Empat Wajah Ken Dedes

Dedy Tri Riyadi
Chapter #4

Rumah yang Bukan Rumah

Tumapel muncul setelah perjalanan panjang yang membuat tubuh Dedes terasa seperti bukan miliknya sendiri. Ketika kereta berhenti, ia tidak segera turun. Ia memandang tempat yang kelak akan disebut rumahnya, tetapi yang pertama kali dilihatnya bukan kemegahan atau kedudukan. Ia melihat halaman yang luas, beberapa bangunan dengan dinding yang lebih kokoh daripada rumah ayahnya, orang-orang yang berdiri menunggu, dan para penjaga yang membawa senjata. Semuanya menunjukkan bahwa tempat ini mempunyai aturan yang berbeda dari rumah kecil di kaki gunung yang selama ini dikenalnya.

Tunggul Ametung turun lebih dahulu. Ia berbicara dengan beberapa orang yang menyambutnya, kemudian menoleh kepada Dedes.

"Turunlah."

Dedes tidak bergerak. Seorang perempuan yang berdiri tidak jauh dari kereta maju beberapa langkah, tetapi berhenti sebelum mendekat. Ia memandang Dedes dengan rasa ingin tahu yang tidak disembunyikannya. Barangkali ia sudah mendengar bahwa Akuwu membawa seorang perempuan dari tempat lain. Barangkali ia juga sudah mendengar cerita tentang kecantikan perempuan itu dan tentang cahaya yang konon berada pada dirinya. Dedes tidak tahu. Dedes hanya tahu bahwa sejak meninggalkan rumah ayahnya, terlalu banyak mata telah memandangnya tanpa pernah bertanya apakah ia ingin dilihat.

Setelah terdiam cukup lama, akhirnya Dedes turun dari kereta kuda. Kakinya menyentuh tanah Tumapel untuk pertama kalinya. Ia berdiri sebentar, menunggu tubuhnya menyesuaikan diri dengan tempat yang belum dikenalnya. Di belakangnya kereta yang membawanya pergi dari rumah masih berada di halaman. Ia menoleh sekali, lalu cepat-cepat mengalihkan pandangan.

Tunggul Ametung melihatnya.

"Kau akan terbiasa."

Dedes tidak menjawab. Ia mengikuti perempuan yang ditunjuk untuk membawanya masuk. Perempuan itu tidak banyak bicara. Ia hanya menunjukkan kamar, tempat menyimpan pakaian, tempat mandi, dan ruang yang boleh digunakan Dedes. Semuanya lebih luas daripada yang dimilikinya di rumah ayahnya, tetapi Dedes tidak merasa lebih lega. Ruangan yang besar tidak membuat seseorang lebih bebas jika ia tidak dapat keluar darinya dengan kehendaknya sendiri.

Malam pertama di Tumapel, Dedes tidak tidur. Ia duduk di dekat jendela dan memandang halaman. Para penjaga bergantian berjalan mengelilingi bangunan. Sesekali terdengar suara orang berbicara dari tempat yang lebih jauh. Ada bunyi kuda, suara kayu dipukul, dan suara langkah kaki yang tidak dikenalnya. Di rumah ayahnya, malam mempunyai suara yang berbeda. Ia mengenal suara sungai. Ia mengenal suara angin yang melewati pepohonan. Ia mengenal suara ayahnya ketika batuk dari ruang sebelah. Di sini, setiap suara adalah suara orang lain.

Dedes menyentuh sisir kayu yang dibawanya dari rumah. Ia mengeluarkannya dari peti dan memandangnya di bawah cahaya lampu. Benda itu kecil dan tidak berharga bagi siapa pun selain dirinya. Namun ketika memegangnya, ia dapat membayangkan tangan ibunya. Ia dapat membayangkan rumah yang sudah ditinggalkannya, meskipun ia tahu bahwa membayangkan rumah tidak sama dengan kembali ke sana. Ia menyimpan sisir itu lagi.

Beberapa saat kemudian Tunggul Ametung masuk. Ia sudah berganti pakaian. Wajahnya tampak lebih santai daripada ketika berada di perjalanan. Ia duduk tidak jauh dari Dedes dan memandangnya.

"Kau belum tidur?"

Dedes menggeleng.

"Besok kau akan bertemu beberapa orang di rumah ini."

Dedes diam.

"Mereka perlu mengenalmu."

"Untuk apa?"

