayahnya, namun tak terdengar suara. Ia mengira pengunjung hanya akan menunggu sebentar, seperti tamu‑tamu lain yang pernah datang ketika Mpu Purwa tidak ada, namun rasa ingin tahunya mendorongnya keluar setelah beberapa saat.
Seorang pria berdiri di dekat pintu.Ia tak mengenalnya. Tubuh pria itu tegap, pakaiannya menunjukkan bahwa ia bukan orang biasa. Beberapa orang berdiri di belakangnya, sebagian membawa senjata, sementara seekor kuda diikat tidak jauh dari halaman. Pria itu menatap Dedes seolah‑olah sudah mengetahui bahwa seseorang akan keluar menemuinya.
"Di mana Mpu Purwa?" tanyanya.
"Pergi."
"Ke mana?"
Dedes menggeleng. "Saya tidak tahu."
"Kapan ia kembali?"
"Saya juga tidak tahu."
Pria itu memperhatikannya sejenak lalu menanyakan, "Siapa namamu?"
"Dedes."
Ia mengucapkannya seperti biasa. Nama itu belum menjadi sesuatu yang harus disembunyikan atau dibanggakan. Nama itu hanyalah nama yang diberikan ayahnya dan dipakai orang‑orang untuk memanggilnya.
Pria itu mengangguk.
"Aku Tunggul Ametung."
Dedes pernah mendengar nama itu.
Tunggul Ametung adalah orang yang berkuasa sebagai Akuwu di Tumapel.
Namun meski kalimat itu terbentuk, ia belum bisa menggambarkan wujudnya di dalam pikirannya. Ia hanya tahu bahwa sosok di depannya adalah orang berjabatan tinggi yang datang bersama pengawal bersenjata.
"Apakah ada urusan dengan ayahku?" tanyanya.
"Tidak."
Jawaban itu membuat Dedes bingung. Jika tidak ada urusan dengan ayahnya, mengapa ia datang?
Tunggul Ametung melangkah masuk ke halaman. Insting Dedes membuatnya mundur. Ia melihat para pengiringnya bergerak, lalu menatap jalan yang tiba‑tiba terasa lebih jauh daripada sebelumnya.
"Aku datang untuk membawamu ke Tumapel," kata Tunggul Ametung.