Empat Wajah Ken Dedes

Dedy Tri Riyadi
Chapter #3

Kutukan Mpu Purwa

Saat Mpu Purwa kembali ke rumah, matahari sudah mulai tenggelam ke barat. Ia melintasi jalan yang biasanya ia lalui, membawa beberapa ikat daun serta akar rimpang yang ia kumpulkan selama perjalanan. Dari jauh ia sudah dapat melihat kediaman mereka. Tidak ada yang berubah. Pohon‑pohon tetap berada di belakang rumah, asap tipis masih mengepul dari dapur, dan kain yang dijemur di halaman berayun perlahan ditiup angin.

Ia memanggil Dedes sebelum mencapai pintu.

“Dedes.”

Tidak ada jawaban. Ia memanggil lagi, kali ini sambil melangkah ke halaman. Masih tidak terdengar suara. Mpu Purwa mengira anaknya mungkin sedang ke sungai atau berada di belakang rumah. Ia menaruh ikatan daun yang dibawanya di dekat tiang, lalu masuk.

“Dedes?”

Rumah itu sepi.Barulah ia memperhatikan barang‑barang yang ditinggalkan anaknya.Umbi‑umbian yang sudah dicuci masih terletak di atas tampah, belum sempat dijemur. Beberapa kain yang baru dibilas masih basah dan tergeletak. Daun‑daun yang hendak dijadikan obat berada di dekat lesung; sebagian telah ditumbuk, sisanya belum disentuh. Tidak ada satu pun yang selesai. Semua tampak ditinggalkan di tengah proses, bukan sekadar ditunda untuk keesokan hari.

Mpu Purwa berdiri di tengah rumah. Ia menatap masing‑masing benda itu tanpa segera mengerti apa yang dilihatnya. Pekerjaan Dedes selalu berada di sana. Setiap hari ada kain, daun, akar, umbi, dan air. Selama bertahun‑tahun barang‑barang itu menjadi bagian dari rumah tanpa pernah menuntut perhatian. Hari ini, barang‑barang yang sama tiba‑tiba terasa seperti memberi isyarat bahwa anaknya telah pergi. Ia memanggil sekali lagi.

“Dedes.”

Kali ini suaranya lebih pelan. Tidak ada jawaban. Mpu Purwa keluar rumah. Ia menatap halaman, kemudian jalan di depan rumah. Dedes tidak terlihat. Ia berjalan ke belakang, memeriksa tempat Dedes biasa menjemur daun, lalu menuju sungai. Ia memanggil namanya berulang‑ulang sepanjang perjalanan, namun yang menjawab hanyalah suara aliran air dan kicauan burung yang terbang dari pepohonan. Saat ia kembali ke halaman, seorang pria yang sedang lewat berhenti menyapa. Mpu Purwa menahannya.

“Apakah Anda melihat Dedes?”

Pria itu tampak ragu sebelum menjawab, “Sejak pagi dia berada di rumah.”

“Setelah itu?”

Pria itu menunduk. “Saya melihat sebuah rombongan lewat.”

Mpu Purwa menatapnya.“Rombongan siapa?”

Lihat selengkapnya