Tunggul Ametung tampak heran dengan pertanyaan itu.

"Karena kau adalah istriku."

Dedes menatapnya.

"Saya belum menjadi istrimu."

Tunggul Ametung tidak segera menjawab. Ia mungkin tidak menyangka Dedes akan mengatakan itu.

"Kau akan menjadi istriku."

Dedes memandang ke luar jendela. Ia sudah mendengar kalimat itu berkali-kali sejak meninggalkan rumahnya. Semakin sering mendengarnya, semakin asing pula kata itu terasa. Istri. Seolah-olah dengan mengucapkan satu kata, semua yang terjadi sebelumnya dapat dihapus. Seolah-olah penculikan menjadi perjalanan menuju perkawinan, ketakutan menjadi kegugupan, dan kehilangan rumah menjadi keberuntungan.

Tunggul Ametung berkata, "Aku tidak ingin kau hidup dalam ketakutan."

Dedes akhirnya menoleh.

"Saya takut sejak saya dibawa ke sini."

Lelaki itu diam.

"Saya tidak pernah mengatakan ingin datang."

Tunggul Ametung menghela napas. "Aku sudah mengatakan apa yang akan kuberikan kepadamu."

Dedes hampir tersenyum, tetapi tidak jadi. Itulah yang tidak dipahaminya dari lelaki itu. Tunggul Ametung berbicara seolah-olah semua yang diberikan seseorang dapat menggantikan sesuatu yang telah diambil darinya. Ia menawarkan rumah, pakaian, makanan, kedudukan, dan perlindungan. Ia mungkin mengira semua itu cukup untuk membuat seorang perempuan merasa beruntung. Dedes tidak tahu bagaimana menjelaskan bahwa yang hilang bukan benda-benda itu. Yang hilang adalah hak untuk memilih.

Tunggul Ametung akhirnya pergi.

Dedes tetap duduk di dekat jendela. Ia mencoba membayangkan hari esok. Mungkin ia akan belajar bagaimana hidup di tempat ini. Mungkin ia akan mengenal orang-orang yang tinggal di dalamnya. Mungkin pada suatu hari ia akan berhenti terkejut setiap kali mendengar langkah kaki di luar kamar. Mungkin manusia memang dapat terbiasa terhadap hampir segala sesuatu. Tetapi malam itu ia belum terbiasa. Ia masih Dedes yang kehilangan rumah.

---

Beberapa hari berselang, Tunggul Ametung datang dengan rencana yang sudah matang.

"Kau akan memiliki pesta pernikahan yang belum pernah dilihat Tumapel," katanya suatu pagi, ketika Dedes sedang menatap bunga kamboja yang baru mekar di halaman. "Tiga hari tiga malam. Gamelan dari desa-desa terdekat. Sesaji yang akan membuat para pendeta dari kerajaan lain iri."

Dedes menoleh. "Saya tidak meminta—"

"Aku yang meminta," sela Tunggul Ametung. Ia berlutut di sampingnya, sebuah gerakan yang terlihat rendah hati tetapi sebenarnya adalah penempatan posisi yang terhitung. "Kau datang ke sini dalam diam. Dalam kereta yang tertutup, seperti rahasia yang harus disembunyikan. Tetapi kau bukan rahasia, Dedes. Kau adalah jawaban."

"Jawaban atas apa?"

Lelaki itu tersenyum, senyum yang telah ia latih di depan cermin untuk menunjukkan kehangatan tanpa kelemahan. "Atas doa-doa yang belum terucap. Para petani menginginkan musim hujan yang tepat. Para pedagang menginginkan jalan yang aman. Para bangsawan menginginkan keturunan yang akan memimpin mereka kelak."

Ia meraih tangan Dedes, membaliknya sehingga telapak tangan yang pernah mengenal kerja keras itu menghadap ke atas.

"Mereka melihatmu," bisiknya. "Mereka melihat cahaya yang kau bawa. Dan mereka tahu—seperti yang kutahu—bahwa kau adalah yang terpilih untuk melahirkan masa depan."

Dedes ingin menarik tangannya, tetapi sesuatu di mata Tunggul Ametung menahannya. Bukan ancaman. Bukan paksaan. Tetapi janji yang begitu konkret sehingga terasa seperti tanggung jawab yang tiba-tiba menempel di pundaknya.

"Kau ingin membuat mereka percaya," kata Dedes. Bukan pertanyaan.

Lihat selengkapnya