Aroma melinjo yang disangrai selalu datang mendahului suara apa pun di rumah kami. Sebelum ayam jago milik pak Poh Lurah dan sebelum sepeda tuanya Lik Pomo berderak melewati gang, Simbok sudah duduk di teras dengan satu baskom besar. Baskom besar itu penuh dengan biji melinjo yang baru saja disangrai. Aromanya sedikit pahit, sedikit gosong dan seperti getah yang dipanggang. Aroma itu merambat masuk lewat jendela kamarku yang tak pernah benar-benar tertutup rapat.
Aku bangun bukan karenanya. Aku bangun karena tahu kalau aku tidak cepat-cepat bangun maka Darto dan Wage, dua sepupu laki-lakiku yang rumahnya hanya berjarak satu pekarangan, pasti akan menghabiskan semua melinjo yang ranum sebelum aku sempat ikut. Biasanya, kami memanjat pohon melinjo di belakang rumah pak Poh Lurah.
Rumah kami berdiri di desa Pagermlati yang tak jauh dari kantor kelurahan. Sebuah bangunan tua berdinding kayu. Atapnya selalu bocor di bagian sudut dapur ketika musim hujan datang.
Letak rumah kami di sana bukan karena kebetulan. Bapakku meski hanya seorang juru pengairan, pegawai negeri rendahan yang mengatur buka-tutup pintu air di sawah-sawah sekitar desa, adalah adik kandung Pak Lurah Pagermlati sendiri.
Itu artinya seluruh tanah di sekitar kelurahan, sejauh mata memandang, adalah milik keluarga besarnya bapakku. Dan rumah kami yang kecil ini yang berdiri di atasnya seperti tamu yang kebetulan diizinkan menetap.
“Sun! Ayo!”
Suara Darto sudah menggelegar dari balik pagar bambu memanggilku dengan nama panggilanku, Sun, kependekan dari Sundari.
“Cepat Sun! Nanti tidak kebagian!” teriaknya kembali.
Aku segera melompat dari tikar. Tidak peduli rambutku yang sebahu masih awut-awutan, aku menyambar kaos dan celana pendek yang tergantung di paku dinding. Kaos dan celana itu satu setel berwarna merah menyala gambar candi Borobudur. Sebulan yang lalu, aku dan dua sepupuku itu dibelikan satu setel kaos dan celana dengan warna yang berbeda oleh pak Poh Lurah. Katanya kepada kami, itu adalah oleh-oleh dari Borobudur.
Setelah mengganti baju, aku berlari keluar tanpa sempat cuci muka. Di teras, Simbok mendongak sebentar. Ia melihatku yang lewat dengan kecepatan seorang anak dikejar setan. Kemudian Simbok kembali menunduk ke baskomnya tanpa berkata apa-apa.
Begitulah Simbokku. Ia tidak pernah melarang juga tidak pernah memberiku omelan yang panjang. Cukup hanya dengan satu tatapan, aku tahu apa yang simbok pikirkan.
Jangan sampai jatuh dan jangan sampai bajuku menjadi kotor sehingga tidak bisa dicuci.
Pekarangan belakang rumah Pak Poh Lurah, yang juga paman kandungku sendiri, penuh pohon melinjo tua yang batangnya bisa dipeluk oleh anak seusiaku. Cabang-cabangnya menjorok rendah yang sepertinya memang diciptakan untuk dipanjat anak-anak semacam kami.
Darto sudah di berada di atas pohon. Lalu Wage mengikuti dari bawah. Aku yang satu-satunya anak perempuan di antara gerombolan sepupu laki-laki itu, memanjat dengan kecepatan yang sama. Kadang lebih cepat karena badanku kecil dan ringan sehingga bisa menyelip ke cabang-cabang yang tak sanggup menahan berat tubuh Darto yang lebih besar.