Jika ada yang bertanya apa yang paling jelas kuingat dari masa kecilku, maka jawabannya adalah tangan Simbok. Bukan wajahnya Simbok, bukan pula wajahnya Bapak.
Tangannya Simbok selalu bergerak. Tangannya tidak pernah benar-benar diam. Bahkan ketika saat sedang duduk mendengarkan orang bicara, tangannya tetap bergerak. Tangannya tetap mengupas, memipihkan, atau mengayak. Seolah jika berhenti bergerak, sama dengan membiarkan waktu terbuang sia-sia. Dan waktu adalah satu-satunya hal yang tak pernah cukup untuk Simbok miliki.
Simbokku bernama Wairah meskipun jarang sekali ada yang memanggilnya begitu. Bagi orang-orang yang tinggal di Pagermlati, Simbokku adalah bu Soedirjo. Istri dari pak Soedirjo, juru pengairan yang adiknya pak Lurah. Tapi bagiku, ia adalah Simbok, tanpa ada tambahan nama lain yang diperlukan.
Setiap hari berjalan dengan ritme yang sama. Subuh, sebelum azan dari musala kecil di ujung jalan yang menuju pasar desa terdengar, Simbok sudah bangun. Menyalakan tungku di dapur lalu merebus air untuk membuat kopi yang nanti akan dijual. Sebagian kecil dari usahanya yang tak pernah berhenti mencari cara untuk menambah sedikit demi sedikit uang.
Baru kemudian Simbok mulai dengan biji-biji melinjo tua yang sudah dipilah sejak malam sebelumnya. Simbok mengupas kulitnya satu demi satu dengan pisau kecil yang sangat tajam.
Pagi itu, aku duduk di sebelahnya Simbok. Seperti biasa mataku memandangi gerakan-gerakan tangan Simbok. Kadang, aku juga membantu mengupas beberapa biji melinjo sebelum berangkat ke sekolah. Ya, meskipun hasilnya tak sebagus punya Simbok.
Aku belajar banyak hal dari tangan Simbok sebelum aku belajar dari mulutnya. Simbok tidak banyak bicara. Kalimat-kalimatnya pendek, tanpa hiasan dan langsung pada intinya.
Tangannya Simbok bercerita lebih banyak tentang ketekunan. Tentang bagaimana sesuatu yang kecil dan keras seperti biji melinjo bisa berubah menjadi sesuatu yang renyah dan dihargai orang. Asalkan diberi waktu dan perlakuan yang tepat, ia akan menjadi sesuatu yang bernilai.
***
Proses membuat emping bukanlah pekerjaan yang bisa diselesaikan dalam sekali jalan. Setelah dikupas kulit luarnya, mengupasnya juga tidak asal-asalan, biji-biji itu disangrai hingga matang di atas wajan tanah. Wajan tanah yang sudah menghitam karena dipakai bertahun-tahun.
Simbok akan menyangrai biji melinjo itu hingga cangkangnya retak dan daging buahnya melunak. Tapi tidak sampai gosong. Lalu, satu per satu biji yang masih hangat itu diletakkan di atas batu landasan kecil dan dipukul dengan satu kali ketukan dari batu pemipih. Pekerjaan yang harus dilakukan selagi biji melinjo masih hangat. Bahkan cenderung masih panas. Jika terlambat, biji melinjo akan dingin. Begitu dingin, daging buahnya akan kembali keras dan sulit dipipihkan. Pada akhirnya pecah.
Setelah dipipihkan, emping-emping itu dijajarkan rapi di atas tampah bambu. Lalu dijemur di bawah matahari sampai benar-benar kering. Prosesnya bisa satu hari penuh kalau cuaca cerah, atau berhari-hari kalau langit Magetan sedang murung dan hujan datang tanpa permisi.
Simbok selalu menjadi gelisah ketika melihat awan kelabu mulai berkumpul di atas Gunung Lawu yang menjulang di kejauhan. Hujan yang turun tiba-tiba bisa merusak satu tampah penuh emping yang sudah setengah kering. Dan itu mengubah kerja keras berhari-hari menjadi sia-sia dalam hitungan menit!
"Segera buka payung yang di samping penyangga jemuran, nduk! Hujannya sudah mulai turun!”
Itu adalah seruan Simbok kepadaku setiap kali hujan mulai turun.
Simbok selalu menyuruhku segera membuka payung besar bekas yang sudah robek di beberapa bagian. Fungsinya sekarang beralih untuk melindungi tampah-tampah emping yang berjajar di halaman.
Suara ketukan tok, tok, tok, yang berirama seperti detak jam selalu mengisi setiap pagi di rumah kami. Aku sering memejamkan mata dan menghitung ketukan itu. Kemudian mencoba menebak sudah berapa banyak emping yang dihasilkan Simbok hanya dari suaranya saja.
Begitulah kehidupan kami yang mengikuti cuaca, mengikuti musim melinjo berbuah dan mengikuti permintaan pasar yang kadang ramai kadang sepi. Tapi Simbok tidak pernah mengeluh. Pada saat hasil panen melinjo sedang sedikit, ia akan mencari cara lain. Simbok akan membuat kerupuk dari beras atau menerima pesanan menganyam tampah dan tanggok dari tetangga yang membutuhkan.
Tangan Simbok seperti tak pernah benar-benar diam. Simbokku selalu menemukan sesuatu untuk dikerjakan. Seolah jika diam adalah suatu kesalahan yang mengerikan.