——
Minggu pagi yang cerah. Aku, Agus, Harjo, Uyi, dan Cepot mengayuh sepeda kencang-kencang di jalan dusun. Duluan sampai di ujung jalan, dia yang menang. Sementara di ujung jalan, dengan wajah serius dan mata dibuka lebar-lebar, Aan sudah menunggu, petantang-petenteng1 kaya juri lomba balap motor sambil bertelanjang dada. Tidak ada alasan khusus kami balapan sepeda. Bagi orang dewasa yang hidupnya dengan kehati-hatian, apa yang kami lakukan ini konyol dan berbahaya, terlebih lagi karena dimainkan di jalanan dusun yang tak rata; banyak batu kali, potongan batu bata, dan genting di sana-sini yang mencuat tajam dan membuat siapa pun (khususnya orang yang dewasa yang menganggap dirinya waras mencemooh apa yang kami lakukan) bergidig ketakutan, ngeri jatuh dari sepeda lalu kepala terbentur pada salah batu bata yang tajam dan berdarah. Namun, bagi kami, bocah-bocah yang tak begitu paham hukum sebab-akibat, terjatuh dari sepeda dan berdarah karena luka tergores bukan suatu masalah besar. Dibiarkan saja sudah sembuh. Atau kami menempelkan daun pisang muda yang dikunyah dulu ke luka. Luka pun berhenti berdarah. Beres! Namun, kalau mendapatkan luka robek di dahi dan harus dibawa ke puskesmas untuk dijahit kami tidak berpikir sampai situ, sih! Di pikiran kami cuma melayang gambaran siapa duluan yang sampai di ujung jalan dusun—dialah pemenangnya. Itu saja. Dan bagi kami—waktu itu—itu hanyalah permainan yang seru, seru, dan seru yang bisa kami lakukan.
Karena tidak mau kalah dari Agus yang berkali-kali menang balapan sepeda, dengan sekuat tenaga aku mengayuh pedal sepeda ontel. Dan berhasil melaju jauh di depan. Meninggalkan Agus di urutan kedua; Cepot di urutan kedua dengan sepeda perempuan yang sama reotnya dengan sepeda Uyi dan yang paling belakang Harjo, dia nampak terengah-engah kehabisan napas dan tenaga mengayuh sepeda ontel. Aku bersorak kegirangan. “Wis pada nyerah bae! Kita sing menang kih!”2 teriakku, menoleh ke belakang sebentar, lihat Agus mengayuh sepedanya dengan wajah serius.
“Huu! Blikicot3!” teriakku menjatuhkan mental mereka. Karena saking senangnya, tahu-tahu sepedaku bergoyang, aku kehilangan keseimbangan. Dan… BRUAAKKK!!! sepedaku menubruk pagar bambu rumah Yu Sarni keras sekali. Sedangkan tubuhku melayang ke udara dan jatuh terlentang ke halamannya. Jantungku berdegup keras. Dadaku kembang-kempis cepat memompa udara. Sambil memandangi langit minggu pagi aku tetap terlentang di tanah. Di langit mengapung gumpalan awan putih mirip kapuk. Sesaat setelah terlihat dua ekor burung melintas di hadapanku, dengan pelan-pelan aku bangkit. Sejenak memerhatikan tangan, lengan, serta kaki. Tetap di tempatnya. Tidak ada yang bergeser sedikit pun. Juga tidak ada luka. Aku menghela napas panjang. Untung bae langka sing luka lan tugel.4 Ucapku dalam hati. Namun, saat hendak berdiri punggungku berdenyut nyeri dan kembali duduk. Lalu aku mencoba meregangkan punggung barang kali nyerinya hilang. Namun, malah nyeri itu makin terasa berdenyut-denyut. Aku putar tubuh ke kanan dan kiri dengan hati-hati sambil menahan nyeri. Terdengar bunyi kretek tulangku yang bergesekan. Dan anehnya, setelah itu, nyeri yang berdenyut-denyut lenyap begitu saja. Meski pun begitu, aku merasakan sesuatu yang lain, yang lebih mengancam serta lebih mengerikan dari luka yang berdarah-darah. Aku menoleh ke belakang, di samping rumah, Yu Sarni menatapku dengan tajam sembari memegang sapu lidi. Wajahnya ditekuk dan merah. Enteklah kita!5 Kataku dalam hati.
Yu Sarni berjalan mendekatiku. Aku terdiam. Tubuhku kaku tiba-tiba. Seolah-olah hal yang mengerikan mencekram tubuhku kuat-kuat. Lalu, Yu Sarni menarik kerah bajuku dan seketika itu tubuhku terangkat dengan mudah.
Di jalan, sahabat-sahabatku terdiam melihatku digeret Yu Sarni dengan wajah sendu.
Saat aku tiba di rumah sambil dijingjing6 mulut leher bajuku oleh Yu Sarni, bapakku yang tengah ngewedang7 segera bangkit dari amben8 dan berdiri menatapku dengan wajah mengkerut masam, lalu berkata, “Ai ngebut-ngebutan ning dalan. Baka ketabrak mobil kan modar!9” Aku menghirup udara perlahan lantas menyahut ucapan bapak, ya wis engko ning dalan10 tantangku. Yu Sarni menurunkan tangannya dan mengeplak kepalaku keras. Setelah itu, bapak menyuruhku masuk ke dalam rumah. Aku menyenderkan sepeda ke pohon rambutan yang kurus dan daunnya rontok, lalu bergegas masuk.