Enang

Syaripudin
Chapter #1

Dosa, Siksaan, dan Tulah Papa

Bersama Agus, Uyi, dan Cepot—aku membetot pohon singkong di kebun Mang Yoyo. Alasannya terlalu konyol, yaitu, cuma iseng karena kami bosan. Itu saja. Sambil menodongkan golok ke arah kami karena ketahuan membetot pohon singkongnya, Mang Yoyo mengejar kami. Saking takutnya ketangkap, seketika itu, kami berhamburan lari ke segala arah. Aku bisa membayangkan bila ketangkap Mang Yoyo, mungkin bisa jadi budak seumur hidup di kebunnya. Untungnya, dewi welas asih berpihak pada kami, tak seorang pun ketangkap. Karena kami menyuruk bersembunyi di semak-semak atau nangkring di atas pohon seperti binatang lemah yang takut dimangsa hewan predator. Sementara Mang Yoyo, ke sana ke mari mencari kami dengan wajah merah kaya pantat monyet, lalu mendengus kesal balik ke kebunnya tanpa tangkapan. Kemudian, setelah dirasa aman, satu-satu kami muncul, lalu cekikikan puas dengan wajah tak berdosa.

Sore harinya ketika aku pulang, dengan wajah seperti Rahwana yang sangat membenci Rama, bapak berdiri di depan pintu dengan menggenggam sapu lidi di tangannya. Kemudian tangan bapak yang besar melintir kerah baju lantas melemparkanku seperti membuang sampah, dan baru akan bangkit, bapak sudah menghujani sabetan sapu lidi ke tubuhku. Sial! Mang Yoyo, wadul! [1] Gumamku sambil menahan perih yang mulai merambat ke sekujur tubuh. Tetapi, Bapak terus menyabetiku seolah-olah aku kasur yang banyak tinggi [2]. Aku bilang alasanku mencuri singkong Mang Yoyo cuma karena iseng. Cuma dolanan bae, pak! Uwis ge! Sumpah ora pen nyolong maning![3] Dan sambil terus memukuliku bapak menyahut, “Iki ge bapak lagi dolanan!” [4]

Pernah juga ketika aku main enjot-enjotan batang mangga yang sedang berbunga di kebun mangga Aki Aming bersama Agus, Harjo, Uyi, dan Cepot, batang mangga itu patah karena terlalu keras kami menggenjotnya. Seketika itu, kami kabur tunggang langgang. Membiarkan batang mangga itu tergeletak begitu saja di tanah berhari-hari. Karena takut, selama beberapa hari juga kami menghidari bertemu Aki Aming. Lebih parah dari itu, aku pernah menyuruh sahabat-sahabatku menebang pohon pisang, lalu batangnya dijadikan getek [5] untuk mandi di kali. Melihat pohon pisangnya hilang dibabat, yang punya pohon, Mang Yoyo, murka kepada kami karena dia sudah tahu siapa lagi yang berani melakukan hal bodoh begitu kalau bukan kami, bocah-bocah degil. Dan sebagai hukumannya kami dijadikan budaknya; memacul tanah, menanam kembali pohon pisang, mencabuti rumput liar, dan memanen.

Lihat selengkapnya